skip to Main Content
Menilik Gerakan Radikalisme Di Lampung

Menilik Gerakan Radikalisme di Lampung

Sinyal gerakan radikalisme di Bumi Lampung mulai terendus pada 2017 lalu. Hal ini diketahui ketika Kasubdin Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Andi Intan Dulung, melakukan sesi monitoring dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung.


Menurutnya, dari hasil survey Direktorat Pencegahan BNPT bersama Puslitbang Kemenag, dan The Nusa Institute dan Daulat Bangsa, Lampung masuk dalam kategori lima provinsi terbesar yang memiliki potensi radikalisme. Hasil survey ini terkait dengan daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme baik dalam dimensi pemahaman, sikap, maupun tindakan,

 

Hasil dari survey BNPT pada 2017 menyebut bahwa radikalisme di Lampung berada pada peringkat keempat. Bengkulu menjadi yang tertinggi mencapai 58,58%, Gorontalo mencapai 58.48%, Sulawesi Selatan mencapai 58,42%, Lampung mencapai 58,38%,  dan Kalimantan Utara mencapai 58,30.

 

Tidak hanya itu, Kapolda Lampung menyebut bahwa terdapat 101 warga Lampung terindikasi sebagai simpatisan Islamic State (IS) yang tersebar di 11 kabupaten di Lampung. Bahkan beberapa pelaku teroris berasal dari Lampung seperti dijelaskan pada halaman 75 buku ini.

 

Tokoh adat pada Lembaga Adat Maghgo Sekappung Libo (LAMSL) Jabung, Lampung Timur Sholihin Pandji atau yang bergelar Radin Pandji sangat menolak dan mengutuk kekerasan tindakan bom bunuh diri, teror dan aksi-aksi yang lain yang mengganggu keharmonisan, kedinamisan, serta kenyamanan masyarakat.

 

Gerakan radikalisme seperti itu merugikan semua pihak dan golongan. Tidak ada tuntunan dari ajaran agama manapun, apalagi Islam menegaskan pada umatnya untuk tidak bertindak dan berbuat kerusakan di muka bumi. Hal tersebut jelas sangat kontradiktif dengan nilai ajaran Islam.

 

Sementara tokoh adat Lampung yang juga pernah menjabat Sekjend Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dan saat ini sebagai Wasekjend PBNU, H M Aqil Irham menyebut bahwa sebenarnya radikalisme dalam kontek masyarakat adat Lampung merupakan sesuatu yang masih asing. Hal ini karena tidak ada istilah radikalisme dalam adat Lampung.


Namun tidak dipungkiri bahwa fenomena radikalisme itu benar adanya di Lampung. Dan hal ini sudah menjadi isu serius dari adat untuk menanggapinya, karena gerakan ini memang bertentangan dan bertolak belakang dengan apa yang telah di praktikkan oleh masyarakat adat Lampung selama ini.

 

Namun demikian, perlu adanya penelusuran lebih lanjut terkait dengan gerakan tersebut. Ini akan sangat menarik karena nantinya akan dapat diketahui sekaligus diinventarisasi pihak-pihak mana saja kah yang terpapar radikalisme. (hal. 93).


Buku berjudul Perkembangan Gerakan Radikalisme di Lampung Menilik Respon dan Antisipasi Tokoh Masyarakat Adat Lampung ditulis oleh para akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Lampung yang terdiri dari Zuhairi, Ghulam Murtadho, dan Ahmad Muzakki.

 

Buku ini muncul dilatarbelakangi oleh adanya isu gerakan radikal-terorisme yang tidak hanya booming di media massa dan menyasar daerah-daerah di pulau Jawa, namun gerakan ini telah menyeberang ke Provinsi Lampung.

 

Buku ini mengupas dua masalah besar yang harus dijawab, yakni pertama, bagaimana respon tokoh masyarakat adat Lampung terhadap perkembangan radikalisme di Lampung dan kedua, bagaimana cara tokoh masyarakat adat Lampung mengantisipasi perkembangan radikalisme di Lampung.

 

 

Buku istimewa hasil riset ini bisa dijadikan rujukan bagi para santri, aktivis, akademisi, pegiat demokrasi dan HAM, dan pemerhati radikalisme di Indonesia.


Untuk menambah referensi literasi tentang radikalisme di Nusantara, khususnya di Provinsi Lampung alangkah baiknya pembaca juga membaca buku seperti Gerakan Usroh di Indonesia Peristiwa Lampung 1989 karya Abdul Syukur, penerbit Ombak Yogyakarta, 2003, Geger Talangsari Serpihan Gerakan Darul Islam karya Widjiono Wasis, penerbit Balai Pustaka Jakarta, 2001.

 

Penting juga membaca artikel Wakil Rais Syuriah PWNU Lampung sekaligus Ketua Umum MUI Lampung, KH. Khairudin Tahmid, yang pernah dipresentasikan dalam forum internasional Kemenag RI AICIS 2016 di UIN Raden Intan Bandar Lampung berjudul Perkembangan Paham Radikal Terorisme di Lampung dan Upaya-Upaya Pencegahannya.


Peresensi Akhmad Syarief Kurniawan, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Lampung Tengah


Identitas Buku :

Judul  : Perkembangan Gerakan Radikalisme di Lampung, Menilik Respon dan Antisipasi Tokoh Masyarakat Adat Lampung                

Penulis : Zuhairi, Ghulam Murtadho, Ahmad Muzakki

Penerbit : CV IQRO’, Kota Metro

Terbit : Oktober 2019

Tebal : xii + 154 Halaman

Nomor ISBN : 978-602-5533-36-5


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search