skip to Main Content
Kisah Sukses Pesantren Di Kebumen Bangkit Dari Klaster Corona

Kisah Sukses Pesantren di Kebumen Bangkit dari Klaster Corona

Kebumen, NU Online

Sepanjang September dan paruh pertama Oktober 2020, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah dikejutkan dengan terpaparnya para santri oleh Covid-19 di empat pondok pesantren. Ke empat pondok pesantren tersebut adalah Pesantren Nurul Hidayah Bandung Kebumen (179 kasus), Pesantren Darul Furqon Kutosari (3 kasus), Pesantren Al–Istiqomah Tanjungsari Petanahan (8 kasus), dan Pesantren Al–Azhar Kalijaya Alian (35 kasus).


Akumulasi kasus Covid–19 pada ke empat klaster tersebut mencapai seperlima dari kasus akumulatif di Kebumen terhitung pada Kamis 15 Oktober 2020. Secara nasional 225 kasus yang terjadi dalam klaster–klaster pondok pesantren di Kebumen merupakan bagian dari 1.510 kasus klaster–klaster pondok pesantren di Indonesia sebagaimana dicatat Kementerian Agama RI.


Berjangkitnya Covid–19 pada pondok pesantren di Kebumen memiliki pola serupa dengan klaster–klaster pondok pesantren yang telah ada sebelumnya di Indonesia. Virus tersebut masuk ke lingkungan pondok pesantren melalui interaksi fisik dengan lingkungan terpapar, atau lewat interaksi fisik orang luar dengan lingkungan pondok. Di salah satu klaster diketahui terdapat kontak dekat santri pondok pesantren dengan penyintas Covid–19 terkonfirmasi selama periode infeksiusnya.


Begitu virus masuk ke lingkungan pesantren, maka ia pun segera berkembang biak dengan subur. Secara fisik, kurangnya pencahayaan internal bangunan dan terbatasnya ventilasi menjadi faktor pendorong. Demikian halnya aspek kultural lewat pola hidup komunal, mulai dari kamar yang padat (1 kamar ukuran 4×6 meter persegi diisi 30 orang santri) hingga budaya seperti makan bersama yang didasari kepercayaan terhadap berkah (barakatu tha’am fikatsratil aidi). Aspek fisik dan kultural tersebut mempercepat proses penularan hingga membentuk klaster.


“Klaster–klaster Covid–19 di sejumlah pondok pesantren di Kebumen yang berkembang dalam satu setengah bulan ini akhirnya teratasi. Segenap santri, ustaz dan ustazah yang sempat terjangkiti penyakit ini telah dinyatakan sembuh kembali. Klaster–klaster ini menyajikan pelajaran berharga bahwa penyakit Covid–19 bisa menginfeksi siapa saja tanpa pandang bulu. Khususnya bagi kita yang menyepelekannya sehingga abai menjalankan protokol kesehatan,” kata Muhsinun, Tim Peduli Covid–19 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kebumen.


“Di sisi lain, ia hanyalah penyakit biasa yang sedang mewabah dan bukanlah penanda aib. Dengan pertolongan Alloh SWT semata yang mewujud dalam penanganan yang tepat dan kerjasama erat antar pihak, penyintas Covid–19 pun dapat sembuh,” tambahnya.

Awal mula muncul di pesantren

Covid-19 di pesantren yang ada di Kebumen bermula pada pertengahan September 2020 manakala sejumlah santri di salah satu pondok pesantren mulai jatuh sakit. Gejalanya khas Covid–19 yang didominasi demam, sakit kepala dan mual. Ada juga gejala tambahan meliputi muntah, sakit tenggorokan, sesak nafas, nyeri dada, batuk pilek, diare, lemas tak bertenaga, tubuh pegal–pegal hingga anosmia (hilangnya kemampuan penciuman dan perasa untuk sementara). Swab test massal yang digelar Dinas Kesehatan Kebumen mengonfirmasi terbentuknya klaster.


Awal mula klaster ini disikapi dengan perasaan terkejut, setengah tak percaya, penyangkalan dan juga rasa takut. Secara internal, sempat berkembang pandangan awal para pengasuh, bahwa Covid-19 merupakan suatu aib. Sehingga pondok pesantren cenderung menutup akses. Sebaliknya secara eksternal, terbentuknya klaster Covid–19 menjadikan segenap pondok pesantren di Kebumen menjadi sorotan publik. Pesantren seakan sedang dilihat kuat–kuat di bawah lensa mikroskop.


