skip to Main Content
Giatkan Literasi, Pemuda NU Bekasi Hasilkan 3 Buku

Giatkan Literasi, Pemuda NU Bekasi Hasilkan 3 Buku

Jakarta, NU Online

Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) asal Bekasi, Jawa Barat, Ardiyansyah peduli terhadap literasi yang dinilainya sangat kurang diminati oleh pemuda-pemuda saat ini. Beberapa kali, di Bekasi, ia menggiatkan gerakan literasi untuk meningkatkan minat membaca bagi para pemuda.

 

Bahkan dari gerakan literasi itu, ia kini telah menelurkan karya tiga buku yakni Islam itu Ramah bukan Marah, Islam Berdialog dengan Zaman, dan Membela Islam dengan Cinta. Ia mengaku khawatir dengan pemuda saat ini soal budaya literasi di tengah menjamurnya media online. 

 

Buku-buku yang dilahirkannya itu menjadi jawaban atas beberapa hal yang ia temukan berbagai informasi hoaks atau kesimpangsiuran kabar mengenai Islam. Menurutnya, banyak pemuda yang membaca secara online sehingga tak jarang terpapar virus hoaks.

 

“Makanya itulah kenapa saya menulis buku (tujuannya) untuk memberikan informasi secara utuh tentang selama ini yang sering disalahpahami atau yang oleh kebanyakan orang tidak dapat secara utuh,” jelas Ardi, sapaan akrabnya kepada NU Online, pada Rabu (28/10).

 

Buku pertama, Islam itu Ramah bukan Marah

Ia menjelaskan bahwa buku pertamanya, Islam itu Ramah bukan Marah, dibuat dan diterbitkan pada 2017 saat sedang marak kasus Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang oleh sebagian umat Islam dianggap telah menista Islam karena menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51.

 

Namun, lanjut Ardi, sekalipun Ahok dianggap salah maka harus tetap mengutamakan keramahan dalam mengingatkan. Terlebih misalnya, di dalam persidangan ketika itu, Ahok berkali-kali menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk menghina dan menista Islam.

 

“Tetapi penafsiran-penafsiran di luar menganggap bahwa Ahok menghina Islam. Oke kalau dianggap Ahok telah menghina Islam, maka cukup dengan mengingatkan dengan kelembutan dan keramahan,” ungkap Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Tambun Utara, Bekasi, Jawa Barat ini.

 

Karena baginya, apabila di dalam satu masalah terjadi perbedaan pendapat maka yang harus dikedepankan adalah musyawarah. Itulah gagasan yang ia kemukakan di dalam buku Islam itu Ramah bukan Marah.

 

“Jadi sebenarnya buku pertama saya itu merupakan bentuk tabarukan dengan pernyataan Gus Dur, bahwa kita ini butuh Islam ramah bukan Islam marah,” jelas Ardi, alumnus Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

 

Buku kedua, Islam Berdialog dengan Zaman

Selanjutnya, di buku kedua yang berjudul Islam Berdialog dengan Zaman, ia bermaksud untuk menyampaikan bahwa Islam senantiasa mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi di dunia. Ia mengambil contoh, yang dijadikan pembahasan di dalam buku tersebut, adalah tentang nasionalisme.

 

Pada mulanya, terang Ardi, konsep atau istilah nasionalisme atau nation-state (negara-bangsa) memang diperkenalkan oleh Barat. Sementara Islam tidak punya konsep negara bangsa waktu itu. Sebab, politik Islam ketika itu adalah politik tanah dan politik kekuasaan.

 

“Artinya, (politik Islam zaman dulu mengajarkan) bahwa wilayah orang lain bisa diambil alih secara paksa tergantung kekuatan. Siapa yang kuat maka dia bisa berkuasa,” terang salah pengajar di Pesantren Motivasi Indonesia Bekasi ini.

