skip to Main Content
Pelatihan Dai Media, NU Jateng Lengkapi Dakwah Manual Dengan Dakwah Digital

Pelatihan Dai Media, NU Jateng Lengkapi Dakwah Manual dengan Dakwah Digital

Semarang, NU Online

Pola berdakwah sangat menentukan perkembangan agama di suatu daerah. Keberhasilan dalam berdakwah tak lepas dari adaptasi terhadap perkembangan budaya suatu masyarakat. 

 

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melengkapi budaya dakwah manual dengan dakwah digital dalam Pelatihan Dai Media di Hotel Muria, Jalan dr Cipto 78, Kota Semarang, Jawa Tengah, Ahad (18/10).

 

Menurut Ketua PWNU Jawa Tengah H Muhammad Muzammil, peran pendakwah atau pewarta dapat memberikan warna tersendiri sehingga muncul sebuah teologi Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan teologi tersebut, Nahdlatul Ulama menjadikannya sebagai garis besar gerakan organisasi yang didirikan pada tahun 1926.

 

“Para ahli hadits dengan kejelasan klasifikasi haditsnya dapat dinikmati produknya sampai sekarang. Melalui hadits-hadist yang diriwayatkan di kemudian hari menjadi sebuah rumusan Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana yang dimaksudkan Nabi, maa ana alaihi wa ashabi,” terangnya.

 

Hasyim Muhammad dalam paparannya mengutip Herbert Marshall Mc Luhan. Akan hadir suatu masa, kata Hasyim, di mana masyarakat akan disatukan oleh perkembangan teknologi. Informasi diakses dengan sangat cepat, sifatnya terbuka, terjadi persamaan persepsi dari orang-orang tentang suatu hal karena informasi yang diperoleh sama, dimensi jarak dan waktu akan lebur.

 

“Jika dunia ini diibaratkan sebagai sebuah desa, masa itulah yang McLuhan perkirakan, dunia akan berwujud sebagai global village,” ujarnya.

 

Dikatakan, Wali Songo berdakwah dengan budaya yang ada saat itu. Karena itu, menurut Hasyim dakwah digital harus digerakkan seiring dengan perkembangan budaya. Kebudayaan masyarakat berubah menjadi budaya digital. 

 

“Pelatihan Dai Media yang dihelat PWNU Jateng ini melatih para dai untuk melebarkan sayap dakwah digital dan ini akan melengkapi dakwah manual yang sudah berjalan selama ini,” tuturnya.

 

Menurutnya, teknologi dan agama seringkali menjadi dua hal yang saling berjauhan dan bahkan berlawanan. Teknologi kerap dianggap oleh sebagian pihak sebagai penghambat dan penyebab kelalaian orang untuk beribadah. Meski demikian, di sisi lain teknologi memiliki dampak yang signifikan dalam aktivitas beragama seseorang, jika media yang ada dapat dimanfaatkan secara tepat guna.

 

“Masyarakat yang ingin belajar agama, bisa mengakses ke NU Online atau yang serumpun. Berbeda dengan santri yang hampir seluruh waktunya untuk mendalami agama,” terangnya.

 

 

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Tengah H Muhammad Aji Nugroho menegaskan, kecepatan arus informasi digital perlu disikapi dengan pesan-pesan dakwah. 

 

“Masyarakat sekarang tidak hanya mengandalkan ulama dalam mendapatkan pengetahuan keagamaan,” ucapnya.

 

Hal itu lanjutnya, menjadikan masyarakat berusaha mengakses berbagai refrensi dari internet untuk bisa belajar agama. “Tantangan NU adalah berdakwah di media sosial. Ini demi generasi bangsa agar tidak salah akses pada situs atau portal yang radikal. Intoleransi ini banyak berawal dari salah akses,” bebernya.

 

Pelatihan Dai Media sejalan dengan hadirnya NU Online Jateng. Menurut Pemimpin Umum NU Online Jateng Syamsul Huda, jurnalisme di era digital merupakan sesuatu yang baru, sehingga banyak hal yang harus dipelajari. 

 

“Media online itu perkawinan antara jurnalistik dengan teknologi internet,” tegasnya.

 

Dari sisi konten lanjutnya, NU Online Jateng juga akan menampilkan data statis pondok pesantren dan pendidikan di lingkungan NU yang ada di Jateng. Sehingga membantu masyarakat yang sedang kebingungan mencari refrensi pesantren dan lembaga pendidikan. 

 

“Ini memang membutuhkan kerja yang ekstra karena perkembangan pesantren juga cukup pesat,” tutupnya. 

 

Kontributor: Ahmad Rifqi Hidayat

Editor: Abdul Muiz


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search