skip to Main Content
NU Hong Kong Jadi Solusi Permasalahan Pekerja Migran Indonesia

NU Hong Kong Jadi Solusi Permasalahan Pekerja Migran Indonesia

Jakarta, NU Online

Beragam problematika dihadapi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di berbagai negara, terlebih di Hong Kong. Sebelum pandemi Covid-19 saja, mereka sudah dihadapkan dengan demonstrasi besar yang berlangsung cukup lama sehingga menambah beban kerja mereka.

 

Di tengah kepadatan dan beratnya beban kerja, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hong Kong menjadi solusi dengan menghadirkan pengajian saban Ahad di lebih dari 60 titik. Hal tersebut menjadi oase bagi PMI yang haus akan siraman rohani guna menenangkan dirinya yang telah banyak menghadapi pekerjaan. 

 

“Merasa tenang jika ada siraman rohani,” kata Wakil Ketua PCINU Hong Kong Ika Faelani saat Podcast Diaspora Nusantara Edisi Ketiga mengenai Problematika Buruh Migran dan Khidmah PCINU Hongkong pada Ahad (25/10).

 

Temu dengan saudara sebangsa dan seagama juga menjadi obat lelah ampuh bagi mereka. “Senang kumpul dengan teman-teman,” lanjutnya.

 

Beberapa juga karena haus akan pengetahuan keagamaan mengingat tidak memiliki latar belakang keagamaan yang cukup saat di Indonesia. ini juga yang menginisiasinya untuk membuat Ngaji Fiqih Pekerja Migran yang sudah dilangsung selama beberapa pertemuan hingga sekarang. 

 

Tidak hanya itu, beragam organisasi pekerja juga membuka kegiatan lain di akhir pekannya, seperti kursus masak dari jajanan tradisional sampai makanan ala Barat atau kerajinan tangan sehingga keterampilan mereka terus bertambah.

 

Para PMI juga ada yang melanjutkan studinya di Paket C hingga kampus. Ika sendiri mengaku menjadi guru agama di program Paket C tersebut, juga mengambil kuliah di jurusan komunikasi pada Universitas Terbuka.

 

Problematika PMI juga, menurutnya, sangat kompleks. Beberapa di antara mereka mengalami kekerasan dari majikannya, pekerjaan yang tidak sesuai kontrak, pekerjaan yang terlalu banyak, sakit, sampai dituduh mencuri. PCINU Hongkong hadir mendampingi mereka melalui beragam cara dan kerja sama dengan organisasi lain dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

 

“Kita memberikan pendampingan. Ada teman-teman dari organisasi buruh serikat dan kolaborasi dengan KJRI,” ujarnya.

 

Biasanya, terang Ika, PMI langsung mengadu ke KJRI melalui kontak yang tersediai di media sosialnya. Beberapa juga menyampaikan permasalahannya ke organisasi buruh yang ada di Hongkong. “Itu dilanjutkan ke KJRI,” kata Ketua Voice of Migran Hongkong itu.

 

Tidak hanya itu, PMI juga menyisihkan satu dolar saban hari untuk dimasukkan ke Kotak Infak (Koin) NU Care-LAZISNU Hong Kong. Hasil infak tersebut dikumpulkan melalui majelis masing-masing dan disatukan dengan lainnya sebulan sekali. Dana yang terkumpul setiap bulannya, kata Ika, mencapai sekitar 20 ribu Dolar Hong Kong atau sekitar 40 juta Rupiah.

 

Hasil Koin NU itu digunakan untuk membantu teman-teman bermasalah di Hong Kong, seperti yang sedang sakit atau pendampingan hukum, bahkan untuk bantuan bencana yang terjadi di Indonesia. 

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search