skip to Main Content
Jenis-jenis Penanganan Pasien Covid-19

Jenis-jenis Penanganan Pasien Covid-19

Jakarta, NU Online

Terdapat berbagai terapi yang mesti dilakukan terhadap pasien terkonfirmasi Covid-19. Terapi-terapi tersebut dipisahkan menjadi beberapa kategori, yakni pasien tanpa gejala atau asimtomatik, sakit ringan dan sedang, sakit berat, serta pasien Covid-19 dengan kondisi-kondisi tertentu.

 

Ketua Satuan Tugas (Satgas) NU Peduli Covid-19 Malang Raya, dr Syifa Mustika mengatakan pasien Covid-19 tanpa gejala tidak perlu dirawat di rumah sakit. Isolasi mandiri bisa dilakukan di rumah masing-masing selama sepuluh hari sejak terdiagnosa Covid-19.

 

Apabila pasien tersebut tidak memiliki penyakit penyerta maka cukup dengan mengonsumsi vitamin C karena telah terbukti berdasarkan hasil penelitian bahwa vitamin C dapat meningkatkan imun tubuh. Namun cukup dikonsumsi satu kali dalam sehari.

 

“Multivitamin, ramuan-ramuan, dan obat-obatan lain juga boleh dikonsumsi sesuai dengan gejala penyakit lain yang menyertai,” ungkap dr Syifa yang juga berprofesi sebagai Dosen di Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur saat mengisi Pelatihan Strategi Mitigasi Covid-19 di Pesantren, Ahad (8/11).

 

Selanjutnya, dokter spesialis penyakit dalam ini juga memberikan edukasi terhadap pasien tanpa gejala dalam menjalani isolasi mandiri. Beberapa yang harus dilakukan adalah tetap memakai masker dan mencuci tangan sesering mungkin.

 

“Kemudian harus juga dipastikan punya kamar sendiri. Kalau misalnya di pesantren berarti harus ada ruangan khusus agar tidak kontak dengan orang lain yang tidak karantina. Alat makan, baju, dan semua barang yang dipakai harus dicuci terpisah,” ungkap dr Syifa.

 

Dijelaskan pula bahwa semua barang yang digunakan oleh orang terkonfirmasi positif Covid-19 bersifat infeksius. Oleh sebab itu harus dilakukan tata laksana sendiri. Selain itu, orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala juga harus terus berjemur dan terpantau kesehatannya setiap hari.

 

“Jadi, di pesantren harus ada satgasnya atau siapa pun yang bertugas untuk memantau kesehatan dari santri atau yang sedang menjalani isolasi. Nah yang dipantau adalah keluhan dan suhu tubuh. Gampang kok itu saja,” jelasnya.

 

Tak hanya itu, sesuatu yang harus juga diperhatikan adalah lingkungan isolasi yang terdapat ventilasi. Jangan sampai di ruang isolasi tidak ada ventilasi sehingga sirkulasi udara tidak lancar. Hal itu justru memperlama proses penyembuhan.

 

“Cahaya juga harus masuk. Jangan pakai AC. Karena kalau AC sirkulasinya tidak bagus. Begitu virus masuk ke dalam ruangan akan mengendap dan malah bisa jadi sumber penularan. Kemudian kamar harus selalu dibersihkan dengan dipel dikasih disinfektan,” ungkapnya.

 

Siapa pun yang kontak pasien Covid-19 harus pakai Alat Pelindung Diri. APD-nya tidak perlu pakai atribut seperti ‘astronot’ itu. “Tapi yang paling penting pakai masker, face shield, sarung tangan, atau kalau tidak punya nggak usah pakai sarung tangan tapi setelah kontak harus cuci tangan pakai sabun,” jelas dr Syifa. 

 

Ia memaparkan jika pondok pesantren terdapat santri yang positif Covid-19 harus ditangani segera. Tentu saja mesti dibatasi agar tidak ada kontak langsung dengan orang luar. Kalau bisa, dr Syifa menyarankan, pesantrennya ditutup sementara waktu.

 

“Tapi kalau tidak ditutup maka tentukan ada area untuk ruang isolasi mandiri. Alat makan sendiri, cuci dengan sabun, pakai masker, tetap jaga jarak dengan orang yang tidak melakukan isolasi mandiri. Tolong aturan atau batasan ini dipahami,” ungkapnya.

 

Penjagaan, penanganan, dan pengawasan juga harus dilakukan terhadap pasien Covid-19 yang sudah berusia lanjut. Di pesantren, kata dr Syifa, pasien-pasien ini berarti para pengasuh seperti kiai dan nyai yang sudah sepuh. 

 

“Nah, mereka memerlukan pendekatan multidisipliner karena masalah multimorbiditas dan penurunan fungsional tubuh. Perubahan fisiologis terkait umur akan menurunkan fungsi intrinsik pasien seperti malnutrisi, penurunan fungsi kognitif dan gejala depresi,” katanya.

 

Deteksi dini mengenai kemungkinan pemberian obat yang tidak tepat harus dilakukan untuk menghindari munculnya kejadian tidak diharapkan dan interaksi obat untuk pasien lanjut usia.

 

Secara ringkas, dr Syifa menjelaskan bahwa untuk pasien yang asimtomatik (tanpa gejala) bisa melakukan isolasi mandiri selama sepuluh hari dan minum multivitamin. Sementara untuk pasien sakit ringan harus menjalani isolasi mandiri sepuluh hari sejak muncul gejala ditambah dengan tiga hari bebas gejala, dengan disertai obat-obatan ringan sesuai panduan dokter.

 

“Tetapi kalau sakit sedang dan sakit berat atau kritis harus benar-benar dirawat di rumah sakit. Jangan menunda. Jangan sampai dari tahap ringan akhirnya jatuh ke tahap berat, karena dikhawatirkan kalau telat penanganan akhirnya membutuhkan tatalaksana yang lebih berat,” pungkas Konsultan Gastroenterohepatologi di RSUD dr Saiful Anwar ini.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search