skip to Main Content
Peneliti Australia Sebut Mbah Hasyim Dorong NU Jadi Komunitas Moral

Peneliti Australia Sebut Mbah Hasyim Dorong NU Jadi Komunitas Moral

Bogor, NU Online

Peneliti Australian National University (ANU), James J Fox, menyebut pendiri Nahdlatul Ulama Hadratusy Syekh KH M Hasyim Asy’ari telah mendorong NU menjadi komunitas moral. Dorongan tersebut tercermin dalam buku kumpulan tulisan karya Mbah Hasyim berjudul Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah.


“Titik tolak saya adalah buku kecil -lebih ke buklet daripada buku- berjudul Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari yang terbit pertama kali pada 1999 dengan pengantar pendek oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),” kata Fox dalam International Symposium on Religious Life (ISRL) 2020 yang dihelat Balitbang Diklat Kemenag di Cisarua Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/11).


“Saya ingin memulai presentasi ini dengan memberikan beberapa ide tentang apa yang saya anggap sebagai ‘komunitas moral’ dan bagaimana saya menggunakan ide ini sebagai kerangka konseptual untuk mempertimbangkan komunitas moral tertentu,” ujarnya mengawali paparan yang ia sampaikan secara virtual.


Fox mengatakan, komunitas moral adalah komunitas yang ikatan hubungannya telah diciptakan oleh partisipasi anggotanya dari generasi ke generasi dan didukung oleh keterlibatan mereka di era kekinian.


“Ada banyak hal penting yang disajikan secara ringkas dalam buku tersebut. Tetapi, yang paling mengejutkan saya adalah penekanan berulang Hasyim Asy’ari pada ‘persaudaraan (rahim) yang harus terus disambung’. Ini adalah seruan yang jelas untuk penciptaan komunitas moral,” tandas Fox.


“Faktanya, mayoritas 40 Hadits yang dikutip Hasyim Asy’ari sebagai dasar-dasar dari Jami’iyyah Nahdlatul Ulama merupakan seruan untuk memperkuat NU sebagai ‘komunitas moral’ itu sendiri,” sambungnya.


Menurut Fox, gagasan ini memiliki beberapa dimensi kunci. Pertama, kekhasan komunitas ini berasal dari anggotanya. Kreativitas dari hubungannya sangat kompleks, majemuk, dan beragam.


Sejatinya, kata dia, ini merupakan proses komunal. Kedua, kreativitas ini bersifat historis dalam bentuk karya banyak generasi.


“Ketiga, ini melibatkan keterlibatan berkelanjutan dan diterusan oleh generasi sekarang yang mengakui dan menghormati kontribusi generasi sebelumnya. Keterlibatan saat ini mungkin yang paling kompleks dari dimensi ini. Terpenting adalah ritual bersama, baik besar maupun kecil, yang mengikat komunitas,” tegasnya.


Sebagai konsep analitik, menurut Fox, ia memiliki dimensi lebih lanjut yang ia anggap penting. Batas-batas komunitas moral cenderung keropos. Ia dapat diperpanjang dan dengan demikian berpotensi terbuka. Akan tetapi, bukan tanpa penentuan internal yang jelas.


“Selain itu, komunitas moral umumnya adalah ciptaan yang ‘diterima begitu saja’. Banyak dari apa yang luar biasa dan khas diinternalisasi di antara anggotanya. Pengetahuan dan praktik diam-diam yang tidak pernah secara eksplisit dicatat,” tuturnya.


Ciri-ciri eksplisit tertentu dari sebuah komunitas mungkin menawarkan sinyal ke luar tentang identitasnya, tetapi banyak -bahkan tak terhitung- praktik-praktik yang tampaknya kecil dan biasanya implisit yang mengikat anggota satu sama lain dan memberi makna pada kehidupan sehari-hari dalam komunitas tersebut.


Dalam pandangan Fox, Mbah Hasyim juga membuat eksplisit beberapa fitur yang menentukan Jam’iyah ini seperti kepatuhan pada mazhab Syafi’i dengan sentralitas ajaran Abu al-Hasan al-Asy’ari bersama dengan mereka tentang tasawuf, dari Imam al-Ghazali dan Iman Abi al-Hasan al-Syadzili.


Pewarta: Musthofa Asrori

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search