skip to Main Content
Membaca Ulang Sejarah Mbah Mutamakkin

Membaca Ulang Sejarah Mbah Mutamakkin

Pati, NU Online

Kajian tentang KH Ahmad Mutamakkin atau Mbah Mutamakkin belum banyak dilakukan. Sarjana yang paling awal menelitinya adalah S Soebardi.

 

“Ia menulis disertasi tentang Serat Cabolek untuk keperluan studi doktoral di Australian National University,” ujar Taufiq Hakim, salah satu pegiat Kanjengan di Desa Kajen yang menyelesaikan studi Sastra Jawa di UGM ini. 

 

Namun demikian, kata Taufiq, Serat Cabolek rupanya tidak menarasikan tentang Mbah Mutamakkin secara lengkap; tidak mencakup riwayat, perjuangan, ataupun perihal ajaran-ajaran Al-Mutamakkin.

 

Serat Cabolek lebih fokus menarasikan pengadilan Keraton Surakarta, presentasi Ketib Anom yang angkuh tentang ilmu hakikat, serta beberapa bait tentang pengakuan Pakubuwana II atas kewalian Al-Mutamakkin,” ujar dia dalam diskusi beberapa waktu lalu.

 

Membaca ulang Serat Cabolek, kata Taufiq, nyaris tidak ditemukan ajaran Mbah Mutamakkin. Kecuali kode-kode kebahasan atau sanepan khas puisi Jawa yang menunjukkan tata susila Mbah Mutamakkin yang tawadu, egaliter, santun, serta pribadi yang tekun. 

 

“Setelah kami cermati lagi, Serat Cabolek merupakan produk kebudayaan pujangga istana Surakarta, yang kemudian hari disalin oleh Yasadipura II pada zaman pemerintahan Pakubuwana IV,” ujarnya.

 

Akan tetapi, lanjut Taufiq, ada sedikit koreksi untuk kajian-kajian tentang Mbah Mutamakkin yang bersumber pada Serat Cabolek. Menurut hasil pembacaan Kanjengan, Serat Cabolek bukanlah representasi ‘agama Keraton’ yang mendiskreditkan ‘agama rakyat’.

 

Legitimasi yang dibangun oleh Sang Pujangga dimaksudkan sebagai perlawanan simbolik Keraton terhadap hegemoni kolonial Belanda yang semakin represif dalam kurun abad ke-18-19. Terutama pada munculnya wacana-wacana Islam yang disinyalir mengancam kekuasaan Belanda.

 

“Menurut kami Serat Cabolek dibuat bukan untuk meremehkan Mbah Mutamakkin. Wong Raja Surakarta saja mengakui kewalian beliau. Penjelasannya ada di salah satu bait dalah pupuh Asmaradana,” terangnya.

 

Dalam 12 manuskrip Serat Cabolek yang dibaca Pak Soebardi, kata Taufiq, Mbah Mutamakkin juga tidak mewedar (mengurai) lakon Dewa Ruci. Lakon yang sarat nilai-nilai kebudayaan dan religiusitas orang Jawa itu adalah buah karya Yasadipura II yang dikisahkan melalui tokoh Ketib Anom. “Jadi itu bukan wedaran Mbah Mutamakkin,” imbuhnya.

 

Artinya, kata Taufiq, Serat Cabolek bukanlah manuskrip yang bertujuan membabar ajaran Mbah Mutamakkin. Ia juga menyarankan agar para peneliti menggali ajaran Mbah Mutamakkin dari sumber-sumber selain Serat Cabolek. 

 

“Bisa berupa manuskrip yang diwarisi secara turun-temurun oleh warga Kajen (desa tempat Mbah Mutamakkin dimakamkan), cerita tutur tentang Mbah Mutamakkin, maupun masjid yang diyakini sebagai peninggalan Mbah Mutamakkin,” ujarnya.

 

Pegiat lainnya, Farid menambahkan, bersama para anggota, pihaknya telah blusukan ke sudut-sudut desa. Mereka mengumpulkan manuskrip dan beragam cerita tutur dari warga Desa Kajen tentang Mbah Mutamakkin. Beberapa daerah sekitar juga mereka kunjungi untuk mencari data. Seperti Desa Sekarjalak, Cabolek, Ngemplak, dan sekitarnya.

 

“Semuanya berkaitan dengan riwayat Mbah Mutamakkin. Data-data yang telah terkumpul tersebut sedang dan akan diteliti lebih lanjut,” ujar mahasiswa Program Magister Antropologi UI ini.

 

Kajian-kajian yang telah dan akan diterbitkan Kanjengan, kata Farid, diharapkan mampu menjadi kaca benggala bagi para pembaca, khususnya masyarakat Kajen. Kanjengan menawarkan perspektif para muda-mudi Kajen atas sejarah kampung halaman mereka. Khususnya riwayat dan samudera keilmuan Mbah Mutamakkin. 

 

Kaca benggala, kata Farid, dengan demikian bukan dipahami sebagai sebuah daftar praktis perbuatan-perbuatan yang harus diamalkan. Seperti halnya deretan formulasi ajaran yang disebut banyak orang sebagai pendidikan karakter warisan leluhur. Tetapi, ia lebih merupakan sebuah abstraksi dari pergumulan teks dan konteks masa lalu yang dihadirkan pada masa kini.

 

“Justru pendidikan karakternya terletak pada kumpul-kumpul dan jagong-jagong ini, tak ada sekat ataupun perbedaan kelas sosial. Saling belajar dari potensi masing-masing. Semuanya srawung, memelihara karakter guyub, mencintai budaya lokal, dan bahkan mengamalkannya,” pungkasnya.

 

Editor: Kendi Setiawan


 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search