skip to Main Content
Aksi Teaterikal Santriwati Kenakan Baju Adat Meriahkan Hari Santri Di Pahuwato

Aksi Teaterikal Santriwati Kenakan Baju Adat Meriahkan Hari Santri di Pahuwato

Pahuwato, NU Online

Kemeriahan peringatan Hari Santri berlangsung di Pahuwato, Gorontalo, Kamis (22/10). Ketua GP Ansor Pohuwato, Abdullah Diko menceritakan terdapat satu sesi dalam apel Hari Santri yakni penampilan teaterikal pidato dengan tema Resolusi Jihad oleh santriwati yang mengenakan pakaian adat biliu.

Biliu biasanya dipakai perempuan Gorontalo memiliki banyak aksesoris hiasan pernak-pernik. Pada baju adat biliu terdapat delapan macam aksesoris, setiap aksesoris juga memiliki makna filosofis tersendiri. Masing-masing adalah baya lo boute merupakan sebuah ikat kepala yang dimaknai sebagai simbol ikatan pernikahan dengan pria dan dimaknai sebagai perempuan yang harus memenuhi kewajiban sebagai seorang istri.

 

“Tuhi-tuhi atau sebuah aksesoris kepala yang memiliki tujuh buah gafah yang memiliki simbol kekerabatan antara tujuh kerajaan besar di Gorontalo. Lai-lai adalah merupakan aksesoris yang dikenakan pada ubun-ubun kepala, lai-lai juga dimaknai sebagai budi luhur, kesucian dan keberanian seorang perempuan,” ujar Abdullah Diko.

Bouhu walu wawu dehu adalah kalung berwarna keemasan atau warna perak yang memiliki makna ikatan kekeluargaan yang akan terjalin antara pengantin pria dan wanita. Berikutnya, kecubu yakni aksesoris yang dimaknai sebagai kekuatan yang dimiliki seorang istri dalam menghadapi kehidupan. Aksesoris entango diartikan sebagai istri yang menjalankan syariat islam dan mempunyai sifat kesederhanaan.


Selanjutnya aksesoris pateda atau gelang berwarna keemasan diartikan sebagai benteng diri dan mengendalikan diri dari sifat-sifat tercela dan melanggar hukum adat. Terakhir, adalah loubu adalah aksesoris yang dikenakan pada jari kelingking dan dimaknai sebagai sebuah ketelitian yang harus diperhatikan oleh perempuan yang sudah menyandang status istri dalam setiap aktivitas.

 

“Hal ini nemiliki makna nilai-nilai islami yang diperoleh santri dalam pondok pesantren itu justru memperkuat nilai-nilai kebudayaan lokal. Juga ini memiliki makna perjuangan santri sejak dulu sampai dengan sekarang tetap konsisten turut serta memperkuat kerukanan antar umat beragama, suku dan budaya yang merupakan wujud dari Islam Nusantara,” ujar Abdullah Diko.


Pelaksanaan upacara Hari Santri diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Randangan juga dihadiri sejumlah tokoh. Di antaranya Kepala Kepolisian Resot Pohuwato, Dandim 1313 Pohuwato, Kementrian Agama Kabupaten Pohuwato, Pemerintah Daerah, Pimpinan Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) Marisa, Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, tokoh masyarakat lintas suku dan agama beserta seluruh santri di lingkungan Pondok Pesantren Salafiiyah Syafiiyah.


Di situasi  pendemi Covid-19 rangkaian kegiatan Hari santri tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. “Di Pahuwato rangkaian Hari Santri dimulai sejak tanggal 18 Oktober 2020 dengan berbagai macam kegiatan perlombaan oleh santri baik di  bidang keagamaan, olah raga dan kesenian. Puncak kegiatan HSN pada tanggal 22 Oktober berupa apel santri, kirab budaya, dan ditutup dengan pembacaan Shalawat Nariyah, Tibil Qulub dan doa tolak bala,” imbuhnya.

 

Bagi warga Pahuwato, makna penting dari peringatan Hari Santri SN tahun ini sebagaimana amanat PBNU adalah jika dahulu, fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari dimaksudkan untuk melawan kolonialisme dan penjajahan, maka jihad hari ini adalah bersatu melawan wabah agar kita semua diberi keselamatan dan kesehatan.

 

“Peringatan Hari Santri 2020 diharapkan mampu membangkitkan semangat pengabdian kaum santri untuk negeri menuju Indonesia yang kuat, berdaulat, dan segera diberi keselamatan dari pandemi Covid-19,” pungkas Diko.


Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Muchlishon

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search