skip to Main Content
Cara NU Jombang Jaga Sanad Keilmuan Ulama

Cara NU Jombang Jaga Sanad Keilmuan Ulama

Jombang, NU Online

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur terhitung sudah ketiga kalinya menggelar khataman kitab Shahih Bukhari. Kegiatan ini dimotori langsung oleh kiai-kiai sepuh NU yang memegang sanad Shahih Bukhari hingga ke Khadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari dan diikuti pengurus NU serta elemen pesantren.


“Tradisi sesepuh ini (khataman kitab Shahih Bukhari) jangan sampai ditinggalkan,” kata Rais Syuriyah PCNU Jombang, KH Abd Nashir Fattah di Pondok Pesantren Tarbiyarunnasyiin, Paculgowang, Kecamatan Diwek, Jombang sebagai tempat kegiatan ini digelar, Senin malam (16/11).


Menurutnya, pesantren-pesantren yang berada di Jombang mayoritas memiliki relasi yang kuat dari sisi keilmuan. Para sesepuh atau pendiri pesantren di Jombang bila ditelusuri lebih jauh sanad keilmuannya, maka akan ketemu dengan guru-guru yang sama atau seirama.


“Pondok pesantren di Kabupaten Jombang ini terjalin satu alaqah bathiniyah (hubungan batin yang kuat) yang terajut dengan tali hubung keilmuan dari masyayikh pendahulu,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang ini.


Pada kesempatan ini Kiai Nashir juga mengijazahkan sanad hadits musalsal dan sanad kitab Hadits Shahih Bukhari. Ijazah sanad tersebut diperoleh Kiai Nashir dari guru-gurunya, di antaranya Sayyid Ismail bin Zein Al Yamani, Syaikh Yasin bin Isa Al Fadani, Sayyid Muhammad Al Makky dan beberapa masyayikh yang bersandar kepada Khadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng dari Syekh Mahfudz Atturmusyi.


Sementara itu, Wakil Syuriyah PCNU Jombang, Kiai M Shaleh mengemukakan, kegiatan ini adalah upaya untuk merawat tradisi ulama pendahulu dalam memegang sanad-sanad keilmuan yang diberikan oleh guru-gurunya.


Hal ini penting karena menurutnya kualitas keilmuan seseorang (murid) sangat dipengaruhi oleh guru-gurunya yang memiliki sanad yang kuat.


Dawuh Rais Syuriyah PCNU ini sungguh benar (khataman kitab Shahih Bukhari jangan sampai ditinggalkan). Karena kualitas ilmu seseorang sangat dipengaruhi oleh guru,” tuturnya.


Ia mencontohkan salah satu ulama dahulu namanya Syekh Zainudin Almalibari bahwa ia seringkali mengutip fatwa gurunya yaitu Ibnu Hajar Al-Haitami dalam merespons suatu masalah tanpa sanggahan, meskipun ia juga mengutip pendapat ulama lain dalam masalah tersebut.


“Hal ini juga sering dilakukan para guru saya Almarhum Mbah Yai Junaid dalam memaknai teks kitab selalu merujuk pada gurunya Almagfurlah Mbah Yai Zubair (ayah Mbah Maimoen Zubair),” ungkapnya.


Di akhir acara, dilakukan juga ijazah sanad kitab hadits Shahih Bukhari dari KH Ahmad Taufiqurrohman Mukhith Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang yang juga Musytasar PCNU Kabupaten Jombang. Sanad yang diijazahkannya bersumber dari guru-gurunya antara lain KH. Mahfudz Anwar Seblak dan masyayikh lainnya yang bersumber dari Khadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari.


Pewarta: Syamsul Arifin

Editor:Muhammad Faizin


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search