skip to Main Content
Kedamaian Di Papua Karena Kuatnya Komunikasi Tokoh Lintas Agama

Kedamaian di Papua karena Kuatnya Komunikasi Tokoh Lintas Agama

Jakarta, NU Online

Pada 5 Februari 1855, Injil pertama kali dibawa oleh misionaris Ottow dan Geissler ke Pulau Mansinam, Papua Barat. Kedua misionaris dari Jerman itu diantar dari Ternate, Maluku, oleh Sultan Muhammad Alting dari Keturunan Tidore.

 

Ketua PWNU Tony Wanggae, menceritakan dari peristiwa itu ada sebuah kerja sama dan persaudaraan untuk menyampaikan nilai-nilai agama di Tanah Papua sejak 200 tahun lalu.

 

“Itu yang kemudian kami lanjutkan 5 Februari itu yang kami tetapkan sebagai Hari Damai Tanah Papua. Ditetapkan sejak 2002 di Jayapura dari berbagai komponen atau elemen lintas agama, masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, dan pemuda,” kata Tony Wanggae dalam Muktamar Pemikiran Santri Seri Kelima.

 

Setiap tahunnya menjelang 5 Februari, kata dia, warga Papua memperingatinya dengan melakukan berbagai kegiatan yang bertema perdamaian. Pada tanggal puncaknya 5 Februari juga diadakan seminar dan doa bersama, dari masjid dan gereja. “Itu yang mengikat persaudaraan kami, sehingga di Papua tidak ada konflik beragama,” lanjutnya. 

 

PWNU Papua juga selalu melakukan pendekatan sosial-keagamaan dengan banyak melakukan dialog lintas agama, di dalam FKUB, forum para pemimpin agama di Tanah Papua. Lalu dibentuk juga membentuk perkumpulan lintas agama di tingkat pemuda. ” Namanya Formula: Forum Pemuda Lintas Agama. Ini dialog yang terus kita bangun,” ujarnya.

 

Kita melihat pengalaman kasus Ambon berdarah pada 2002 dan juga Poso, itu tidak sampai masuk ke Papua. Karena para tokoh agama sudah berkomitmen untuk membangun Papua Tanah Damai. Jadi siapa pun, dari latar belakang apa pun, yang tinggal di atas Tanah Papua harus bisa menyebarkan damai. Dalam bahasa Islam, bisa menjadi rahmat untuk semua. Jadi kita semua di Tanah Papua memiliki tanggung jawab yang sama walaupun dari latar belakang suku, budaya, ras berbeda di Tanah Papua. 

 

Pihaknya mengakui ada sejumlah tantangan di Tanah Papua. Dengan adanya jalinan komunikasi yang baik di antara para pemimpin lintas agama, berbagai konflik di Tanah Papua bisa diselesaikan secara damai. Pasalnya tokoh-tokoh agama sudah membangun komunikasi lebih awal secara baik sejak 2002. 

 

Komunikasi tokoh lintas agama juga karena teladan yang diberikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karenanya, Toni Wanggae juga menyebut, dalam sejarah, ketika Gus Dur dimakzulkan pada 2001, orang Papua mengatakan,”Biarlah Gus Dur menjadi Presiden orang Papua.”

 

Kemudian Gus Dur diberikan gelar atau penghargaan sebagai anak adat Papua. “Karena telah berjasa melakukan pembangunan dengan hati, budaya, dan kemanusiaan untuk orang asli Papua tanpa jatuhnya korban. Hingga saat ini, Papua masih tetap utuh di dalam wilayah NKRI,” tegasnya.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search