skip to Main Content
Hari Santri PCINU Pakistan, Sesi Nostalgia Hingga Sarasehan

Hari Santri PCINU Pakistan, Sesi Nostalgia hingga Sarasehan

Islamabad, NU Online

Berbeda dengan peringatan Hari Santri sebelumnya, PCINU Pakistan kini mengemas peringatan Hari Santri dengan saresehan. Terbagi menjadi dua sesi, yaitu sesi nostalgia masa nyantri oleh perwakilan santri dari beberapa pondok. Kemudian sesi bincang santai tentang peran santri menghadapi globalisasi bersama Syareef Shahabuddin sebagai santri yang telah terjun di dunia diplomasi.


Acara berlangsung Sabtu (31/10) di taman halaman Khubaib Foundation, sektor I-11, Islamabad Pakistan bersama seluruh Nahdhiyin dan perwakilan santri dari beberapa pondok.

 

Pada sesi pertama saresehan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Sebagai ungkapan rasa cinta tanah air, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon yang menambah kesemangatan para Nahdhiyin dalam mengikuti acara.

 

Pembicara pertama pada sesi noltalgia masa nyantri disampaikan oleh Fajar Islami Human santri perwakilan dari Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) Bangil. Dengan gayanya yang santai ketika berbicara Mas Fajar demikian sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa salah satu kegiatan yang paling berkesan selama nyantri itu muhadhoroh.

 

“Saya paling senang dulu itu waktu muhadhoroh, karena ketika muhadhoroh kita dituntut untuk aktif selain sebagai pemateri, juga sebagai pendengar untuk menyiapkan pertanyaan-pertanyaan, dari situlah kita tertuntut untuk banyak menguasai bidang keilmuan,” ungkapnya.

 

Sedangkan Fuad Fahmi perwakilan dari santri PM Gontor mengatakan, bahwa banyak sekali hal yang berkesan ketika mondok di Gontor. 


“Dengan segala dinamika pondok, banyak hal yang sangat indah untuk dikenang. Itu sejalan dengan apa yang dikatakan oleh KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan PM Gontor bahwa seindah-indahnya masa adalah masa menuntut ilmu, dan itu kita rasakan di PM Gontor,” kata santri Gontor ini yang sekarang menjadi Ketua PCI Muhammadiyah Pakistan.


Sesi nostalgia diakhiri dengan cerita dari santri Pesantren Darul Istiqomah Jember yang diwakili oleh Joni Senduro. Ia bercerita bagaimana dulu waktu nyantri banyak melanggar peraturan pondok.


“Pernah suatu ketika saya sakit jarban (kudis) dan bersama kedua teman saya tidak pergi ke masjid. Tiba-tiba setelah selesai orang-orang shalat jamaah di masjid, saya mendengar suara khas motor kiai saya berhenti di depan kamar. Sontak kedua teman saya bersembunyi. Tinggal saya di kamar itu kebingungan, hingga akhirnya kiai saya menghampiri saya dan memukul saya lantaran tidak pergi shalat ke masjid,” tutur Joni dengan gaya guyonnya yang mengundang gelak tawa.


Pukulan kiai itulah, kata Joni, yang memacu dirinya hingga bisa kuliah di luar negeri seperti sekarang.

 

Pada sesi kedua saresehan dilanjutkan dengan bincang santai bersama Syareef Shahabuddin yang merupakan Staf KBRI Islamabad Fungsi Ekonomi dan pernah nyantri di PM Gontor. Ia menyampaikan materi dengan tema Peran Santri menghadapi Globalilasasi.


Di awal pemaparannya, ia menyampaikan bahwa kata santri secara etimologi berasal dari kata sashtri bermakna yang mempelajari kitab suci. Tetapi hal tersebut bisa diperluas maknanya sehingga makna dari santri itu adalah mereka yang melek ilmu pengetahuan.

 

“Jadi, makna santri itu adalah mereka yang melek ilmu pengetahuan. Sehingga makna dari santri lebih inklusif dan lebih luas lagi,” paparnya.

 

Ia melanjutkan penjelasannya mengenai globalisasi atau bisa juga disebut sebagai internasionalisasi dan universalisasi. 

 

“Di mana dunia modern saat ini tiada dinding pembatas untuk mendapatkan informasi dari satu tempat ke tempat yang lain, dan siapa saja bebas mengaksesnya,” terangnya.


“Bahkan dalam skala detik kejadian di Pakistan, informasinya dapat diketahui secara langsung oleh orang Indonesia hanya dengan menggeser jempol tangan pada gadget,” katanya.

 

Karenanya, santri tidak harus berprofesi sebagai guru ngaji saja, santri dituntut juga untuk terlibat aktif secara langsung dalam dunia global agar dapat mensyiarkan agama Islam melalui dimensi yang berbeda-beda.

 

“Santri mempunyai modal besar yaitu ilmu agama, dan dengan memperluas pengetahuannya dengan ilmu dunia maka hal tersebutlah yang ideal dimiliki santri sekarang ini,” pungkasnya.


Di akhir acara, diadakan pembacaan pemenang lomba menulis opini dengan tema Tantangan Santri menghadapi Era Baru. Juara pertama adalah Muhammad Fahmi dari Jakarta dan juara kedua adalah saudara Farras Abyan Aziz dari Yogyakarta.

 

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search