skip to Main Content
Ilfan, Jadikan Masyarakat Perdesaan Gambut Saudara Kedua

Ilfan, Jadikan Masyarakat Perdesaan Gambut Saudara Kedua

Jakarta, NU Online

Proses pemulihan ekosistem gambut oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) dikerjakan dengan menggandeng berbagai pihak. Peranan tim restorasi daerah yakni Fasilitas Desa (Fasdes) untuk perdesaan gambut diperkuat. 

 

Mereka ditugaskan BRG untuk memberikan penjelasan bagaimana tata kelola lahan gambut di daerah. Sasarannya antara lain pejabat desa, perangkat desa, para petani, dan masyarakat luas. Selanjutnya, Fasdes juga memiliki kewajiban berkoordinasi dengan pihak desa terkait program restorasi lahan gambut yang sedang dirancang. 

 

Tugas yang diberikan BRG ini kerap menjadi catatan tersendiri bagi mereka yang berprofesi sebagai tim restorasi daerah. Misalnya yang kini dialami Ilfan, Alumni Pendidikan Kimia Universitas Medan tahun 2016 ini merasakan banyak manfaat setelah resmi bergabung dengan Fasdes BRG RI tahun 2019. 

 

Menurut dia, saking seringnya bertatap muka dengan warga di perdesaan gambut dia merasakan hangatnya keakraban, persaudaraan dan gotong royong. Bahkan dia menyebut masyarakat di perdesaan gambut merupakan saudara kedua setelah saudara kandung.  

 

“Alhamdulillah saya terbantu sekali, sampai sekarang, 2020 masih koordinasi dengan saya. Termasuk ketika kantor desa dampingan saya terbakar tahun 2019, arsip-arsip ludes hilang semua. Jam 3 masyarakat telepon. Kekeluargaan itu yang saya dapat di sini,” kata Ilfan yang kini menjabat Fasdes Bukit Kerikil, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (28/11).

 

Ilfan mengaku senang bisa mengabdi langsung kepada masyarakat di perdesaan. Masyarakat perdesaan gambut kata dia selalu bersikap ramah kepada mereka yang mengajak berdialog. Terjun ke tengah-tengah masyarakat memang seolah sudah menjadi impiannya sejak dulu masih duduk di bangku kuliah. 

 

Setelah kini terjun langsung dan melihat kondisi masyarakat di perdesaan, Ilfan menyadari ternyata kehadiran masyarakat dalam menyelamatkan lingkungan sangat dibutuhkan. Makanya, dia terus bercita-cita agar bisa terus bersinergi dengan masyarakat, sehingga bisa terus menjaga kelestarian alam dalam hal ini tentu yang dia harapkan adalah dapat sesegera mungkin memulihkan ekosistem gambut yang terbakar. 

 

Di sisi lain, setelah melakukan pendekatan secara intensif kepada masyarakat, Ilfan merasa kesadaran warga untuk memelihara lahan gambut terus mengalami peningkatan. Sudut pandang masyarakat pun semakin hari semakin menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi yang ada. Artinya, masyarakat tidak melulu berfikir soal bantuan yang digulirkan pemerintah. Tetapi sejauh mana kemauan pemerintah melibatkan masyarakat dalam menjalankan berbagai program restorasi.

 

“Mereka lebih welcome tidak bicara fisik, tidak bicara uang. Mereka tidak memandang kita hanya sebatas dana,” ucap laki-laki asal Aceh ini. Dia meyakini ketika rasa persaudaraan antara pemerintah dengan masyarakat terjalin, maka apa pun program yang dicanangkan bisa terlaksana dengan maksimal. 

 

Meskipun, ucap Ilfan, tahun pertama tantangan yang dia hadapi tidaklah ringan karena harus melakukan adaptasi dengan kelompok tani dan pihak desa. Ilfan sempat merasa kesulitan ketika ingin melaksanakan tugasnya. 

 

Ternyata selain haus teliti, butuh kesabaran agar perencanaan bisa terealisasi dengan tepat. Sebab terkadang waktu yang sudah direncanakan terhalang oleh agenda-agenda yang ada di desa yang sebelumnya susah dipersiapkan pihak desa. Karena penting sekali menyesuaikan agenda yang ada melalui koordinasi yang baik antara Fasdes, desa dan masyarakat sebagai sasarannya.

 

Selanjutnya, jarak tempuh dari rumah ke desa dampingan tidaklah dekat butuh waktu lima jam. Meski begitu Ilfan menikmati pekerjaan yang sedang dia emban saat ini. Menurut dia, karena sikap konsistennya itu, lahan-lahan yang awalnya terbengkalai kini mulai diolah kembali oleh para petani. Dua hektaran lahan gambut digemburkan untuk menjadi lahan yang bisa ditanami tanaman holtikultura. 

 

“Jadi itulah tantangan yang kadang saya hadapi. Saking banyaknya agenda di desa mereka kita kumpulkan kurang respons. Tapi sekarang berangsur mengalami perubahan masyarakat mulai mau ikut serta merestorasi lahan gambut misalnya mengelolanya menjadi lahan pertanian,” katanya.

 

Selanjutnya, dalam situasi Covid-19 ini, suami Lince Oktavia ini menceritakan, seluruh tugasnya dilakukan secara daring. Pemantauan lahan gambut dan komunikasi dengan masyarakat di perdesaan gambut dilakukannya secara virtual. Namun, jika dalam situasi tertentu harus datang ke lapangan dia bersama masyarakat terjun langsung tentunya dengan memerhatikan protokol kesehatan. 

 

“Tetapi sejauh ini kita kemarin sudah sosialisasi. Baik soal kegiatan Fasdes maupun soal Covid-19 dan penerapan new normal,” ungkapnya. 

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahori

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search