skip to Main Content
Abah Muhlas Hasyim, Sungai Tenang Tak Bergelombang

Abah Muhlas Hasyim, Sungai Tenang Tak Bergelombang

“Braaak!”

 

Suara gebrakan meja di ruang kelas membuat suasana menjadi hening seketika. Dengan bahasa Arab yang tersusun amat rapi, enak didengar, dan mudah dimengerti, guru yang duduk menghadap murid-muridnya itu membenarkan bacaan saya yang keliru.

 

Kala itu mata pelajaran yang beliau ampu adalah Ushul Fiqh. Sesekali beliau juga jengkel dengan diktat pelajaran terbitan Kemenag yang bahasa Arab-nya ‘amburadul’ itu. Metode mengajar beliau di kelas juga belum pernah saya temui sebelumnya. Tiap pertemuan, ketika masuk kelas, guru satu ini hanya memulai dengan satu kata,

 

“Iqra….”

 

Maka tak selang lama, si murid yang kedapatan piket baca dan sudah mempersiapkan diri, akan membaca kitab yang digunakan untuk diktat pelajaran. Setelah dirasa cukup, beliau akan menjelaskan secara runut, gamblang, dan penuh referensi yang beliau hafal betul di luar kepala. Sesekali beliau melengkapi penjelasannya dengan menulis atau membuat bagan di papan tulis.

 

Dalam berbagai pengajian ataupun ketika mengajar di kelas, kita bisa menyimpulkan dengan mudah: Abah Muhlas adalah seorang ulama yang mumpuni. Hafalan Al-Qur’an, penguasaan tafsir, teori keislaman dari klasik sampai modern, termasuk tasawuf dan juga sejarah sangat beliau dalami dan kuasai dengan baik. Apalagi soal hukum Islam yang merupakan konsentrasinya saat kuliah di Mesir.

 

Tapi kalau diperhatikan, beliau ini bisa mengajarkan ilmu apa saja dengan penjelasan yang sama dalamnya. Termasuk saat beliau mengajar kitab Ihya karya Al-Ghazali. Referensi kitabnya juga sangat kaya. Sering beliau mengajar kitab-kitab karya ulama yang jarang bahkan tidak pernah diajarkan di pesantren pada umumnya.

 

Dengan segala kedalaman ilmu yang beliau kuasai, ketika berbicara tentang satu topik kegamaan, beliau bisa mengeluarkan pendapatnya pada porsi yang sangat pas dan tepat. Beliau sangat disiplin dan mengajarkan kedisiplinan dengan keras. Terutama di program Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK), satu-satunya kelas sekolah yang masih beliau ajar langsung.

 

Hal lain yang tidak bisa terlupakan adalah, beliau sangat bisa mengubah suasana dalam sekejap saja. Kondisi yang tadinya menegangkan bisa diubah menjadi riang dan gembira hanya dalam hitungan kata. Iya, beliau adalah Abah Muhlas, KH Muhlas Hasyim, MA, Pengasuh Pesantren Al-Hikmah 2, Brebes, Jawa Tengah.

 

Berbeda saat mengajar muridnya di MAK, ketika mengajar ibu-ibu atau bapak-bapak Desa Benda ngaji di Masjid An-Nur, Abah menggunakan bahasa kromo campur dengan bahasa Benda. Menggunakan ungkapan sehari-hari yang mudah dimengerti. Sesekali diselipi humor-humor segar yang diungkap dengan tepat.

 

Ngobrol dengan Abah tidak pernah membosankan. Abah selalu punya cerita yang belum pernah saya dengar atau tahu sebelumnya. Tentu saja selalu ada candaan-candaan yang bikin kita senang. Namun seperti tadi, jika pada momen tertentu beliau lihat langsung ada hal yang keliru, tak segan saat itu juga akan beliau luruskan. Barangkali beliau adalah praktik hidup dari ungkapan qulil haq walau kana murron. Sampaikan kebenaran meski pahit.

 

Pernah suatu peristiwa, Abah menyadari nilai kami di kelas tiga MAK jeblok semua. Abah langsung datang ke kamar kami dan memarahi kami sambil menyebut nama dan hal yang kami senangi satu persatu sebagai evaluasi. Itu yang bikin mengejutkan, beliau sangat sayang dan memperhatikan kami anak-anak didiknya.

 

Satu momen penting yang menunjukkan keluhuran pribadi Abah adalah saat mulai masuknya internet ke pesantren, yang tentu disambut dengan berbagai respons, terutama oleh para pengasuh Al-Hikmah 2 kala itu. Salah satu yang mendukung dan malah mendorong para santri untuk melek teknologi ini adalah Abah Muhlas.

