skip to Main Content
Macron Dinilai Melihat Islam Dari Cermin Yang Keliru

Macron Dinilai Melihat Islam dari Cermin yang Keliru

Jakarta, NU Online

Ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai Islam berbuntut panjang. Pasalnya, ia menyebut Islam mengalami krisis. Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute M Imdadun Rahmat menyebut Macron melihat Islam dari cermin yang keliru. Mestinya, kata Imdad, Macron memandang Islam secara lebih holistik.

 

“Islam itu semua orang paham membentang dari moderat, liberal, sampai ke radikal. Itu seharusnya dilihat dari sisi yang holistik, jangan hanya dilihat dari ekspresi kelompok kekerasan dan terorisme. Macron salah melihat cermin,” katanya kepada NU Online pada Sabtu (31/10).

 

Memang, lanjutnya, pandangan tersebut ditengarai dari umat Islam di Prancis sendiri yang lebih menonjol sisi ekstremnya yang tampaknya berhulu dari gelombang imigran. “Di Prancis, kontribusi umat Islam belum terasa, kecuali pemain bola. Tetapi kontribusi negatif nyata, ada imigran yang belum bisa menjadi Prancis, memunculkan problem kultural,” ujarnya.

 

Gelombang imigran yang berdatangan ke Eropa, khususnya Prancis, memunculkan berbagai masalah lalu menjadi problem nasional. Perdebatannya kencang, antara menolak atau menerima mereka.

 

Ia mendaftar beberapa tindakan yang dilakukan kelompok Islam ekstremis di Prancis, seperti pengeboman usai laga pertandingan sepakbola antara Timnas Jerman dan Timnas Prancis di Stadion Stade de France pada 2015 hingga penyerangan di gereja.

 

“Yang terlihat Islam wajah barbarian, teror. Gak salah juga Macron melihat dari cermin yang salah. Peran positif umat Islam di sana belum kelihatan. Ini penting menjadi otokritik bagi umat Islam, jangan hanya gampang tersinggung,” katanya.

 

Tindakan ekstremisme itu, menurutnya, tidak hanya menjadi problem di dunia Islam sendiri, tetapi juga di Eropa. Dampaknya luas karena menyangkut hubungan antarperadaban. Hal tersebut menjadi tantangan nyata dan PR bagi umat Islam mengingat sebetulnya dalam ajaran Islam sendiri irhab atau terorisme diharamkan.

 

Di sisi lain, Imdad mengatakan, Eropa juga memiliki problem yang sama, yakni bercokolnya kelompok kanan jauh, antiimigran dan antiagama, khususnya non-Kristiani. Mereka punya problem tapi tidak sampai pada taraf penggunaan kekerasan dan teror. “Jadi sebenarnya Eropa juga harus belajar memahami agama lain, memahami tradisi non-Eropa, non-Kristiani, termasuk Rasulullah tidak boleh digambar,” ujarnya.

 

Kalau saling memahami ini tidak terjadi, akar masalah tidak terpecahkan. Dalam waktu ke depan, menurutnya, sangat mungkin akan terus terjadi berbagai problem baru. Ia sangat berharap agar media bisa menahan diri untuk tidak mengumbar pelecehan terhadap agama manapun.

 

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga tidak sepakat dengan pernyataan Macron yang menyebut Islam mengalami krisis. Menurutnya, pemahaman dan pengamalan orangnya yang krisis. Melakukan tindakan terorisme dengan mengatasnamakan agama itu krisis. “Menurut saya, sikap kita terhadap Macron tidak perlu emosional berlebihan,” ujarnya.

 

Kekhawatiran akan muncul atau menguatnya Islamofobia akibat dari pernyataan Macron memang tidak terbantahkan. Akan tetapi, hal yang perlu dilakukan umat Islam, menurutnya, bukan meresponsnya dengan kekerasan, pernyataan keras, dan lainnya, tetapi dengan menghadirkan wajah Islam ramah nan berkah.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search