skip to Main Content
Mahasiswa Fakultas Hukum Uninus Juara 3 Lomba Esai Nasional Mahkamah Lead V 2021

Mahasiswa Fakultas Hukum Uninus Juara 3 Lomba Esai Nasional Mahkamah Lead V 2021

Bandung, Uninus.ac.id
Tiga mahasiswa Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Islam Nusantara (Uninus) meraih juara 3 pada Lomba Esai Nasional Mahkamah Lead V 2021 yang dilaksanakan Mahasiswa Pengkaji Masalah Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila).

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Dandi Ditia Saputra, Ligar Ayu Pramesty, dan Nabila Farah Munifah. Mereka menulis esai bersama dengan judul Perlindungan Data Pribadi terhadap Orang yang Tidak Beruntung dalam Realita Investigasi Polisi di Indonesia. Dewan juri pada lomba menilai esai tersebut dengan skor 251.9.

Dandi menjelaskan, “Orang yang tidak beruntung” dalam esai tersebut adalah orang yang tak sengaja terekam oleh pihak tertentu yang kemudian dipublikasikan.

Menurut Dandi, peristiwa semacam itu pernah terjadi di New Zealand pada sebuah program realita stasiun televisi di sebuah bandara. Pada peristiwa itu, pihak bandara bekerja sama dengan sebuah media merekam isi tas orang-orang di sana, termasuk data-data pribadi.

“Jadi, Orang tidak beruntung itu adalah orang-orang yang tidak sengaja terekam. Di Indonesia misalnya di Net TV melalui acara 86 atau The Police di Trans7. Itu dasar dan menjadi analisa kami,” katanya saat ditemui di kantin Uninus, Jalan Soekarno-Hatta, No 530, Kota Bandung, Kamis, (9/12/2021).

Kasus semacam itu, lanjutnya, berdampak bagi orang yang tak menginginkannya. Pasalnya, setelah rekaman itu ditayangkan, muncul meme lelucon di masyarakat yang menjadi dasar bullying  dan doxing bagi orang yang terekam yang tak beruntung tersebut.

“Itu ancaman privasi terhadap sesorang dan itu sulit dihilangkan karena medianya itu masif di YouTube dan tv dengan penonton sampai puluhan juta. Itu jadi hal yang sulit dihilangkan jejak digitalnya. Padahal masyarakat itu punya hak untuk dilupakan,” jelasnya.

Nabila Farah Munifah menambahkan, keresahan kita disini yaitu ketika kehadiran media televisi yang jelas menayangkan program tersebut dan dijadikan konsumsi sehari-hari sehingga seringkali terjadi pelanggaran privasi di sana .

Ligar Ayu Pramesty juga menambahkan, belum lama ini ada peristiwa yang viral di media sosial, yaitu orang lagi lewat tiba-tiba digeledah dengan alasan untuk keamanan. Padahal orang itu belum tentu bersalah.

“Orang disebut bersalah itu harus berdasarkan Putusan Pengadilan. Mereka belum tentu bersalah, tapi sudah punya stigma negatif. Kayak kemarin kasus Ambarita yang rame banget. Salah satu contohnya, dia itu dicek hp-nya dia menolak. Ini privasi, Pak. Tapi polisi bilang, apa privasi-privasi. Mereka kehilangan hak untuk menolak. Padahal mereka tidak membawa surat perintah polisinya, tapi dengan mudahnya merampas hak privasi seseorang. Di situ ada pelanggaran,” jelasnya.

Dandi mengaku sampai saat ini belum mengetahui adanya orang yang melaporkan media atas kejadian semacam itu. Menurut dia, hal itu karena adanya ada ketakutan melaporkan media besar. Padahal lagi-lagi dampaknya masif yang bisa menjadi cyber bullying dan doxing.

Untuk diketahui, lomba tersebut bertema Hilirisasi Perlindungan Data Pribadi di Era Digital dengan subtema:
1. Penegakan Hukum Terhadap Peretasan Data Pribadi;
2. Strategi Perlindungan Data Pribadi di Era Digital;
3. Tantangan dan Peluang RUU (Rancangan Undang-Undang) Perlindungan Data Pribadi

Kegiatan tersebut berlangsung 6-21 November. Pengumpulan berkas paling lambat 26 November 2021 3. Seleksi berkas 27 November – 4 Desember 2021. Sementara pengumuman pemenang 8 Desember 2021. (AA)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top
×Close search
Search