skip to Main Content
Bina Insan Mulia, Contoh Sukses Kenalkan Pesantren Melalui Media Sosial

Bina Insan Mulia, Contoh Sukses Kenalkan Pesantren Melalui Media Sosial

Jakarta, NU Online

Terletak di sudut Kabupaten Cirebon dan tak terjangkau angkutan umum membuat pengenalan Pesantren Bina Insan Mulia ke publik tidak ringan. Meskipun begitu, hal demikian tidak membuat KH Imam Jazuli sebagai pengasuh patah arang. Setelah tujuh tahun, jumlah santri pesantren yang didirikannya itu kini sudah mencapai lebih dari 2.000 orang, dari awalnya hanya 36 saja. Mereka tidak saja berasal dari wilayah Jawa, melainkan dari Papua hingga Sumatera, seluruh Indonesia.

 

Keberhasilannya tersebut diupayakan melalui media sosial, sebuah sarana untuk mengenalkan pesantrennya secara lebih luas ke khalayak.

 

“Saya membuka Media Center Pesantren, satu tim khusus yang membidangi bidang media, yang mengkomunikasikan pihak pesantren dengan wali santri ataupun dengan pihak publik di mana konten yang disiapkan ada bentuk narasi foto video yang isinya adalah hal-hal yang kegiatan tentang pesantren,” katanya saat menjadi narasumber pada Muktamar Pemikiran Santri Nusantara, Jumat (9/10).

 

Keputusannya untuk memilih media sosial sebagai basis pengenalannya itu bukan tiba-tiba. Pada mulanya ketika pertama kali pesantren tersebut berdiri pada tahun 2013, ia mengenalkannya melalui stasiun televisi yang dibuatnya mandiri.

 

“Ketika kita mendirikan pesantren tahun 2013, saya pertama mendirikan stasiun televisi. Tujuannya itu tadi dakwah digital yang pertama dan yang kedua bagaimana mengenalkan Pesantren kepada wilayah sekitar paling tidak,” ujar kiai yang menamatkan studi sarjananya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu.

 

Namun, televisi tersebut hanya bertahan enam bulan saja. Pasalnya, pembuatan kontennya yang cukup berat dan memakan ongkos yang banyak, tetapi jangkauannya tidak seberapa dan timbal baliknya juga tidak sebanding mengingat penontonnya yang sedikit.

 

Oleh karena itu, media sosial menjadi satu pilihan yang paling logis bagi Kiai Imam Jazuli, mengingat jangkauannya yang sangat luas dengan timbal balik yang cukup baik.

 

Baginya, tantangan saat ini adalah bagaimana ia menerima para santri mengingat dalam jangka dua bulan pembukaan pendaftaran pesantren selepas tahun ajaran baru dimulai sudah masuk ratusan pendaftar. Akhir Oktober ini, katanya, pendaftaran santri untuk tahun ajaran 2021 sudah ditutup.

 

“Jadi sekarang kita menghadapi tantangan yang berat Bagaimana cara menerima kalau dulu bagaimana cara mengenalkan dan mereka sudah memilih maka di awal ajaran baru santri akan masuk untuk tahun depannya sudah penuh. Mungkin dua minggu lagi kita sudah full karena sudah mendaftar ada 600 pendaftar,” ujarnya.

 

Pesantren, lanjutnya, ternyata tidak sanggup menghadapi efek dari media sosial, dalam arti tidak sanggup untuk menerima semua pendaftar sehingga harus dibatasi.

 

Tantangan lainnya adalah harus terus-menerus membangun mengingat santri tidak pernah berhenti berdatangan, bahkan kian banyak pendaftarnya. Apalagi Pesantren Bina Insan Mulia menegaskan untuk mandiri.

 

“Kita tidak menerima bantuan infaq, shodaqoh, wakaf dari wali santri, siapa pun, kita belajar untuk mandiri. Jadi tantangannya bagaimana dengan kemandirian kita ini bisa mencukupi perkembangan santri itu yang saya sampaikan,” katanya.

 

Media sosial mudahkan pengenalan

    

Menurutnya, media sosial sangat memudahkan pengenalan pesantren ke masyarakat sehingga ia belum pernah membuat brosur atau banner untuk dipasang di jalan-jalan, hanya menggunakan media sosial saja. Meskipun demikian, dampaknya lebih dahsyat bukan hanya dari keunggulan dari angka jumlahnya, melainkan juga persebarannya.

 

“Setelah kita survei, kita cek, hampir 95 persen yang mendaftarkan ke Pesantren Bina Insan Mulia ini, mereka mendapatkan informasinya dari media sosial. Sisanya itu mendapat informasi dari wali santri lain,” jelas kiai alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur itu.

 

Media sosial ini kepentingannya bukan hanya dalam rangka menginformasikan tentang pesantren, tetapi juga dalam manajemen pesantren. Sebab, Pesantren Bina Insan Mulia menggunakan informasi teknologi dalam sistem keuangan, sistem tabungan, dan sebagainya.

 

“Kita sudah connecting antara pesantren dengan wali santri. Setiap anak-anak itu, orangtua mentransfer otomatis dia ada konfirmasi melalui WA melalui SMS, bikin pola mereka ambil tabungan langsung konfirmasi,” terangnya.

 

Dengan begitu, mereka mengetahui isi tabungannya berapa. Dari situlah, pesantren ini sangat terbuka dengan berbagai informasi teknologi.

 

Bahkan, Kiai Imam meletakkan TV di setiap kamar pesantren tersebut sebagai hiburan dan media pembelajaran. “Jadi, saya berpikir bahwa sesuatu yang sudah semestinya pesantren-pesantren di Indonesia menggunakan media teknologi informasi ini sebagai salah satu jalan untuk pengembangan pondok pesantren,” tegasnya.

 

Unik dan prestasi

Penggunaan media sosial saja tidak cukup dalam mengenalkan pesantren. Hal di balik itu adalah konten yang disajikannya. Pesantren Bina Insan Mulia ini dengan karakteristik yang cukup berbeda dengan yang lain.

 

Dari sisi kurikulum, Kiai Imam menggabungkan beragam keunggulan pesantren-pesantren lain menjadi satu. Dari sisi ekstrakurikuler dan keorganisasian dari Gontor, tahsin Al-Qur’an mengikuti Qiraati, tahfid Al-Qur’an menggunakan metode enam bulan, bahasa Arab menggunakan metode Amtsilati, dalam bahasa Inggris mengunduh aplikasi Pare.

 

“Ini kita ramu menjadi program pesantren. Tentu perbedaannya sekolah dan pesantren itu integratif. Jadi, sekolah hanya mempelajari UN saja,” katanya.

 

Hal tersebut, katanya, diperoleh dari pengalamannya saat menjadi Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) 2010-2015. “Dari sana (RMI PBNU), saya banyak berkunjung ke berbagai pesantren dengan berbagai model dan tipe yang membuat ketertarikan saya untuk mendirikan pesantren tentu dengan pengalaman yang saya tahu dari pesantren,” ujarnya.

 

Kiai Imam menawarkan prestasi-prestasi yang diraih para santrinya sebagai bentuk promosi pesantrennya. Ia merasakan kegelisahan akan kepantasan dalam menunjukkan keunggulan tersebut mengingat bukan menjadi budaya kaum santri. Tetapi, menurutnya, pesantren baru perlu dikenalkan dengan hal tersebut.

 

“Saya lakukan ini tanpa memerlukan respon orang Bagaimana caranya memperkenalkan pesan ke publik lalu Bagaimana hasilnya,” pungkas kiai yang menamatkan studi masternya di Malaysia itu.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search