skip to Main Content
Joko Pinurbo Akui Terinspirasi Gus Dur Dalam Menulis Puisi

Joko Pinurbo Akui Terinspirasi Gus Dur dalam Menulis Puisi

Jakarta, NU Online

Penyair Joko Pinurbo mengaku mengidolakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak remaja. Ia semacam mendapatkan chemistry (kecocokan) dengan Presiden keempat Republik Indonesia itu sehingga Gus Dur memberikan inspirasi baginya dalam menulis puisi.


“Terutama dalam hal pandangan-pandangan kemanusiaannya, sikap hidupnya, dan gaya pribadinya Gus Dur yang suka humor,” katanya dalam gelaran Panggung Budaya Temu Nasional (Tunas) Gusdurian 2020 secara virtual, pada Selasa (15/12) malam. 


“Saya melakukan proses belajar, khususnya mengenai humor Gus Dur. Itulah yang kemudian saya olah dan kembangkan di dalam puisi-puisi saya,” lanjut penyair asal Sukabumi ini.


Penyair yang akrab disapa Jokpin ini menilai humor Gus Dur ini layak menjadi studi khusus. Sebab melalui humor, berbagai macam pandangan atau sikap kemanusiaan Gus Dur itu akan tercermin dan tersingkapkan. 


Menurutnya, seorang penulis memerlukan memerlukan referensi atau model. Terdapat banyak referensi yang dipelajari Jokpin. Namun diakuinya, sangat langka yang sampai tercipra chemistry dalam hal gaya maupun konten yang menyangkut pandangan kemanusiaan Gus Dur.


Jokpin sendiri punya sejumlah karya puisi yang gaya dan kontennya sangat terinspirasi dari sosok Gus Dur. Baik yang secara ekspresif maupun yang tidak eksplisit menyebut nama Gus Dur. “Tetapi secara tersirat mengolah ide dari Gus Dur,” tutur Jokpin.


Toleransi ala Gus Dur


Jokpin menyatakan, sosok Gus Dur bukan hanya memperjuangkan toleransi. Namun lebih dari sekadar itu. 


“Toleransi kan bisa saja berupa tenggang rasa yang sifatnya pasif. Sedangkan toleransi Gus Dur bukan sebatas itu. Gus Dur itu membela, memperjuangkan, dan mengamalkan kesetaraan kemanusiaan,” tegasnya.


“Jadi bukan hanya menghargai dan menghormati toleransi. Tetapi juga membela dan memperjuangkanya,” lanjut Jokpin.


Ditegaskan Jokpin bahwa yang dilakukan Gus Dur adalah membela dan memperjuangkan hak-hak orang lain sekalipun secara pandangan berbeda dengannya.


“Maka toleransi Gus Dur sangat tinggi. Bukan sekadar baik-baik untuk tidak saling mengganggu.  Toleransi versi Gus Dur itu yang diikuti dengan keberanian untuk memperjuangkan dan membela hak-hak orang lain dengan segala risikonya,” jelas Jokpin.


“(Dan) Gus Dur terbukti berani mengambil risiko itu,” pungkasnya. 


Untuk diketahui, Panggung Budaya adalah salah satu rangkaian agenda dari Temu Nasional (Tunas) Gusdurian 2020 yang dilangsungkan selama sepuluh hari, sejak 7 hingga 16 Desember 2020. Tunas Gusdurian akan ditutup dengan acara peringatan Haul Gus Dur ke-11, malam ini.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search