skip to Main Content
Kiai Said Dorong Pengusaha Nahdliyin Terus Perkuat Bisnis Dan Jauhi Riba

Kiai Said Dorong Pengusaha Nahdliyin Terus Perkuat Bisnis dan Jauhi Riba

Jakarta, NU Online

Di dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-9 Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mendorong para pengusaha nahdliyin yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) agar terus memperkuat bisnis dan menjauhi riba. 


Kiai Said kemudian mengutip Surat Al-Baqarah ayat 276, bahwa Allah sebenarnya mendorong manusia agar berbisnis tapi menjauhi riba. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa riba adalah transaksi yang dilakukan dengan tidak melalui prinsip keterbukaan.


“Transaksi yang tertutup dan disembunyikan itu berarti sudah riba hukumnya,” jelas Kiai Said melalui sambungan virtual dalam acara yang juga digelar di Hotel Aryaduta Suites Semanggi, Jakarta Pusat, pada Jumat (9/10) pagi.


Ia juga memberikan empat cara untuk mengelola organisasi, terutama di bidang ekonomi, agar mencapai keberhasilan. Pertama, profesional dan proporsional. Mengutip Surat Al-Isra ayat 36, Kiai Said menegaskan bahwa jangan pernah melakukan berbagai pekerjaan yang tidak dipahami.


“Begitu pun dalam hal ekonomi dan bisnis yang harus dikerjakan oleh para pengusaha secara profesional dan proporsional. Jangan tumpeng-tindih, acak-acakan, dan amburadul. Mari kita perbaiki dan rapikan tata kelola organisasi HPN dengan prinsip profesionalisme dan proporsional,” tegas Kiai Said.

Kedua, transparan dan keterbukaan. Kiai Said menilai prinsip ini sangat jarang sekali dilakukan di dunia bisnis. Namun demikian, ia menegaskan, agar warga NU dan khususnya pengusaha Nahdliyin dapat tetap mempertahankan prinsip transparansi dan keterbukaan itu.


“Di dalam berbisnis, kalau memang ada hal yang tidak baik maka katakan tidak baik, jangan ditutup-tutupi atau disembunyikan karena dapat mengakitkan kerugian bagi pembeli. Membangun kembali kepercayaan orang lain itu sangat sulit,” tutur kiai jebolan Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur ini.

Ketiga, membangun jaringan lintas sektor. Kiai Said menyarankan HPN untuk mampu bersinergi dan bekerjasama dalam hal positif dengan berbagai pihak. Hal ini dimaksudkan agar bisnis yang dikembangkan para pengusaha Nahdliyin dapat mengalami kemajuan yang pesat.


“Bangun jaringan dengan siapa saja. Lintas agama, lintas kelompok, dan kalau bisa lintas negara. Itu harus dilakukan kalau ingin maju,” kata Kiai Said.

Keempat, tanggung jawab. Ditegaskan Kiai Said bahwa dalam mengelola organisasi, terutama yang bergerak di bidang perekonomian, harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.


“Tanggung jawab itu bukan hanya tugas ketua atau sekjennya tapi dari pengurus pusat sampai pengurus daerah kalau ingin sukses berorganisasi harus ada rasa memiliki sehingga lahir rasa tanggung jawab. Prinsip ini harus dipegang oleh HPN,” kata Doktor Filsafat Islam alumnus Universitas Umm Al-Qura, Arab Saudi ini.


Sebelumnya, Ketua Umum DPP HPN Abdul Kholik mengungkapkan bahwa pihaknya telah merumuskan dan menjalankan beberapa strategi penting dalam kurun waktu satu tahun belakangan ini. Salah satunya mendorong arus baru ekonomi kerakyatan dengan menggelorakan koperasi berbasis syariah.


Ia kemudian mengutip data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus lalu. Disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kwartal II tahun ini, mengalami minus 5,23 persen.

 

Sementara itu, lanjut Kholik, lapisan masyarakat dan pengusaha menengah bawah memiliki ketahanan ekonomi yang relatif rendah dan terdampak secara ekonomi akibat Covid-19.


“Sedihnya di kelas menengah bawah ini dihuni oleh mayoritas warga Nahdliyin,” katanya Kholik.


Pada kesempatan itu pula, HPN meluncurkan Koperasi Saudagar Nusantara Sinergi (Sanusi) yang bertujuan untuk memberikan akses terhadap permodalan pengusaha. Lebih lanjut, dijelaskan Kholik, HPN telah membangun platform marketplace yang ke depan dapat memfasilitasi transaksi antar umat.


Selain itu, tambahnya, HPN juga telah menjalankan program pembentukan pengusaha langitan (berbasis digital) agar para pengusaha dapat berjalan di tol langit, sebagaimana yang telah disiapkan pemerintah.


Oleh karena itu, diluncurkanlah Indonesian Halal Start-Up Angel Network (IHSAN) yang telah disusun sejak Desember tahun lalu, bersama Pengusaha Muslim asal Amerika Tausif Malik.


“Terima kasih kepada Dr Tausif Maluk yang hampir setahun telah membersamai HPN dalam menggalang potensi angel investor dari pengusaha muslim di seluruh dunia yang berminat untuk masuk ke industri halal di Indonesia,” pungkasnya.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search