skip to Main Content
Mengupas Aspek-aspek Kesehatan Mental

Mengupas Aspek-aspek Kesehatan Mental

Jakarta, NU Online

Tanggal 10 Oktober dikenal sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia diadakan sejak tahun 1992 setelah ditetapkan oleh World Federation of Mental Health (WFMH). 


Sekretaris Prodi Psikologi Unusia, Elmy Bonavita Zahro mengatakan tujuan dari peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia secara umum adalah sebagai upaya mempromosikan pentingnya menjaga kesehatan mental. “Seringkali manusia fokus terhadap kesehatan fisik namun mengabaikan kesehatan mental, padahal keduanya berkaitan satu sama lain,” katanya Sabtu (10/10). 


Pada tahun ini tema Hari Kesehatan Mental Dunia adalah Mental Health for All: Greater Investment, Greater Access, Everyone and Everywhere. Dengan tema itu diharapkan setiap pihak mempunyai kesadaran tentang pentingnya investasi terhadap layanan kesehatan mental dan dapat terakses oleh setiap orang dari berbagai kalangan dan di mana pun berada.

 

Aspek-aspek mental yang sehat

Lalu apa yang dimaksud dengan sehat mental? 

 

Mengutip salah seorang peneliti di bidang Psikologi Carol D Ryff tahun 1995, kata Elmy Bonavita, seseorang dikatakan sehat mental atau istilah dalam Psikologi disebut Ryff psychological well-being adalah ketika dia memenuhi beberapa aspek. Pertama, self-acceptance terhadap setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki atau dalam bahasa sehari-hari bersyukur. Kedua, dapat menjalin hubungan positif dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya. Ketiga, mandiri.


Keempat, environmental mastery atau dapat mengoptimalkan hal-hal yang ada di lingkungan untuk mengembangkan diri. Kelima, memiliki tujuan hidup, jadi tahu sebenarnya apa yang ingin saya capai dalam hidup dan bagaimana kira-kira tahapan untuk mencapainya dalam hidup, tidak hanya sekedar ikut-ikutan orang lain atau trend semata,” paparnya.

 

Adapun aspek keenam personal growth. Konteks ini dipahami ketika seseorang senantiasa menjalankan hal-hal menuju pengembangan diri sesuai tujuan hidup yang telah ditetapkan. “Atau kalau istilah Abraham Maslow mencapai self-actualization,” jelas perempuan yang juga Psikolog Klinis UP3 Unusia dan LPT Universitas Indonesia.

 

Pengaruh kesehatan mental dan fisik

Kembali pada kesehatan mental dan fisik, perempuan asal Kediri, Jawa Timur ini menegaskan secara umum kaitan kesehatan fisik dan mental sangatlah erat. Ketika seseorang mengalami distress, ia mencontohkan, sekalipun permasalahan yang dialami berupa stresor psikologis misalnya konflik dengan teman atau rekan kerja, tingkat pekerjaan di kantor yang terlalu banyak, namun gejala yang dirasakan saat distress berupa sakit fisik.


“Misalnya pusing, badan pegal-pegal, mudah sakit karena imunitas menurun, dan lainnya. Begitu pula kalau kita sehat fisik dan memiliki gaya hidup sehat rajin olahraga dan memakan makanan sehat maka pola pikir juga lebih positif,” jelasnya.


Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Alhafiz Kurniawan 

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search