skip to Main Content
Gus Mus dan Mauidzah Hasanah di Tengah Kiai-kiai Sepuh

Gus Mus dan Mauidzah Hasanah di Tengah Kiai-kiai Sepuh

Alkisah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mendapat undangan pernikahan putra-putri pasangan kiai di Pesantren Lirboyo, Kediri tahun 2014. Mempelai putri bernama Khadijah, anak seorang kiai Lirboyo, sedangkan mempelai lelaki bernama Rajih, anak seorang kiai di Pesantren Sarang, Rembang.


Sejumlah kiai sepuh juga hadir, di antaranya KH Maimoen Zubair, KH Husein Muhammad, KH Kafabihi Mahrus yang juga shohibul bait, dan kiai-kiai lainnya.


Di tengah ngobrol asik dengan Kiai Husein, pembawa acara nikahan tiba-tiba mempersilakan Gus Mus untuk memberikan ceramah atau mauidzah hasanah di atas panggung. Gus Mus sedikit terkejut.

“Loh, aku? Sopo sing njaluk aku mauidzah hasanah (Loh, aku? Siapa yang meminta saya mauidzah hasanah)?” gumamnya di samping Kiai Husein karena menurut Gus Mus kala itu banyak kiai sepuh yang lebih pantas memberikan ceramah.


Seketika salah seorang dari pihak panitia mendekat ke Gus Mus dan menjawab, “Tuan rumah, kiai”.


Gus Mus sedikit menyergah, “Ah, tuan rumah enggak ngomong karo aku (Ah, tuan rumah enggak ngomong dengan saya).” Suasana tersebut akhirnya terselesaikan ketika Kiai Kafabihi matur sendiri ke Gus Mus.


Gus Mus akhirnya naik panggung. Spontan, panitia menawarkan ke Gus Mus, “Nopo lungguh dateng kursi, nopo ngadeg, kiai (mau duduk di kursi atau berdiri, kiai)?”

“Ngadeg ae. Lungguh iso suwe, nek ngadeg iso sedelat (Berdiri saja. Duduk bisa lama, kalau berdiri bisa sebentar),” Gus Mus diplomatis. (Fathoni)

 

Sumber: buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” (KH Husein Muhammad, 2015)


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search