“Aneka lalu lintas percakapan di media sosial juga membuat kecil hati dengan celetukan–celetukan yang sama sekali tak membantu khususnya secara moril. Apalagi mengulurkan bantuan materiil. Tak bisa dipungkiri bahwa bagi sebagian masyarakat, penyakit Covid-19 ibarat aib. Dan Kabupaten Kebumen pun tak terlepas dari situasi nasional dimana 17 % penduduk Indonesia tidak percaya akan adanya wabah ini,” jelasnya kepada NU Online.


Situasi ini pun direspon oleh PCNU Kebumen dengan membentuk Tim Peduli Covid-19 yang meliputi unsur LPBINU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU), LKNU (Lembaga Kesehatan NU) dan RMINU (Asosiasi Pondok Pesantren NU). Satuan tugas ini bekerja bersama-sama dengan unsur Pemerintahan Kabupaten Kebumen seperti Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,  Dinkes, dan BPBD. Nuansa gotong royong semakin terasa saat Banser NU, PMI Kebumen dan Polres Kebumen turut bergabung dengan dukungan sumberdayanya. Demikian pula saat  Satgas Covid–19 PBNU dan BBPP Kementerian tenaga Kerja RI turut bergabung.


Secara umum penanganan klaster pondok pesantren di Kebumen terbagi menjadi dua  yakni preventif yang bersifat pencegahan dan kuratif yang bersifat pengobatan.

Strategi Preventif

Strategi preventif (pencegahan) dilakukan untuk mencegah penyebaran virus penyakit Covid–19 ke pondok pesantren yang belum terjangkiti. Caranya dengan menggelar sosialisasi tanggap darurat Covid-19 kepada 120 pondok pesantren yang ada di Kebumen serta bagaimana protokol kesehatan yang bertitik tolak pada 3M (memakai masker, rajin mencuci tangan yang benar dan menjaga jarak fisik) menjadi perhatian bersama.


“Demikian halnya penekanan VJD (ventilasi yang baik, jaga jarak fisik dan durasi pertemuan yang singkat) jika menyelenggarakan kegiatan dalam ruangan,” jelas Muhsinun.


Tindak lanjut dari sosialisasi tersebut adalah dibentuknya satgas Jogo Santri di setiap pondok pesantren. Konsep Jogo Santri merupakan turunan dari konsep Jogo Tonggo yang dikembangkan di tingkat Provinsi Jawa Tengah, yang disesuaikan dengan lingkungan dan kekhasan pondok pesantren.


Satgas Jogo Santri di setiap pondok pesantren bertugas memperketat penerapan protokol kesehatan. Kunjungan orang luar ke pondok pesantren (sambangan atau jengukan) juga sangat dibatasi. Satgas juga mengelola dan mendata suhu tubuh para santri secara berkala melalui termometer thermogun. Lingkungan pondok pesantren juga rutin dibersihkan dengan cairan desinfektan. Bagi setiap santri dan pengunjung, membersihkan tangan (baik dengan hand sanitizer maupun sabun) sangat ditekankan. Jam olahraga bagi para santri pun ditambah sebagai salah satu upaya meningkatkan imunitas ragawi.


Jaringan komunikasi pun diintensifkan. Mengikuti tradisi santri, Tim Peduli Covid-19 PCNU pun tak segan–segan berkeliling antar pondok pesantren guna sowan kepada kiai pengasuh, sembari menyosialisasikan tanggap darurat Covid-19. Selain mendorong setiap pondok pesantren menggelar doa bersama disertai pembacaan shalat thibbil qulub secara berkala, Tim Peduli Covid-19 PCNU juga mendistribusikan bantuan handshop, hand sanitizer, aneka vitamin dan bahan minuman rempah – rempah (wedang jahe dan temulawak).


Sosialisasi dan komunikasi rutin terus digelar baik dalam wujud tatap muka maupun virtual. Tim Peduli Covid–19 PCNU juga membuka layanan komunikasi on call dan SMS bagi pesantren yang membutuhkan pada khususnya dan Nahdliyin Kebumen pada umumnya.


“Alhamdulillah komunikasi intensif akhirnya terbangun. Pondok-pondok pesantren membuka aksesnya  dan ini memungkinkan santri-santri di berbagai penjuru yang bergejala ringan hingga sedang untuk terdeteksi. Sehingga penanganan bisa dilakukan lebih dini. Langkah-langkah tersebut juga diikuti terbangunnya komunikasi intensif dengan Kementerian Agama Kabupaten Kebumen tentang tatanan di pondok pesantren dalam masa Covid–19,” jelasnya.

