skip to Main Content
Diperlukan Perubahan Paradigma Tentang Pentingnya Kesehatan Pesantren

Diperlukan Perubahan Paradigma tentang Pentingnya Kesehatan Pesantren

Malang, NU Online

Berbicara tentang Nahdlatul Ulama (NU), harus disadari bahwa pesantren menjadi tulang punggungnya. Karena itu jika pesantren menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19, sama artinya ada ancaman bagi NU.

 

Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin menyampaikan hal itu saat mengisi webinar Mengenal Lebih Dekat SalamDoc Telemedicine Berbayar Fatihah Sabtu (14/11).


“Kita menyadari bahwa kesehatan santri menentukan NU dan masa depan NU. Maka ini (wabah Covid-19) termasuk tantangan,” kata Gus Rozin.

 

Menurutnya, pesantren tidak bisa lengah. Wabah Covid-19 nyatanya berdampak bagi semua bidang dan semua pihak. Di komunitas pesantren beberapa waktu lalu ada ustad dan kiai yang meninggal karena Covid-19 maupun penyakit sertaan.

 

“Karena di pesantren kiai atau guru adalah yang mengisi spiritual dan hubungan keilmuan, wafatnya mereka adalah kehilangan yang sangat besar dan tidak ternilai harganya. Untuk mencetak para dokter butuh waktu yang sangat lama, begitu juga mencetak para kiai butuh waktu lama,” kata Gus Rozin.


Ia meminta para peserta untuk memahami lalu memahamkan orang di sekitarnya agar tidak menyepelekan penyakit, karena ini sungguh bukan hal sederhana. Ia mengajak para kiai untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan dan apa yang ditimbulkan jika tidak menerapkan pola hidup sehat.

​​​​​​​

Persoalan kesehatan sendiri, bagi NU dan pesantren jadi satu hal penting di luar pendidikan dan ekonomi. Kesehatan bahkan menjadi paling mendasar. Persoalan kesehatan bagi pesantren, menurut Gus Rozin bukan tidak bisa diatasi. Jika ada tantangan itu lebih karena paradigma.


“Itu (persoalan kesehatan pesantren) hanya teknikal. Keterbatasan ini selesai secara perlahan. Misalnya asupan nutrisi yang tidak tercapai bukan karena tidak mampu tapi yang masih menjadi problem pesantren tidak mampu karena paradigmanya. Sebagian besar terkait kesehatan seperti sanitasi, nutrisi ini hal-hal yang dianggap belum utama,” kata Gus Rozin.

 

Sebab itu,​​​​​ perlu dilakukan perubahan paradigma. Berangkat dari diri sendiri, fasilitasi dilakukan dengan benar. Juga hidup lebih bersih dengan standar yang benar, bukan besar. RMINU dan semua pihak harus tahu apa yang dibutuhkan santri dan pesantren. 

 

Webinar berlangsung dua hari, yakni Sabtu dan Ahad, 14-15 November 2020. Selain Gus Rozin, webinar menghadirkan dr Heri Munajib dan pembuat aplikasi SalamDoc, Abdullah Soedarmo. Webina diikuti perwakilan pesantren dan para relawan Satgas NU Peduli Covid-19. SalamDoc adalah aplikasi konsultasi gratis terkait kesehatan untuk santri.

 

Kontributor: Dhuhru Rena Mumpuni Putri

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search