skip to Main Content
Pemahaman Masyarakat Terkait Penurunan Risiko Covid-19 Cukup Baik

Pemahaman Masyarakat terkait Penurunan Risiko Covid-19 Cukup Baik

Jakarta, NU Online

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) mengeluarkan hasil survei ‘Efektivitas Komunikasi Risiko Covid-19 oleh Pemerintah’. Survei dilakukan di Provinsi Jawa Timur, Bali, dan NTB pada 21-28 Juli 2020.

 

Ketua LPBINU M Ali Yusuf mengatakan survei mengemukakan bahwa pesan penting pemerintah terkait penurunan risiko, secara keseluruhan dipahami cukup baik dan efektif oleh responden.

 

“Pesan terkait jaga jarak dan penggunaan masker dapat diikuti dengan mudah oleh responden; begitu juga pesan terkait penggunaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan imbauan ibadah di rumah,” kata Ali Yusuf Selasa (6/10) di Jakarta. 

 

Namun, agaknya responden agak kesulitan untuk menerapkan imbauan terkait jaga kesehatan dan nutrisi. Ketaatan perilaku jaga jarak dilakukan di berbagai tempat: di Rumah (86,30 %), di Tempat Kerja (92,43 %), di Tempat Umum (93,87 %), di Tempat Ibadah (77,71 %)

 

Kemudian, kepatuhan perilaku memakai masker. Masyarakat yang Memiliki Masker Lebih Dari Satu (97,03 %), Menggunakan Masker (94,58 %). Kepatuhan melakukan, menggunakan dan tersedianya fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS): Menggunakan CTPS (86,81 %); Ketersediaan Fasilitas CTPS di Tempat Umum (90,59 %), di Rumah (91,10 %), di Tempat Kerja (92,45 %).

 

Adapun ketaatan menjaga kesehatan tubuh dan mengonsumsi makanan beragam: Olahraga (55,52 %), Menjaga Nutrisi (80,01 %).

 

Hasil survei juga menyebutkan, mobilitas yang dilakukan responden paling tinggi yaitu mobilitas antardesa (37,73%), diikuti mobilitas ke pusat kota (23,01 %), dan mobilitas untuk wisata (8,38%). 

 

Mobilitas ini sangat erat dipengaruhi oleh kebutuhan sosial dan ekonomi, sehingga tak dapat terhindarkan. Terutama setelah pemerintah mencanangkan Adaptasi Kebiasaan Baru, mobilitas ke luar wilayah akan meningkat.

 

Sedangkan prosentase penerimaan responden terhadap penyintas Covid-19. Penyintas positif (25,36 %) lebih tidak diterima daripada penyintas ODP (15,03 %) atau penyintas yang meninggal (14,38 %) untuk dikebumikan diwilayahnya. Hal ini ditengarai karena responden merasa khawatir berinteraksi dengan penyintas yang telah jelas posistif Covid-19. Meskipun demikian, secara umum responden masih cukup menerima para penyintas Covid-19.

 

Ali juga menambahkan survei dilakukan menggunakan metode Purposive Multi-Stage Cluster Sampling, dengan jumlah sampel 978 responden (Laki-Laki 85 %, Perempuan 15 %). Survei ini menggambarkan persepsi dan efektivitas komunikasi risiko pada tokoh agama dan tokoh masyarakat lokal atau komunitas, serta pemerintah desa.

 

Survei tersebut bekerjasama dengan Pusat Studi Pengurangan Risiko Bencana Universitas Islam Raden Rahmat (PS PRB UNIRA) Malang melalui SIAP SIAGA Palladium dengan dukungan Pemerintah Australia.

 

“Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui efektivitas komunikasi risiko Covid-19 oleh pemerintah kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemerintahan lokal desa di Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat,” imbuh Ali Yusuf.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Alhafiz Kurniawan

 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search