Strategi Kuratif

Strategi kuratif atau pengobatan bertujuan untuk mengobati santri dan ustaz atau ustazah yang sudah terjangkiti Covid–19 sekaligus melokalisir supaya wabah tidak semakin menyebar. Selain menutup pondok pesantren yang menjadi klaster untuk sementara, Tim Peduli Covid-19 PCNU bersama unsur-unsur pemerintahan terkait mengambil langkah tak biasa yang selama ini hanya sebatas wacana di Kebumen yakni dengan menempatkan para penyintas bersama-sama dalam ruang khusus karantina di satu lokasi di pondok pesantren.


Konsep isolasi bersama ini mengacu pada penanganan klaster besar pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi beberapa waktu lalu. Klaster besar yang menyedot perhatian namun berhasil ditangani dengan baik.


Patut disyukuri bahwa hampir segenap kasus pada klaster–klaster pondok pesantren di Kebumen adalah tanpa gejala hingga bergejala ringan. Mengacu keputusan Menteri Kesehatan RI, mereka dapat menjalani isolasi di luar rumah sakit rujukan. Hanya kasus dengan gejala sedang saja yang kemudian dirujuk ke rumah sakit. Dalam konsep isolasi bersama di ruang khusus karantina, maka kebutuhan makan dan minum penderita dipasok oleh dapur umum yang dibuka di dekat lokasi.


Manajemen ruang khusus karantina dikelola dengan baik. Sehingga selain para penyintas dapat cukup beristirahat, juga diarahkan untuk memperbanyak istighfar, shalawat dan bermunajat kepada Allah SWT secara berkala. Terdapat juga jadwal berolah raga setiap hari di bawah sinar Matahari pagi. Dikembangkan pula pembekalan keterampilan adaptif.


Tim Peduli Covid–19 PCNU pun membuka layanan psikososial dengan secara rutin memantau para penyintas dalam masa karantinanya melalui video call. Motivasi dan dukungan terus – menerus dipompakan. Selain mengetahui kondisi santri secara berkala, pada saat yang sama kebutuhan tiap santri penyintas pun dapat diketahui. Dengan upaya-upaya tersebut para penyintas diharapkan dapat selalu berfikir positif dan bugar guna kian meningkatkan imunitas tubuh.


Selain isolasi bersama dalam ruang khusus karantina, strategi kuratif juga dilakukan dengan meningkatkan pelacakan (tracing) khususnya terhadap orang–orang terdekat yang berinteraksi langsung dengan para penderita. Pelacakan dilaksanakan secara berjenjang. Dimulai dari bagian pesantren (misalnya bagian santriwati), lalu berkembang ke bagian lain (misalnya bagian santri), dan kemudian berkembang ke pemukiman di sekeliling pondok pesantren.


“Setiap orang yang terkonfirmasi positif Covid–19 dalam pelacakan berjenjang ini kemudian turut menjalani isolasi bersama,” ungkapnya.

Perjuangan membuahkan hasil

Kedua strategi tersebut akhirnya membuahkan hasil. Hanya dalam beberapa hari, gejala-gejala yang dialami para penyintas mulai menghilang. Santri yang sempat dirawat di rumah sakit pun juga diperkenankan pulang. Jika mengikuti ketentuan organisasi kesehatan sedunia WHO yang dikeluarkan akhir Mei lalu, dalam 10+3 hari pasca-virus masuk ke tubuh penderita maka ia sudah tidak menularkan lagi. Karena virus-virusnya sudah mati. Tinggal bangkainya saja yang masih ada pada cairan–cairan di saluran pernafasan hingga beberapa waktu kemudian.


Berdasarkan ketentuan tersebut, maka disepakati ruang khusus karantina di setiap pondok pesantren bisa ditutup jika tidak ada lagi pertambahan kasus dalam 14 hari terakhir. “Dan alhamdulilah, dua ruang karantina khusus yang terakhir yakni di pondok pesantren Nurul Hidayah Kebumen dan pondok pesantren al–Azhar Alian secara resmi ditutup pada Kamis 15 Oktober 2020,” tururnya bahagia.


Dengan penutupan tersebut maka secara resmi klaster pesantren di Kabupaten Kebumen telah berakhir. Meski demikian, strategi preventif tetap terus dijalankan agar tak ada lagi pondok pesantren yang terjangkiti Covid–19.


Klaster-klaster pondok pesantren di Kebumen memberikan pelajaran berharga bahwa penyakit Covid–19 bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Di sisi lain, ia hanyalah penyakit biasa yang sedang mewabah dan bukanlah sebuah aib. Dengan pertolongan Allah SWT semata yang mewujud dalam penanganan yang tepat dan kerjasama erat antar pihak, penderita Covid–19 dapat sembuh kembali seperti sediakala.


Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Aryudi AR

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search