skip to Main Content
Guru Keluhkan Tak Maksimalnya Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Daring

Guru Keluhkan Tak Maksimalnya Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Daring

Pringsewu, NU Online

Pembelajaran daring yang menjadi solusi dari situasi pandemi Covid-19 tidak hanya membawa manfaat bagi pendidikan. Di balik pembelajaran yang dinilai lebih efektif dan efesien dilakukan ini, terselip berbagai macam problem yang dihadapi, bukan saja oleh guru dan peserta didik, namun juga para orang tua.


“Pembelajaran daring untuk tingkat TK ataupun sekolah dasar menghadapi berbagai masalah, di antaranya tingkat partisipasi orang tua yang memang harus ekstra dalam mendampingi anaknya. Dan pada kenyataannya peran ini tidak maksimal dilakukan karena memang kesibukan dan sebagainya,” kata Ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu, Lampung Suwarno, Jumat (6/11).


Sementara untuk permasalahan di tingkat SLTP dan SLTA adalah sulitnya pengawasan guru saat mengajar terhadap sisi afektif (sikap) seperti kedisiplinan dan karakter siswa. Pembelajaran daring memiliki efek yang sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Efek besar yang dirasakan adalah terkait sikap seperti kedisiplinan siswa untuk mengerjakan dan mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru sangat rendah.


“Dari 30 siswa dalam satu kelas yang mengumpul tugas paling tidak lebih dari 50 persen,” ungkapnya.


Banyak siswa mengabaikan tugas dari pembelajaran daring walaupun saat ini berbagai upaya pemerintah memberikan fasilitas dengan kuota internet gratis. “Bukannya dimaksimalkan untuk belajar, mereka malah banyak menghabiskan waktu untuk bermain game online,” katanya saat berdiskusi di studio NU Pringsewu Channel di lantai 3 gedung NU Pringsewu.


Sehingga solusi dari kondisi ini adalah kebijakan untuk segera menggelar pembelajaran tatap muka walaupun dengan protokol kesehatan yang ketat.


“Kalau sehari dua hari pembelajaran daring saya kira tidak masalah. Tapi sekarang banyak orang tua yang mengeluh dan ingin pembelajaran tatap muka walau mungkin satu atau dua hari dalam seminggu,” lanjutnya.


Ia pun mengamati jika banyak anak usia sekolah saat ini menghabiskan waktu bukan untuk belajar. Mereka sudah ‘kangen’ untuk bertemu dengan temannya sehingga saat ini sering terlihat anak-anak yang kumpul-kumpul bergerombol.


“Jika kumpulnya untuk membahas pelajaran atau melakukan hal positif lainnya saya kira tidak masalah. Namun jika tidak dipantau oleh orang tua dan melakukan hal-hal negatif, ini yang kita khawatirkan,” ujarnya.


Melihat kondisi ini pun ia mendorong pemerintah di daerahnya yang saat ini ada dalam zona kuning untuk merancang dan memulai pembelajaran tatap muka. “Semoga generasi kita tidak menjadi generasi yang lemah kepribadian dan karakternya karena efek dari pembelajaran daring ini,” pungkasnya.


Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search