 

Dulu pernah beberapa kali ngobrol dengan beliau soal usulan pemanfaatan internet di pesantren dan penggunaan teknologi, termasuk untuk mendigitalisasi ceramah dan pengajian yang Abah ampu, beliau sangat terbuka dan mendukung sepenuhnya. Sikap terbuka Abah akan hal baru yang bisa diambil kebaikannya ini tentu saja sangat sesuai dengan prinsip melestarikan hal-hal lama yang baik, dan mengadopsi perihal baru yang lebih baik.

 

Saya masih ingat pada satu Idul Adha, Abah pernah berkhutbah tentang sosok dan ungkapan Sayidina Ali bin Abi Thalib. Di pengujung khutbah beliau tak kuasa menahan isak haru akan sosok yang beliau kisahkan, begitu juga dengan saya. Namun, yang membuat saya terisak kagum bukan hanya sosok yang Abah ceritakan, tetapi karena hidup dan tauladan Abah sendiri.

 

Selepas bepergian ke negeri sebelah pada 2013 silam, saya punya foto istimewa bersama Abah di Genting Highland Malaysia. Saya sempat berujar pada diri saya sendiri, seandainya seluruh foto saya hilang, saya tidak akan kehilangan, asal saya masih punya foto ini. Sialnya Tuhan menguji saya betulan, tak selang lama harddisk saya kena virus dan semua datanya hilang.


Kini, yang tersisa hanya foto saya bersama Abah di Malaysia yang tidak sengaja pernah saya unggah di penyimpanan data online. Namun, saya tidak kuasa untuk melampirkan foto itu di sini. Di foto itu Abah masih terlihat segar dan muda. Foto itu membuat saya hari ini kembali berkaca-kaca, persis ketika saya dulu mendengar khutbah Abah Muhlas saat Idul Adha.

 

Sungai yang Tenang

Selama kuliah di Mesir Abah lumayan lama tinggal di Saudi untuk bekerja (tidak hanya musim haji saja), karena selama di Saudi Abah Muhlas pernah juga bekerja di restoran. Karena memang kuliah di Al-Azhar tidak mewajibkan mahasiswa untuk hadir setiap hari, hal itu Abah manfaatkan dengan sangat baik. Bagaimanapun juga, kecerdasan dan kuatnya hafalan Abah sudah masyhur sejak muda.

 

Saya kenal betul dengan saksi hidup yang menyaksikan ketekunan dan perjuangan Abah selama di Saudi. Karena kebetulan saksinya itu adalah almarhum bapak saya sendiri. Mungkin kisah ini jarang ada yang menceritakan.

 

Sejak sepulang dari Mesir, banyak sekali tawaran Abah untuk menjadi ‘pejabat’ ini itu. Apalagi sepulang dari Mesir bank syariah mulai populer di Indonesia. Abah dengan segala kedalaman ilmunya lulus S2 jurusan Ekonomi Islam dari salah satu kampus keislaman terbaik di dunia. Pantas saja jika jadi rebutan. Salah satu tawaran yang menggiurkan adalah menjadi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Muamalat.

 

Namun demikian, Abah menolak segala tawaran menggiurkan beserta popularitas yang akan beliau dapatkan. ‘Jalan ninja’ yang beliau pilih adalah sebagai khadim bagi ilmu dan umat. Mengajar dan mengabdikan diri untuk masyarakat di sebuah pesantren di desa yang asing bagi banyak orang.

 

Kesederhanaan beliau juga tercermin dalam berpakaian. Andalannya adalah sarung, baju koko dan peci hitam. Tidak pernah sekalipun beliau memakai jubah atau imamah, padahal lama tinggal di Timur Tengah. Pakaian sederhana itu juga yang beliau kenakan ketika menghadiri Konferensi Ulama Internasional di Malaysia.

 

Barangkali satu ungkapan yang tepat menggambarkan teladan dan hidup Abah adalah maqalah dalam Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari: “Tenggelamkanlah dirimu di tanah yang asing.”


Dengan segala kedalaman ilmu yang mengalir deras dalam diri Abah Muhlas, di permukaan beliau amat sangat terlihat tenang, sederhana, tanpa kontroversi. Persis seperti air sungai yang tak bergelombang di permukaan, namun di dalamnya ada arus air yang mengalir deras.

 

Saya masih belum percaya Abah harus pergi secepat ini.

*

M Farobi Afandi adalah santri Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 dan Pesantren Ciganjur.

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search