skip to Main Content
Hal Yang Perlu Dilakukan Bila Cemas Terkonfirmasi Covid-19

Hal yang Perlu Dilakukan bila Cemas Terkonfirmasi Covid-19

Jakarta, NU Online

Mendapat kabar terkonfirmasi positif Covid-19 sangat mungkin menimbulkan kecemasan. Seperti diceritakan Nur Laeliyatul Masruroh, seorang jurnalis yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19.

 

Dalam unggahan di media sosial facebook miliknya, Laely mengungkapkan saat dirinya masih positif Covid-19 di ruang isolasi RS, seseorang mengirim pesan menyampaikan akan video call lewat WA. Orang itu adalah salah satu teman dari temannya, dan meminta nomor Laely untuk curhat karena sedang mengalami gejala anosmia beberapa hari.

 

Orang yang ternyata pernah mengenal Laely dan dikenal oleh Laeli ini menanyakan mengapa diinfus? Laely menjawab bahwa badannya masih merasa nggreges, kepala sakit, kliyengan, dan kadang kedinginan.

“Hah? Aku takut Mbak. Semangatin aku,” taggap orang itu, kemudian mematikan video call. Laeli lalu mengirim chat WA dan hanya centang satu, foto profil tiba-tiba hilang. Laely menduga dirinya sepertinya diblokir. 


“Aku hubungi teman dia, apakah dia punya riwayat Anxiety karena sepertinya ketakutan setelah vidcal sama aku. Temanku hubungi dia, katanya, dia malah jadi ketakutan karena lihat aku diinfus. Dia gak mau sampai diinfus. Duh. Semoga dia baik-baik,” tulis Laely.

 

Selain itu, sejumlah pesan juga masuk ke Messenger baik dari orang yang tak dikenal dan yang dikenalnya. Ringkasnya, mereka curhat mengalami gejala serupa. Masalahnya sama. Takut belum siap mental menghadapinya.


“Kakak, aku mengalami gejala sama. Aku punya Anxiety, tolong semangatin aku. Aku takut mau Swab. Aku takuuut banget,” tulis Laely menceritakan salah satu pesan dari nama tak dikenal.

 

Pesan lainnya menuliskan, “Saya baca tulisan Mbak. Mau baca lagi, jadi takut. Tapi, saya penasaran. Saya gak siap mental. Gak usah dijawab pesan saya Mbak. Saya takut.”

 

Jangan menyangkal

Pesan-pesan serupa masuk, curhat ketakutan. Laely pun memberikan jawaban. Sejak dirinya menyadari mengalami gejala mengarah Covid-19, Laely mengatakan segera mencari tahu dengan berselancar internet dan bertanya ke teman yang capable.

 

“Awalnya aku pun tak tahu kalau anosmia salah satu gejala Covid-19. Masih berpikir seperti selama ini yang umum terjadi: demam tinggi, batuk kering, dan sesak napas. Aku tidak mengalami itu semua,” lanjut Laely.

 

Saat akhirnya tahu terkonfirmasi Covid-19, Laely mengatakan tidak perlu menyangkal. Namun, segera mencari tahu gejala-gejala Covid-19 lainnya dan memang bisa berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya.


“Jika mengalami gejala mengarah Covid-19, sebaiknya tes Swab. Ini akan membantu mengontrol penyebaran virus. Jika terkonfirmasi positif Covid-19, setidaknya bisa langsung ambil sikap jelas. Bisa langsung isolasi, baik secara mandiri atau di RS. Tergantung kedaaan pasien. Isolasi di RS lebih bagus karena bisa cek darah, jantung, dan Rontgen dada. Gratis. Semua perawatan pasien Covid-19 ditanggung pemerintah,” tulis Laely.

 

Mungkin saja, kata Laely, kita tidak takut terpapar Covid-19 karena muda, badan kuat, dan tak punya penyakit penyerta. Tapi, bagaimana dengan orang-orang lain yang berisiko?

 

“Kalau kita abai, padahal ternyata karier membawa virus, kita bisa jadi pembunuh bagi lainnya. Aku selama ini termasuk yang disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 masih bisa terpapar. Apalagi yang abai, mereka lebih berisiko dan berbahaya buat sekitarnya,” bebernya.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search