skip to Main Content
Nabi Muhammad Tak Pernah Melarang Umat Untuk Memuji Dirinya

Nabi Muhammad Tak Pernah Melarang Umat untuk Memuji Dirinya

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah memuji dirinya sendiri, apalagi sampai memanggil ‘wartawan’ untuk membuat narasi pujian kepadanya.


Hal tersebut diungkapkan saat memberikan mauizhoh hasanah dalam Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa yang digelar Lembaga Dakwah (LD) PBNU di Masjid Istiqlal, Jakarta secara online dan offline dengan protokol kesehatan yang ketat.


“Tapi ketika ada orang memuji-muji, dibenarkan. Tidak dilarang. Maka memuji Rasulullah menjadi sunnah taqririyah. Bukan bid’ah. Maulid Nabi tidak membutuhkan hadits shahih, tetapi yang dibutuhkan adalah hati yang shahih,” tegas Kiai Said.


Ia lantas mengungkap sejarah yang dibacanya dalam kitab Al-Madaih An-Nabawiyah karya Syekh Ismail An-Nabhani sebanyak empat jilid. Isi kitab tersebut, dijelaskan Kiai Said, berupa syair dan prosa yang isinya adalah pujian terhadap Nabi Muhammad.


Salah satu kisah yang dipaparkan Kiai Said adalah Ka’ab bin Zuhair yang memuji-muji Nabi Muhammad dengan sangat sukacita. Saat dipuji, seketika Nabi tersenyum yang menyiratkan kerelaan hati.


“Beliau ridha dan senang dipuji. Tidak melarang. Kemudian Rasulullah memberikan hadiah, selimut yang sedang dipakai bergaris-garis. Diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair setelah memuji. Selimut bergaris-garis itu bahasa arabnya adalah burdah,” jelas Kiai Said. 


Kiai Said kemudian menyenandungkan Shalawat Burdah yang pernah disampaikan Ka’ab kepada Nabi. Setelah membacakan shalawat, ia langsung menerjemahkannya.


“Engkau Rasulullah, bagaikan pedang yang terbuat dari India yang sangat tajam. Datang dari suku Quraisy Makkah, membawa cahaya atau sinar yang terang benderang. Diikuti oleh para pengikut yang gagah berani tapi berhati mulia. Ikhlas dalam segala tindakannya,” kata Ka’ab dalam penggalan Shalawat Burdah yang diterjemahkan Kiai Said.


Kiai Said melanjutkan terjemahannya. Bahwa sahabat Nabi memiliki sifat yang ketika perang dan kemudian tombaknya mengenai musuh, tidak akan merasa bangga. Kemudian jika dalam perang terkena tombak, tidak akan merasa kecewa atau menyesal.


“Tidak seperti sekarang yang ketika punya jasa sedikit (dengan sombong mengatakan) saya lah yang berperan. Dan kalau dia sendiri kena pedang, tombak, panah tidak kesal, tidak kecewa, tidak menyesal, tidak menggerutu. (Itu) hal biasa dalam berjuang, ada sakit dan lukanya,” jelas Doktor Filsafat Islam lulusan Universitas Ummul Qurra Makkah, Arab Saudi ini.


Setelah mendengarkan pujian itu, Nabi memberikan selimut bergaris-garis yang dalam bahasa arab disebut Burdah. Kini, selimut itu ditempatkan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki. Lalu, Kiai Said mengajak hadirin untuk senantiasa bertawasul kepada Nabi Muhammad.


Ia mengutip kembali penggalan Shalawat Burdah yang artinya, “Wahai makhluk paling mulia yang tidak aku miliki, selain engkau. (Engkau) yang dapat menolong kami, yang dapat menjadi sandaran kami. Aku tidak memiliki siapa-siapa kecuali engkau.” 


Usai Kiai Said menyampaikan mauizhoh hasanah, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diberikan kesempatan untuk memberikan kata sambutan di dalam acara Maulid Akbar ini, secara virtual.


Ia menyampaikan bahwa sangat banyak hikmah yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kata Anies, ilmu Kiai Said sangat luar biasa dalam dan luas sehingga mampu mengambil hikmahnya.


“Ilmu dari Pak Kiai Said ini luar biasa. Saya ketika hadir acara dan ada beliau, saya pasti menyimak. Banyak orang pengetahuannya luas dan dalam, tapi menjadikan itu sebagai rangkaian penuh hikmah, tidak banyak yang melakukan. Jadi masyaallah Pak Kiai Said,” kata Anies.


Ia lantas mendoakan Kiai Said agar diberi umur panjang, diberikan kesehatan, dan senantiasa menjadi mata air jernih pengalir hikmah bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.


Anies juga memberikan menyampaikan apresiasi kepada PBNU yang dinilai selalu mendorong masyarakat untuk melaksanakan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan dalam rangka menjaga kesehatan pribadi dan kolektif di tengah pandemi.


“Ini adalah contoh ketika organsiasi rujukan yang oleh umat dijadikan sebagai referensi memberikan arah untuk memikirkan dan menjalankan protokol kesehatan. Insyaallah kita akan segera terbebas dari wabah Covid-19,” pungkas Anies.


Acara ini diawali dengan pembacaan Maulid Nabi Al-Barzanji yang dipimpin oleh Wakil Ketua LD PBNU KH Misbahul Munir Kholil. Selain Kiai Said, Habib Umar bin Hafidz pun memberikan mauizhoh hasanah berupa amanat dan pesan untuk PBNU. Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa ditutup Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dengan doa.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search