skip to Main Content
Berbagai Kalangan Apresiasi Aksi Banser Yang Menceburkan Diri Ke Laut

Berbagai Kalangan Apresiasi Aksi Banser yang Menceburkan Diri ke Laut

Sumenep, NU Online

Salah satu fungsi utama Barisan Ansor Serbaguna (Banser) adalah mengawal ulama dan kiai. Selain itu, pengamanan sejumlah program NU di bidang keagamaan, kemanusiaan, dan sosial kemasyarakatan.

 

Seperti yang ditunjukkan Khairus Syamsi. Komandan Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser Manding, Sumenep, Jawa Timur tersebut rela menceburkan diri di laut. Hal itu dilakukan saat mengawal rombongan kiai dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep yang hendak menghadiri bahtsul masail di Desa Lombang, kepulauan Gili Raja, Kecamatan Giligenting, Ahad (8/11) lalu.

 

Yang dilakukan Khairus Syamsi adalah sigap melompat ke laut untuk mendorong perahu kecil yang ditumpangi rombongan. Karena saat itu, kendaraan air yang ditumpangi para pegiat bahtsul masail mogok terhalang batu karang di pelabuhan Gili Raja. Tak sampai di situ, kejadian serupa dilakukan kembali saat berada di pelabuhan Cangkarman, Desa Aeng Baja Kene, Kecamatan Bluto. Seragam kebesaran yang dikenakan basah hingga dua kali.

 

Rombongan bahtsul masail harus naik perahu kecil terlebih dahulu untuk menuju kapal utama yang akan menyeberang ke pulau Gili Raja. Kondisi kala itu air surut, kapal utama tidak bisa menepi ke dermaga sehingga menggunakan jalan alternatif lain untuk membawa penumpang yakni dengan kapal atau sampan kecil.

 

Bagi Khairus Syamsi, keberaniannya mendorong perahu tidak lain untuk memastikan keamanan dan keselamatan rombongan. Menurutnya, Banser yang terlatih akan selalu tanggap dan berdaya guna untuk mengawal kiai dan seluruh kegiatan NU.

 

“Apa pun rintangannya akan saya hadapi. Hal terpenting adalah seluruh rombongan di perahu kecil sampai ke kapal utama,” ujarnya saat dihubungi NU Online, Selasa (10/11).

 

Dirinya mengaku bahwa sebenarnya tenaga yang dimiliki kurang memadai untuk mendorong sendirian perahu yang terhalang batu karang, apalagi jumlah penumpang lumayan banyak. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya mengawal rombongan kiai.

 

“Sebenarnya kala itu kondisi fisik kurang fit, tapi saya jalani dengan senang hati. Karena tugas Banser selalu siap menjaga dan mengawal ulama kapan pun dibutuhkan,” ungkapnya.

 

Alumni Madrasah Aliyah Nurul Hidayah, Lajuk, Manding tersebut merasa tidak menyesal. Bahkan saat mendorong perahu kecil, kakinya sempat tertusuk karang. Hal tersebut tentu saja membuat dirinya merasakan nyeri di kaki

 

“Saya biarkan dan menikmati, walaupun kaki saya terasa sakit dan perih,” terangnya.

 

Setelah rombongan sampai ke perahu utama, serpihan atau potongan karang yang menusuk ke telapak kakinya barulah diambil. Hal tersebut tentu saja agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, apalagi menyebabkan luka serius.

 

Di luar itu semua, sebenarnya Khairus Syamsi memiliki tugas yang juga tidak kalah mulia, yakni menemani sang ayah yang sedang sakit. Namun ketika ada tugas kebanseran atau ngepam, dirinya selalu sigap dan berharap mendapat barakah muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama.

 

“Siapa tahu saat dekat dengan ulama, ayah saya diberikan kesembuhan oleh Allah SWT,” harapnya. Dan dirinya tidak mengharap apa-apa. Yang justru diharap adalah dari pengabdian tersebut sehingga bisa menjembatani kesembuhan sang ayah.

 

Yang juga menarik, pengalaman mengawal rombongan kiai dan pegiat bahtsul masail ke kepulauan ternyata merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya. Tentu saja hal itu akan dikenangnya sebagai bagian dari khidmah kepada jamiyah dan melayani kiai dan ulama.

 

“Pengalaman di dua pelabuhan tersebut menjadi sejarah, karena saya baru pertama kali menghadiri kegiatan di daerah kepulauan,” ungkapnya.

 

Diapresiasi Banyak Pihak

KH A Pandji Taufiq mengapresiasi Banser yang terus bergerak melayani masyarakat dan menjaga kiai. Ketua PCNU Sumenep menceritakan bahwa setiap tugas, Khairus Syamsi selalu menjalankan tanpa mengenal lelah dan bekal sekadarnya. Bahkan rela meninggalkan tugas di rumah demi mengawal kiai dan ulama.

 

“Semoga keluarganya senantiasa sehat dan dilimpahi rezeki yang halal,” harap Kiai Pandji.

 

Di kesempatan berbeda, A Nawfan Hammam juga menanggapi penuh haru yang dilakukan anggotanya tersebut. Bahwa aksi mendorong perahu dilakukan karena keterpanggilan nurani dan membuang jauh rasa gengsi. Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Sumenep tersebut mengimbau agar jangan pernah malu dan minder dalam berkhidmat di jamiyah.

 

“Ingat, motto Banser Sumenep adalah jadilah Banser yang berkhidmat dan bermanfaat,” pintanya.

 

Rahmat menjelaskan bahwa setelah datang dari kegiatan bahtsul masail, malam harinya Khairus Syamsi ngepam di acara maulid Nabi bersama Habib bin Abu Bakar Al-Muhdlor di Desa Giring, Manding. Pagi harinya mengawal kegiatan wisuda di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk hingga siang.

 

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Manding tersebut salut dan bangga. Karena Khairus Syamsi merupakan kader militan yang luar biasa pengabdiannya terhadap NU. Bahkan menunjukkan loyalitas dan kepedulian antarsesama.

 

“Walaupun memiliki beban yang berat, Khairus Syamsi memaksakan diri dekat dengan ulama. Semoga diberikan kemudahan,” pungkasnya.

 

Kontributor: Firdausi

Editor: Ibnu Nawawi


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search