skip to Main Content
Menebarkan Kebaikan Melalui Media Film

Menebarkan Kebaikan Melalui Media Film

Jakarta, NU Online

Seorang anak remaja perempuan berseragam SMA dan berjilbab, menumpang sebuah angkutan umum. Di sebuah titik siswa perempuan itu meminta pengemudi angkot agar menghentikan mobil angkotnya. Anak perempuan itu merogoh saku baju, mencari uang untuk membayar ongkos naik angkot. Namun, dia tampak tidak menemukan uang yang dicari, begitu juga saat dia mencari uang di tas sekolahnya.


Pengemudi angkot meminta siswa itu untuk terus mencari setelah siswa mengatakan uangnya hilang. Suasana menjadi tegang karena dia tetap tidak menemukan uang, alias tidak bisa membayar angkot. Sementara pengemudi mengatakan uang itu harus ada karena harus setoran.

 

Pada saat-saat menegangkan inilah, seorang bapak-bapak yang juga ada di dalam angkutan umum menyodorkan uangnya pada pengemudi angkot. Dia mengatakan, biar dia saja yang membayarkan biaya naik angkot siswa yang uangnya hilang itu. Siswa itu pun berterima kasih dan turun dari angkot dengan wajah lega.

 

Beberapa waktu berikutnya, bapak-bapak yang tadi membayarkan angkot untuk siswa perempuan, tengah berada di warung makan. Saat merogoh uangnya, ia mendapati sisa uang hanya tinggal tiga ribu rupiah. Dia berkata pada penjual nasi bahwa ia hanya memiliki uang tiga ribu rupiah. Penjual nasi menjawab, itu cukup untuk beli nasi, tanpa lauk. Namun, si penjual nasi menyusulkan sepotong tempe goreng, sebagai lauknya.

 

Sayangnya, saat memulai menciduk makanannya, tempe goreng, satu-satunya lauk yang dia miliki jatuh ke lantai. Melihat si bapak berpenampilan lusuh dan kehilangan lauknya, beberapa pria yang ada di sana, kompak memberikan lauk mereka. Padahal sebelumnya mereka saling menceritakan betapa enaknya lauk yang mereka pilih itu.


Itulah adegan dalam film pendek yang diunggah kanal YouTube Islami.co. Secara keseluruhan film menunjukkan bahwa kebaikan sederhana dan semua orang bisa melakukannya. Sesederhana apa pun kebaikan yang dilakukan, selain bermanfaat bagi yang menerimanya, juga akan menimbulkan timbal balik yang baik orang yang melakukan kebaikan itu.


Film juga seperti mengingatkan, kebaikan tidak harus menunggu kita sempurna, apalagi memiliki kelebihan harta. Bapak-bapak dalam film tersebut, tampak bukan dari golongan berada, tergambar dari salah satu scene ia tengah menyapu jalanan, ia bekerja sebagai petugas kebersihan.

 

Di samping itu, kebaikan juga mestinya dilakukan tanpa memandang perbedaan keimanan. Bapak yang membayarkan uang angkutan umum pada siswa berkerudung saat adegan berdoa menunjukkan bahwa ia adalah non-Muslim.


Film memang menjadi salah satu media dakwah. Namun karya film sebagai media dakwah bukan berarti dalam setiap dialog tokohnya dengan ucapan “Kamu harus jadi orang baik, kamu harus jadi anak shaleh” kepada tokoh lain, misalnya. Dalam istilah lain, film memberikan pelajaran tanpa menggurui. Artinya, ajaran kebaikan itu tergambar dalam tindakan para tokohnya.


Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Imam Suprayoga dalam salah satu tulisannya Mendidik itu Memberi Contoh dan Membiasakan Secara Istiqomah, menyampaikan pengertian pendidikan menjadi sangat sederhana ketika guru sekedar mengajarkan sekelompok pengetahuan yang dianggap penting. Itu terlihat saat di sekolah, para siswa diajari bermacam mata pelajaran, yang sudah ditentukan, termasuk cara mengajarkan dan bahkan buku yang harus diajarkan.


Ketika bahan pelajaran sudah diterangkan oleh semua guru yang bertugas dan waktu yang disediakan sudah habis, dilakukan penilaian melalui evaluasi atau ujian. “Para siswa yang mampu menjawab sebagaimana target yang ditentukan dianggap lulus, sebaliknya mereka yang belum mampu menjawab soal-soal yang diberikan dianggap gagal,” tulisanya.

 

Melihat kenyataan itu, menurut Imam Suprayoga, sebenarnya ada sesuatu yang masih dilupakan dan justru merupakan hal penting, yaitu memberi contoh dan membiasakan. Perilaku manusia terbentuk dari contoh-contoh dan kebiasaan itu. Misalnya, kedua orang tua ketika di pagi-pagi mendengar adzan Subuh dan segera bangun, mengambil air wudhu, kemudian datang ke masjid, shalat berjamaah, serta tidak lupa mengajak anak-anaknya, maka orang tua yang bersangkutan telah menjalankan proses pendidikan.


Karena itu, film meskipun menggambarkan adegan sederhana, namun memiliki pelajaran di dalamnya menjadi media yang efektif untuk menyebarkan kebaikan.


Pewarta: Kendi Setiawan

Pewarta: Fathoni Ahmad

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search