skip to Main Content
Medsos Didominasi Paham Keagamaan Konservatif

Medsos Didominasi Paham Keagamaan Konservatif

Jakarta, NU Online

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta meluncurkan hasil penelitian berjudul ‘Beragama di Dunia Maya: Media Sosial dan Pandangan Keagamaan di Indonesia’, secara virtual, pada Senin (16/11) pagi.


Penelitian ini dilakukan sejak akhir 2019 dan diselesaikan pada Juli 2020. Sedangkan latar belakang dilakukannya penelitian diungkapkan bahwa media sosial merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. 


“Dalam konteks keagamaan, medsos bisa digunakan banyak hal. Termasuk soal ekspresi keagamaan, sumber informasi agama, dan bahkan menjadi wadah diskursus paham keagamaan,” ungkap Koordinator Riset PPIM UIN Jakarta Iim Halimatusa’diyah.


Ia mengungkapkan, data penelitian dikumpulkan selama 10 tahun ke belakang dari berbagai postingan di media sosial platform twitter. PPIM UIN Jakarta kemudian mengumpulkan 12 juta cuitan dan kata kunci terkait perbincangan keagamaan.


Hasil riset menunjukkan terdapat lima spektrum paham keagamaan di media sosial yakni liberalisme, moderatisme, konservatisme, Islamisme, dan radikalis atau ekstremis. Untuk paham keagamaan kelima, PPIM UIN Jakarta tidak bisa memprediksi pengaruhnya karena hanya sedikit ditemukan.


“Maka riset kami akhirnya fokus pada empat paham keagamaan saja,” katanya.


PPIM UIN Jakarta memiliki definisi dari kelima paham keagamaan di medsos itu. Liberal adalah aliran keagamaan yang berusaha melampaui batas-batas akal, tradisi, norma, dan nilai yang disepakati komunitas muslim.


Sedangkan moderat adalah aliran keagamaan yang mengedepankan keseimbangan akal dan wahyu serta keseimbangan keragaman antarkelompok sebagai prinsip dasar untuk menjaga kemaslahatan bersama.


Kemudian konservatif dimaknai sebagai aliran keagamaan yang menjadikan tradisi Islam awal (nabi dan sahabat) sebagai acuan yang harus diduplikasi secara literal. Islamis merupakan keagamaan konservatif yang mengedepankan Islam sebagai sistem politik untuk mewujudkan negara agama.


Lalu radikal atau ekstremis adalah aliran keagamaan yang menjadikan serta menyetujui kekerasan sebagai alat untuk mewujudkan negara Islam.


“Dari data yang dikumpulkan itu, kami tidak bisa memprediksi yang kategori kelima. Maka riset kami akhirnya fokus pada empat paham keagamaan saja. Dari hasil analisis ini, medsos (twitter) didominasi oleh narasi yang cenderung konservatif sebanyak 67,2 persen,” jelas Iim.


Sedangkan paham keagamaan moderat sebanyak 22,2 persen, liberal sejumlah 6,1 persen, dan islamis hanya berkisar 4,5 persen. Dikatakan Iim, narasi konservatisme di twitter terdapat tiga topik utama.


Pertama topik perempuan serta hubungan Islam dengan negara dan kelompok lain. Lebih rinci, Iim menyebut topik itu adalah soal perempuan, surga, aurat, politik, pemimpin, dan menolak sekularisme, pluralisme, liberalisme (yang disingkat sepilis). 


Kedua adalah topik mengenai amalan buruk. Di antaranya isi terkait kafir, dosa, syirik, musyrik, dan munafik. Ketiga, topik amalan baik yang beberapa di antaranya adalah tentang surga, shalat, taat, pahala, puasa, akhirat, ukhuwah, dan Islamiyah.


“Secara umum, narasi yang dimainkan paham keagamaan konservatisme ini cukup netral, sama sekali tidak menyentuh aspek politik. Tapi di sisi lain juga ada narasi yang menyinggung politik,” jelas Iim.


“Untuk persebarannya, kontestasi paham keagamaan di medsos terkonsentrasi di Pulai Jawa. Kontestasi sengit narasi keagamaan antarpaham yang berbeda terkonsentrasi di Jakarta karena merupakan pusat pemerintahan, efek dari Pilgub DKI, dan Pilpres,” ungkap Iim.


