skip to Main Content
Angga Ariansyah, Mahasiswa Uninus Dengan Gelar Best Goalkeeper Futsal

Angga Ariansyah, Mahasiswa Uninus dengan Gelar Best Goalkeeper Futsal

Bandung, Uninus.ac.id
Angga Ariansyah berhasil menjadi salah seorang yang mempersembahkan medali emas untuk kontingen Musi Banyuasin melalui cabang olahraga futsal pada Pekan Olahraga Provinsi Sumetara Selatan di OKU Raya yang berlangsung pada 21-28 November lalu.

Pada Porprov tersebut, Mahasiswa Prodi Pendidikan Masyarakat Universitas Islam Nusantara (Uninus) ini berperan sebagai penjaga gawang. Ia berhasil membawa timnya masuk ke final setelah 5 kali pertandingan. Lalu pada partai final, timnya berhasil mengalahkan kembali Muara Enim dengan skor akhir 5-3.

“Di fase grup, sempat ketemu dulu sama Muara Enim, skornya menang 7-0. Ketemu lagi di final, menang skornya 5-3,” katanya, Rabu (1/12/2021).

Angga bukan kelahiran Musi Banyuasin, melainkan Kota Bandung. Namun, karena keterampilannya sebagai penjaga gawang, ia menjadi pemain incaran para official untuk memperkuat timnya. Tercatat ia pernah memperkuat tim dari Maluku Utara dan Musi Banyuasin.

“Insyaallah tanggal 6 berangkat lagi ke Malang, kalau jadi karena ada rencana panggilan ke Sumatera lagi tanggal 20 buat main Liga Nusantara,” katanya.

Sebelum Covid-19, tiap Sabtu dan Minggu, Angga mesti dapat panggilan untuk memperkuat klub. Selama Covid-19 dan ada larangan untuk berkumpul, sempat terhenti beberapa bulan. Saat ini mulai kembali bergairah, dalam sebulan mendapat panggilan sekali atau dua kali.

Rutin berlatih dan jam terbang pertandingan itulah yang mengantarkan Angga sering meraih juara bersama timnya. Di samping itu, secara pribadi ia juga beberapa kali menjadi penjaga gawang terbaik.

“Lumayan banyak juga (ikut kejuaraan) tapi yang berkesan mungkin main pada Pasa Kota Bandung, AFP Jabar, Kejuaraan Nasional Piala Apa, Bandung Futsal League.

Mahasiswa semester 5 Prodi Pendidikan Masyarakat Uninus ini pernah dapat penghargaan best goal keeper pada kejurnas futsal Piala Apa 5 2019. Setahun kemudian, ia kembali mendapat gelar yang sama pada di turnamen futsal nasional Azag 2020.

Angga yang sekarang berusia 21 tahun ini masih terus berusaha untuk lebih baik lagi, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi untuk mencapai cita-citanya sebagai pemain futsal yang andal. Perjalanan kariernya masih cukup panjang. Oleh karena itu, ia terus berlatih, berlatih, dan terus berlatih.

“Intinya selalu semangat dan maksimalin setiap ada kesempatan, apalagi cita-cita kan kepengen bikin orang tua bahagia gitu karena kebukti juga alhamdulillah berkat futsal Angga bisa kuliah dan beasiswa di Uninus,” katanya, “Walaupun mama papa udah gaada, seengganya sebelum mama meninggal Angga udah buktiin bisa kuliah lewat futsal,” tambahnya.

Baginya, futsal adalah jalan hidup yang sangat menyenangkan, kegemaran yang sekaligus menghasilkan uang.

“Sangat cukup,” katanya ketika ditanya uang penghasilan dari futsal. Dengan uang itu dia bisa membantu keluarga, mentraktir teman-teman, dan membelikan sesuatu untuk keponakan-keponakannya. “Apalagi ponakan Angga juga lagi ada pengen beli sesuatu katanya, makannya selalu jadi motivasi juga karena Angga sayang banget sama ponakan Angga,” ungkap anak bungsu dari 3 bersaudara ini

Suka Futsal Sejak Kelas 3 SD
Angga menceritakan dirinya menyukai olahraga sejak kecil. Pada saat duduk di SD kelas 3 ia sering bermain sepak bola dan futsal bersama teman-temannya.

“Tapi waktu SD cuman futsal biasa aja,” katanya.

Artinya, pada waktu itu, dia dan teman-temannya bermain si kulit bundar berdasarkan bakat alam saja tanpa ada pelatih yang membimbing teori dan memandu praktiknya, serta posisi berubah-ubah.

Pada saat duduk di SMA, Angga mulai mendapatkan bimbingan dari seorang pelatih bernama Ade Putra. Saat itu Angga mulai memantapkan diri memilih palang pintu atau pertahanan terakhir yaitu sebagai penjaga gawang.

Angga tahu menjadi penjaga gawang memiliki tanggung jawab dan risiko yang besar. Kunci kemenangan ada di tangannya. Sebagus apa pun barisan belakang, tengah, dan penyerang, tanpa penjaga gawang yagn baik, sebuah tim akan timpang. Oleh karena itulah ia serius berlatih, berlatih, dan terus berlatih. Tak heran kemudian, ia menjadi penjaga gawang andalan dalam pertandingan kejuaraan.

“Kalo klub saya awalnya main di klub dari Maluku Utara, terus abis itu bisa main liga Bandung sama tim AP7 sampe sekarang ini,” katanya.

Sebagai seorang penjaga gawang, menurutnya pemuda dengan tinggi badan 175 cm dan berat badang 68kg ini, harus punya mental yang kuat dan konsisten selama pertandingan.

“Kalau jadi kiper itu mau seribu mau berapa pun penyelamatan, kalo melakukan sekali blunder bakalan disalahin juga. Nah itu dia fokus dan tenang, kalo aku sih sering kebiasaan senyum kalo lagi main,” ungkapnya.

Sebagai penjaga gawang, ia mengidolakan Tely Sarendra sebagai kiper timnas Indonesia dan Jesus Herrero, kiper Intermovistar di liga futsal Spanyol.

Sebagai mahasiswa Uninus, ia mengaku senagn kuliah di Jalan Soekarno Hatta Nomor 530 Bandung ini.

“Seneng banget, seneng juga dosennya ada yang suka soal bola, kaya Pak Maman; seneng sih Angga kuliah di sini, karena Angga juga jalur prestasi futsal, jadi merasa seneng aja futsal jalan, kuliah juga lancar,” tutupnya. (AA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search