 

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pasca-perang dunia, negara-negara di dunia menginginkan sebuah kemerdekaan dan akhirnya dibuatlah konsep negara-bangsa itu. Oleh karena itu, sebenarnya istilah negara bangsa adalah hal baru dalam dunia Islam.

 

“Mungkin ada yang mengatakan bahwa konsep negara-bangsa yang memiliki batas teritorial sudah dilakukan sejak Nabi Muhammad. Ya memang, pada waktu itu (Madinah) sudah memenuhi kriteria sebagai negara. Tapi secara teritorial kan masih abstrak, belum ada batasan wilayah yang paten,” jelas Ardi.

 

Akhirnya, seiring perkembangan zaman, Islam melalui ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah, terutama para kiai dari kalangan NU mencoba memadukan rasa nasionalisme (cinta tanah air) dan rasa keagamaan.

 

“Jadi dipadu-padankan antara semangat membela agama dan membela tanah air. Apa pun masalah-masalah baru yang ada di dalam perkembangan zaman, Islam selalu hadir menawarkan solusi dan menjadikan satu masalah terang-benderang,” tutur Ardi.

 

“Semua masalah yang rumit dijadikan oleh Islam sebagai sebuah hal yang dapat dengan mudah diterima masyarakat,” imbuhnya.

 

Apa bedanya dengan Hizbut Tahrir yang menganggap bahwa Islam adalah solusi peradaban sehingga harus ditegakkan sistem Islam berupa kekhilafahan?

 

Menurut Ardi, Islam sebagai solusi peradaban yang dituangkan di dalam buku keduanya itu adalah Islam yang akomodatif. Artinya, Islam harus mengikuti zaman. Berbeda dengan konsep Hizbut Tahrir yang mengharuskan perubahan zaman untuk mengikuti Islam.

 

Ia mencontohkan, saat ini sudah zamannya negara-bangsa. Islam, katanya, harus mengikuti perubahan zaman dan hadir untuk memberikan warna soal berbagai penafsiran mengenai negara-bangsa itu. 

 

Sementara Hizbut Tahrir masih menolak hal tersebut dan menganggap bahwa demokrasi adalah barang yang dihasilkan dari Eropa untuk merusak umat Islam. 

 

“Mungkin dia (Hizbut Tahrir) lupa bahwa pada zaman Dinasti Abbasiyah saja sudah terjadi banyak perpecahan sehingga melahirkan kesultanan-kesultanan kecil seperti Fathimiyah, Ayyubi, dan Mamluk,” jelas Ardi.

 

Sedangkan ulama-ulama di Indonesia pasca-perang dunia kedua, lanjutnya, menerima konsep negara-bangsa karena dinilai bisa lebih fokus untuk mengatur wilayahnya sendiri-sendiri lantaran memiliki batas-batas teritorial.

 

“Nah, Hizbut Tahrir itu ingin menarik kembali sehingga zaman harus mengikuti Islam. Dalam pengertian zaman yang mengikuti Islam era klasik, bukan pemahaman Islamnya. Tapi sistem era klasiknya,” ungkap Ardi.

 

Buku ketiga, Membela Islam dengan Cinta

Buku ketiga, Membela Islam dengan Cinta, dilahirkan saat muncul fenomena sebagian umat Islam yang mengeluarkan jargon bela Islam, bela ulama, dan bela agama tapi tidak dibarengi dengan akhlak serta perilaku yang baik lantaran dilakukan seraya melontarkan kata-kata kasar, caci-maki, dan bahkan kekerasan.

 

“Saya sendiri mengambil dari konsep ulama yang menghadirkan cinta-kasih dalam berdakwah, bahkan terhadap ahli maksiat mereka (para ulama) tetap mengedepankan sikap rahmah (kasih sayang),” ucap Ardi. 

 

Ketika seseorang sudah tersentuh hatinya karena berdakwah dengan cinta, maka yang terjadi adalah orang lain itu akan melihat Islam sebagai satu jalan ketenangan karena dibawa oleh orang-orang yang mengedepankan cinta, rahmah, dan kepedulian.

