skip to Main Content
Menyingkap Makna Dalam Ritual Ibadah Haji

Menyingkap Makna dalam Ritual Ibadah Haji

Bandung, Uninus.ac.id
Saat ini, umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. Ibadah tersebut memiliki ketentuan waktu dan tempat, serta tuntunannya.

Dosen Universitas Islam Nusantara Koko Lukman, M.Ag menyingkap makna di balik ritual ibadah haji tersebut, setidaknya ada 5. Yang pertama, dalam beribadah haji diwajibkan berpakaian ihram.

“Saat beribadah haji semuanya memakai ihram berwarna putih, apa pun jabatannya memakai pakaian sama. Siapa pun yang beribadah haji, baik pejabat atau rakyat, kaya atau miskin kita harus berpakaian yang sama” katanya saat menjadi khatib Jumat di Masjid Al-Ikhlas Uninus, Jalan Soekarno Hatta No 530, Kota Bandung, Jumat (1/7/2022).

Berpakaian yang sama saat beribadah haji, kata dia, bisa dimaknai bahwa Allah tak melihat manusia dari jabatan atau kekayaannya, melainkan ketaqwaannya.

“Allah menciptakan manusia berbeda, bersuku-suku, akan tetapi perbedaan itu di mata Allah sama, bukan jabatan, harta, status sosial yang membedakannya, melainkan ketaqwaannya. Dengan demikian, makna dari pakaian ibadah haji itu, kita harus menjauhkan diri dari sikap ujub dan takabbur,” jelasnya.

Kedua, di dalam ibadah haji ada yang disebut dengan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah. Ritual ini, menurutnya, harus dimaknai, setiap perputaran dalam kehidupan manusia, harus fokus pada satu titik, yaitu amal ibadah. Setiap amal ibadah harus fokus pada satu titil yaitu kepada Allah, Tuhan semesta alam.

“Makna ritual thawaf harus ditanamkan kepada diri kita tentang lillahi ta’ala. Di dalam hati jangan sampai terbersit sifat riya’ karena bisa menggungurkan amal ibadah kita,” tegasnya.

Ketiga, dalam ritual haji ada wuquf di Arafah. Ritual tersebut sebagai miniatur Padang Mahsyar yang akan dijalani manusia di akhirat kelak.

“Setelah tugas manusia selesai di alam dunia, meninggal, kemudian memasuki alam kubur. Pada saatnya nanti akan dikumpulkan Padang Mahsyar. Kita harus percaya setelah kehidupan dunia ada kehidupan abadi. Seluruh manusia dikumpulkan kemudian diminta pertanggungjawaban,” katanya.

Keempat, melempar jumroh, yaitu melempar batu-batu kecil ke tiga tiang yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan Jumrah, di kota Mina yang terletak sebelah timur Makkah.

“Ritual ibadah haji ini bermakna melemparkan semua pikiran kotor dalam diri kita misalnya menjauhkan diri diri kita berprasangka jelek karena itu merupakan dosa,” katanya.

Kelima, menyembelih hewan kurban. Ritual ini bermakna kita harus menyembelih nafsu yang ada dalam diri kita karena menuruti hawa nafsu akan menjerumuskan kepada keburukan.

“Hawa nafsu kita harus senantiasa disembelih,” tegasnya.

Keenam, sa’i atau berlari-lari kecil di antara Shafa dan Marwa. Ritual ini bermakna bahwa kita harus optimis dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah Taala.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top
×Close search
Search