skip to Main Content
Pembelajaran Tatap Muka Di Pesantren Lebih Siap Dengan Mitigasi Covid-19

Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren Lebih Siap dengan Mitigasi Covid-19

Jakarta, NU Online

Para kiai yang mengelola pesantren apalagi pesantren yang sudah memulai pembelajaran, harus bersiap-siap dan wajib memahami apa yang harus dipersiapkan sebagai ikhtiar mencegah Covid-19. Pesantren sendiri satu-satunya lembaga pendidikan yang sudah memulai pendidikan secara tatap muka, tidak secara daring lagi. Karenanya, bagaimana pesantren bisa memperkuat pencegahan Covid-19 adalah satu modal utama dalam pembelajaran tatap muka di pesantren.

 

“Pada dasarnya, pesantren itu dianggap satu kelas community atau komunitas tertutup. Pesantren santrinya bisa arahkan, kemudian aktivitasnya juga dibatasi. Tapi ternyata bisa menjadi hubungan ekonomi sosial dan keamanan baik dari masyarakat sekitarnya maupun kepada orang tua murid,” kata Ketua Satgas NU Peduli Covid-19, dr M Makky Zamzami saat mengisi Pelatihan Strategi Mitigasi COVID-19 di Pesantren, Ahad (8/11).

 

Pesantren perlu memahami pencegahan dan mitigasi ini adalah hal-hal yang harus dipersiapkan saat situasi tidak terjadi Covid-19. “Pencegahan dan mitigasi artinya saat ini bagi yang belum terkena kita harus melakukan pencegahan. Dan mitigasi adalah bagaimana kita misalnya satu daerah yang terdapat potensi,” kata dr Makky.

 

Saat pesantren dinyatakan ada yang positif Covid-19, harus dapat diketahui bagaimana penanganannya. Saat terjadi kasus positif di pesantren, kita harus siap untuk rehabilitasi dan rekonstruksi yang terus berputar. “Sehingga pesantren yang paling penting dari tujuan mitigasi ini adalah memperlambat penyebaran di pesantren,” imbuhnya.

 

Menurut dr Makky, ada 40 persen pesantren yang mempunyai Poskestren atau klinik. Poskestren dan klinik ini juga ada yang melayani rapid test untuk santri dan karyawan yang sering pulang pergi, selain masyarakat umum. Bukan hanya pelayanan rapid test Poskestren, kata dr Makky, juga harus memberikan edukasi apa yang bisa menularkan Covid-19.

 

Hal lainnya yang harud dilakukan adalah bagaimana memastikan santri yang datang itu benar-benar sudah negatif atau terbebas atau bersih. Kemudian tak kalah penting adalah penerapan protokol kesehatan selama santri memulai pembelajaran.

 

Pewarta: Musthofa Asrori

Editor: Kendi Setiawan

 


 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search