skip to Main Content
Arti Penting Ijazah Kitab Dari Guru Bersanad Yang Terhubung Kepada Pengarangnya

Arti Penting Ijazah Kitab dari Guru Bersanad yang Terhubung kepada Pengarangnya

Bandung, Uninus.ac.id
Pesantren Mahasiswa Uninus mempertahankan tradisi ijazah sebuah kitab dengan sanad yang terpelihara dan terpercaya serta terhubung hingga pengarangnya. Seperti diketahui, pada hari Buku Internasional 23 April lalu, santri Pesantren Mahasiswa Uninus mendapatkan ijazah 2 kitab yaitu Arba’iin an-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi yang diijazahkan oleh Ustadz Alex Kusumardani Lc. dan Adab al ‘Aalim wa al Muta’allim karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang diijazahkan oleh Ustadz Royani.S.Hum., M.Pd.

Dosen Bahasa Arab Uninus lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir, Ustadz Mardi Hadi, Lc, S.S., M.Hum mengutip perkataan Ibnu Mubarok الإسناد من الدين لولا الإ لقال من شاء على ما شاء

Artinya, mengambil sanad atau berguru adalah bagian dari tradisi agama islam, kalau tanpa bersanad atau tanpa guru, dia akan berbicara semaunya.

“Keberkahan seseorang yang diijazahkan akan berbeda hasilnya dengan orang yang tidak bersanad,” lanjutnya beberapa waktu lalu.

Ia juga menukil pendapat mursyid Thoriqoh Asshidiqiyah Asyadziliyah dimesir Al Arif Billah, Al Habib Syeikh Prof Dr. Yusri Rusydi Al Jaber Al Hasani yang mengatakan, memahami sebuah teks dalam sebuah buku, bukan apa yang ada di dalam di buku, tapi pemahaman apa yang ada di dalam buku.

Salah seorang ustadz di Pesantren Mahasiswa Uninus, Ustadz Yasir Muhammad Sobari, S.Pd., menjelaskan pentingnya ijazah sebuah kitab, pertama, supaya ilmu para santri terhubung kepada Rasulullah.

Keterhubungan itu melalui jalur guru-guru yang mengijazahkan kitab yang terhubung sampai ke pengarang. Sementara para pengarang itu memiliki guru-guru yang terhubung kepada Rasulullah. Dengan jalur seperti itulah para penerima ijazah memiliki jaringan keilmuan yang terhubung pula kepada Rasulullah.

Yang kedua, para penerima ijazah itu ketika menjelaskan dan mengamalkan ilmu dari kitab yang dipelajarinya terpelihara kebenarannya.

“Kalau orang tidak punya guru yang bersanad kemungkinan besar akan memaknai sesuatu dengan pikirannya dan pengetahuannya,” ungkap pengampu tahfidz Alquran di Pesantren Mahsiswa Uninus ini.

Sementara prosesi ijazah kitab itu, menurut Ustadz Yasir para penerima dan pemberi ijazah melakukan doa bersama dengan bertawasul kepada para guru dan ulama-ulama dalam jejaring sanad kitab yang diijazahkan. Kemudian pemberi ijazah melafalkan shigat ijazah kepada para penerima.

“Para penerima ijazah kemudian mendapatkan syahadah setelah mengucapkan qabiltu (saya menerima ijazah tersebut, red.),” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top
×Close search
Search