 

Sebenarnya secara tidak langsung, menurut Ardi, para ulama-ulama terdahulu terutama kiai-kiai NU telah membela Islam dengan cara-cara yang baik dan dibarengi dengan perilaku yang santun penuh cinta.

 

Di dalam buku itu, katanya, terdapat kisah-kisah inspiratif. Salah satunya adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berjuang untuk membela minoritas sehingga orang-orang non-Muslim merasa nyaman dan tenteram dengan Islam.

 

Ketika umat Islam yang lain sibuk membela Islam dengan kekerasan, justru Gus Dur hadir dengan penuh kehangatan dan cinta-kasih. Sebab, non-Muslim tidak pernah melihat dan membaca kitab suci kita, karena yang dilihatnya adalah perilaku umat Islam.

 

Di buku itu juga, terang Ardi, ditulis soal konsep tasawuf yang membela Islam dengan cinta. Misalnya, saat Islam disebarkan di Indonesia. Cara dakwah para wali ketika itu menyentuh hati masyarakat terlebih dulu dengan tasawuf.

 

“Ketika masyarakat sudah terikat hatinya dengan para ulama karena cara dakwah yang mendepankan cinta, barulah ulama-ulama kita mendirikan pesantren dan masuklah anak-anak Indonesia yang baru masuk Islam itu disekolahkan di pesantren. Kemudian di situ mereka diajarkan fiqih,” katanya.

 

Pesan dan harapan untuk pemuda

Menurut Ardi, ada satu hal yang parah akhir-akhir ini yakni budaya rendahnya minat baca sekaligus meningkatnya minat berkomentar. Di dalam merayakan Sumpah Pemuda, ia mengingatkan bahwa para pemuda sebenarnya sudah disumpah untuk menjaga negeri ini.

 

Untuk mampu menjaga negeri ini dari berbagai ancaman dan marabahaya, pemuda diharapkan agar mampu membaca apa pun sehingga dapat mendeteksi potensi kerusakan persatuan, baik dari internal maupun eksternal.

 

Strategi sebagai pemuda untuk terus memajukan bangsa di tengah kemajuan era teknologi harus bermodalkan dengan membaca. Menurutnya, hal yang akan terjadi ketika pemuda sudah malas membaca adalah kebingungan untuk melakukan sesuatu apa dalam berperan untuk bangsa.

 

Ia berpesan kepada seluruh pemuda di Indonesia bahwa membaca dan menulis sangat penting untuk dilakukan dalam memajukan bangsa. Sebab, jika dilihat para pahlawan di Indonesia, sebelum berjuang untuk memerdekakan bangsa Indonesia terlebih dulu membaca dan menulis buku sebagai panduan dalam langkah perjuangannya.

 

“Semua pendiri bangsa pasti menulis dan membaca buku karena yang tidak bisa dihindarkan adalah jika ingin melakukan suatu perubahan harus ada buku panduan, dan buku panduan itu adalah hasil dari tulisan,” ungkap Ardi.

 

Bangsa ini dihadirkan oleh orang-orang yang membaca dan menulis buku. Soekarno, misalnya, membaca ada dua peradaban ketika itu, Barat dan Timur. Peradaban Barat dipimpin oleh Kapitalis Amerika sementara Timur dipimpin Komunis Uni Soviet.

 

“Tapi Soekarno mengambil di tengah-tengah dengan istilah nonblok, walaupun secara pemikiran Soekarno ini Marxisme dengan Marxis Indonesia yang disebut Marhaenisme. Tetapi beliau justru memilih nonblok, karena kalau negara blok akan lebih mudah diaduk-aduk sementara negara nonblok lebih bisa berdikari. Berdiri di kaki sendiri,” kata Ardi.

 

“Jadi kemerdekaan bangsa kita ini, selain dipelopori oleh para pemuda, juga dihasilkan karena para pendiri bangsa sangat giat membaca dan menulis,” pungkasnya.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search