skip to Main Content
Perhelatan MTQ Nasional Bikin Ekonomi Kreatif Musiman Kembali Aktif

Perhelatan MTQ Nasional Bikin Ekonomi Kreatif Musiman Kembali Aktif

Padang, NU Online

Sejak pandemi Covid-19 datang, industri ekonomi kreatif musiman yang hadir di agenda-agenda khusus pun tumbang. Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional Ke-28 Tahun 2020 membuka kembali jalan usaha para pedagang musiman itu.


Diki Erwinsyah, salah satu pedagang, mengaku MTQ Nasional ini menjadi ajang pertama jualannya. Baginya, pandemi cukup memberatkan kehidupannya sehingga memulai jualan perdana tentu saja tidak ringan.


“Kita menganggapnya ini sebagai sumber kebutuhan sehari-hari. Nggak ada event 1 tahun ya berat banget Apalagi ini acara perdana,” katanya kepada NU Online di halaman Masjid Raya Sumatera Barat pada Selasa (17/11).


Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah itu mengaku sudah lima tahun berjualan kaos agenda tertentu. Setidaknya, ia sudah berjualan di tiga gelaran MTQ Nasional, mulai dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (2016); Medan, Sumatera Utara (2018), dan Padang, Sumatera Barat (2020).


Mengingat pandemi, tentu masa-masa awal jualan ini menurutnya sangat jauh berbeda dengan dua MTQ sebelumnya yang dia ikuti.

 

“Di Medan itu lumayan banyak karena tempat berjualannya satu tempat, acaranya di satu tempat, ada festivalnya. Kalau di sini kan nggak ada lagi, pas pandemi seperti ini,” katanya.


Meskipun demikian, beberapa pengunjung silih berganti datang, menanyakan harga-harga kaos yang dijajakannya.


Diki tidak sendiri. Ia dibantu rekannya asal Banyumas, Jawa Tengah. Lelaki yang disebutnya sebagai Roni itu sibuk melayani pembeli, menjelaskan harga setiap kaosnya.


“Yang pendek 50 ribu, yang panjang 60 ribu. Semua ukuran sama saja,” jelasnya.


Mereka menyediakan kaos sablon bertuliskan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional Ke-28 dengan beragam model gambar dan beberapa pilihan warna.


Diki mengungkapkan bahwa saban kegiatan, biasanya ia membawa 150 lusin atau 1.800 potong baju. “Kita bawa 5 karung dari kampung,” ujarnya.


Ia mengaku harus menanggung risiko jika barang dagangannya tidak laku. Pasalnya, semua kaos yang dibawanya sudah disablon dengan nama agenda yang diikutinya. “Ya kita harus menanggung risiko kalau tidak habis,” katanya.


Sementara itu, Kevin, penjual cindera mata, juga merasakan hal yang sama. Ia mengaku jualannya kali ini agak sepi dibanding dengan MTQ sebelumnya yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, pada 2018 lalu.


“Awal-awal sudah lumayan di sana (Medan), penerapan acaranya kayak biasa, nggak pandemi. Kalau disini agak sepi. Jadi berpengaruh karena yang diharapkan di sini hanya peserta, pengunjung hampir nggak ada,” kata pria 33 tahun itu.


Kevin menjual pernak-pernik MTQ berupa gantungan kunci dan pulpen berlabel MTQ Nasional Ke-28. Cendera mata pertama ia jual dengan harga 5 ribu persatuannya. Tetapi, jika beli satu lusin sekaligus, barang tersebut dihargai 50 ribu.

 

Sementara cindera mata kedua (pulpen) ia hargai mulai dari 5 ribu, 10 ribu, hingga 20 ribu. Jika beli satu lusin, harganya menjadi 50 ribu, 100 ribu, dan 200 ribu.


Pria asal Bukittinggi itu mengaku beberapa barang jualannya diproduksi sendiri di rumah. Gantungan kunci yang ia jual dibuat dari bahan akrilik. Ada juga yang dibeli dari tempat lain bahan asalnya, ia melabelinya di rumah.


Secara keseluruhan, Kevin menjual sebanyak 2.200 barang cendera mata. Barang-barang berlabelkan nama acara ini memang sangat dicari oleh pengunjung, khususnya peserta MTQ. Zahratun Nida salah satunya. 


Dara asal Bima, Nusa Tenggara Barat, itu mengaku setiap mengikuti ajang MTQ selalu mencari cendera mata sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya.


“Setiap tahun wajib nyari oleh-oleh buat teman-teman,” kata peserta MTQ Nasional Ke-28 cabang Tahfiz 1 Juz Tilawah itu.


Santri Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, itu menyampaikan bahwa oleh-oleh menjadi media agar MTQ tidak hanya dirasakan olehnya saja, tetapi juga rekan-rekannya, bahkan memotivasi mereka untuk turut serta ambil bagian di ajang berikutnya.


“Inilah buat biar nggak ngerasain MTQ sendiri dan buat motivasi teman-teman juga,” ujar perempuan yang juga menjadi peserta pada MTQ Nasional Ke-27 di Medan, Sumatera Utara itu.


Zahratun Nida dan pengunjung lainnya terlihat menggunakan masker dengan rapat. Pun para penjual di sana.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search