“Sedangkan untuk narasi paham keagamaan liberal lebih dominan di Jawa Timur,” tambahnya.

Proporsi gender dan paham keagamaan


Menurutnya, perempuan cenderung memiliki pemahaman keagamaan yang tinggi dibanding laki-laki. Perempuan akan lebih militan, di semua paham keagamaan. Jika perempuan terpapar islamis atau konservatif maka akan lebih tinggi pemahamannya dari laki-laki. Begitu pula apabila perempuan terpapar liberalis.


“Kecenderungan ini membuat perempuan menjadi posisi yang lebih riskan terhadap paparan keagamaan yang keliru,” kata Iim.


Lebih jauh diungkapkan bahwa narasi agama dan gender juga didominasi oleh paham keagamaan konservatif yang melanggenggkan subordinasi perempuan. Efek panjang yang akan terjadi adalah transmisi konsevatisme dan Islamisme antargenerasi.


“Sebab ibu adalah pengurus rumah tangga dan mengurus serta mendidik anak di rumah secara intens,” ungkapnya.

Analisis tagar


Terdapat empat kategori dari analisis menggunakan tagar di twitter. Pertama, keagamaan umum yang meliputi shalat, puasa, dan zakat yang cenderung netral. Kedua, konservatif yang sangat literal dalam menarasikan agama.


Ketiga, agama dan politik meliputi 212, hijrah bersama Jokowi, dan Ahok. Keempat, kelompok yang diperdebatkan yakni dukungan. Dari keempat itu, kategori keagamaan umum jika tidak di tahun politik akan menurun.


“Tapi narasi keagamaan umum akan menaik jika di tahun-tahun politik. Kelompok yang dipertentangkan sangat berhubungan soal narasi agama dan politik. Jika bicara politik, tagar berfungsi untuk memobilisasi massa. Karena kepentingan politik mempengaruhi keagamaan di media sosial,” ungkapnya.

Aktor yang berperan


Riset PPIM UIN Jakarta ini juga menunjukkan bahwa ustadz atau tokoh agama menjadi episentrum dalam narasi keagamaan di medsos. Selain tokoh agama, tokoh masyarakat lain juga ternyata ikut berperan dalam membangun narasi keagamaan.


“Kemudian ada akun-akun komunitas seperti NU Garis Lucu yang tidak bisa diidentifikasi (tokoh agama atau bukan) yang berperan dalam penyebaran narasi keagamaan di Indonesia. Kemudian ada akun yang biasa-biasa saja, tapi tweetnya ternyata punya engagement yang tinggi. Jadi, siapa pun bisa mengonstruksi narasi keagamaan di twitter,” ungkap Iim.


Sementara akun twitter yang berperan dalam memviralkan isu keagamaan yakni @felixsiauw, @gusmusgusmu, @TeladanRasul, @AlissaWahid, @DoaIndah, @ayatquran, dan @aagym. Iim mengatakan riset menemukan adanya risiko sekaligus potensi yang seimbang terkait signifikansi akun dengan basis pengikut yang terbilang kecil dalam penyebaran narasi keagamaan di media sosial.


Soal jaringan interaksi di twitter, Iim menyebut cenderung homogen atau tertutup alias memiliki efek Echo Chambers. Akun-akun yang mengikuti atau diikuti Gus Mus, misalnya, memiliki kecenderungan paham keagamaan yang sama.


“Itu yang disebut Echo. Begitu pula dengan akun Ulil, Nadirsyah Hosen, dan Sahal. Akun yang mengikuti dan diikuti cenderung berpaham keagamaan sama,” ungkap Iim.


Ia menambahkan, kelompok moderat di twitter sangat terbuka. Sedangkan kelompok liberal dan Islamis sangat jarang berdialog. Hal ini akan menyulitkan proses pertukaran pemahaman, sehingga tidak bisa membuka wawasan.


“Jadi kita sangat bergantung kelompok moderat untuk bisa memoderasi kelompok keagamaan di media sosial,” pungkasnya.


Pewarta:  Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search