
PENGABDIAN tak selalu menjanjikan balasan yang bisa menjamin masa depan. Bagi atlet di Indonesia, pendapat seperti itu sering berubah menjadi fakta. Profesi atlet tak selalu menjanjikan masa depan yang cerah di hari tua. Totalitas perjuangan mereka untuk mengharumkan prestasi klub ataupun negara kadang hanya dibalas pujian sesaat. Ketika hari tua menjelang, jasa mereka terlupakan.
Sudah bukan hal aneh di negara ini, banyak mantan atlet berprestasi yang hidup susah, bahkan merayap di bawah garis kemiskinan dan tidak merasa bangga dengan apa yang pernah dibuatnya. Ternyata prestasinya tidak bisa menjamin kebutuhan hidup dan keluarganya. Ketika karier sudah meredup, perhatian pemerintah juga cenderung berkurang.
Usaha untuk bertahan hidup menjadi sulit karena semasa muda bekal pendidikan tidak dikecap akibat fokus berlatih. Akibatnya, banyak dari mereka yang harus rela menjadi tukang parkir, satpam, atau berjualan di sekitar arena olah raga untuk sekadar mengisi perut.
"Saya sering membaca berita, cukup banyak para atlet senior berprestasi yang telantar di masa tua. Mereka tak punya bekal pendidikan sehingga ketika tidak ada bantuan dari pemerintah, mereka sulit membiayai hidup. Saya tidak mau seperti itu. Mumpung masih muda, saya ingin sekolah sampai sarjana sambil berkarier sebagai pemain bola," kata gelandang serang Persib Bandung U-21, Munadi (20).
Tekad Munadi tinggal menunggu realisasi. Berkat bantuan beasiswa yang diberikan oleh Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Selasa (9/6), Munadi bersama sembilan belas rekan Persib U-21 lainnya bisa mengenyam pendidikan gratis untuk meraih gelar S-1 selama empat tahun pada program studi hukum.
"Program ini adalah kesempatan langka. Pendidikan sangat penting, tetapi juga mahal. Saya tidak akan selamanya menjadi pemain sepak bola. Suatu saat, saya akan berhenti dan membangun usaha untuk bertahan hidup. Pendidikan akan memberikan bekal berharga untuk itu semua," kata Munadi yang akan mulai menduduki bangku kuliah September nanti.
Pembantu Rektor II Uninus Bandung Gatot Yusuf Effendi mengatakan, program beasiswa ini memang diusahakan untuk diberikan secara berkesinambungan kepada para atlet berprestasi, bukan hanya kepada Yan Harjito dkk. yang menggodol peringkat ketiga Liga Super Indonesia U-21 2008-2009.
"Sebelumnya, kami memberikan beasiswa kepada para atlet secara individu. Akan tetapi, kali ini kami berikan untuk kelompok (20 orang Persib U-21). Mereka orang Sunda, masih muda, dan berprestasi. Kami ingin berperan dalam membangun pengetahuan dan jiwa entrepreneurship para atlet. Semoga bisa menjadi bekal bagi mereka di masa tua," ujar Gatot.
Tidak hanya di Bandung, program seperti ini diberikan oleh beberapa perguruan tinggi di berbagai daerah sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Hal ini tentunya adalah suatu usaha positif untuk menghapus stereotip kalau hidup atlet tidak terjamin di masa tua.
Dengan demikian, pernyataan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault yang meminta masyarakat tidak khawatir untuk menjadi atlet bisa menjadi kenyataan sebab atlet juga punya masa depan yang cerah. Salah satu upaya mewujudkan masa depan atlet adalah dengan cara memberikan beasiswa bagi para atlet berprestasi. Mereka bisa kuliah sebagai bekal di hari tua sehingga jangan sampai hidup telantar di masa tuanya. Semoga. (Arif Budi K./"PR")***
Sumber : pikiran-rakyat.com