skip to Main Content
Peringati Hari Santri, GMNU Banyumas Gelar Baca Puisi

Peringati Hari Santri, GMNU Banyumas Gelar Baca Puisi

Banyumas, NU Online 

Satu persatu dari mereka naik ke atas panggung, lalu membacakan puisi yang sudah mereka pilih. Mereka bukanlah penyair, bukan juga sastrawan, mereka hanya pemuda pemudi desa yang mencoba menghormati Hari Santri 22 Oktober 2020 lewat pembacaan puisi hadrah kiai. 

 

“Ini merupakan pertama kalinya saya membaca puisi, dan ditonton banyak orang,” kata Ramidi, anggota Banser Ajibarang yang kesehariannya menjadi petani itu.  Perasaan yang sama juga ungkapan oleh Ahmad Sobari, anggota Ansor Sawangan yang bekerja sebagai buruh serabutan. Dia mengaku sangat grogi dan gemetar ketika membaca puisi. 

 

“Ini hal yang baru bagi saya, saat di atas panggung kaki saya gemetar, ” jelasnya. 

 

Ramidi dan Ahmad Sobari merupakandi antara 37 peserta di acara khatmil buku puisi hadrah kiai yang diadakan oleh Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang, Rabu (21/10) di wana wisata Igir Pulasari, Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

 

Hadrah Kiai adalah buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Raedua Basha. Buku setebal 116 halaman ini berisi 37 puisi tentang kiai-kiai Nusantara. Hadrah kiai, menurut Raedu berarti menghadirkan sosok para kiai lewat syair dan puisi.  

 

“Hadrah itu hadir, atau kehadiran,” jelasnya ketika memberikan sambutan secara virtual lewat Google Meet. 

 

Penyair asal Pamekasan Madura itu juga sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, menurutnya ini adalah monetum pertama kalinya buku puisi hadrah kiai dibacakan sampai selesai. 

 

“Saya sangat senang, karya saya bisa diapresiasi dengan sedemikian rupa, terima kasih GMNU Ajibarang,” katanya. 

 

Pembina GMNU Ajibarang, Slamat Ibnu Ansori kepada NU Online, Senin (26/10) menjelaskan, acara khatmil hadrah kiai digelar untuk memeriahkan Hari Santri 22 Oktober 2020. Selain itu juga untuk menghayati para kiai-kiai Nusantara melalui karya sastra dan juga untuk mendorong minat literasi generasi muda NU Ajibarang. 

 

“Kami di sini mengkhatamkan buku puisi hadrah kiai karya Raedua Basha, yang dibaca secara bergantian oleh 37 orang, ” katanya. 

 

Menghayati ketokohan dan sejarah para kiai lewat puisi, menurut pria yang akrab disapa Slamet dia itu merupakan cara alternatif yang efektif untuk mengenalkan kiprah para kiai Nusantara dan perjuangannya terhadap bangsa Indonesia. 

 

“Ini lebih asyik, sambil diiringi petikan akustik yang menghibur juga kita bisa mendapatkan pelajaran berharga dari puisi yang dibaca,” tegasnya. 

 

Sekretaris panitia kegiatan Tarno mengatakan, peringatan Hari Santri di tengah pandemi ini dilaksanakan tanpa mengabaikan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. 

 

Terkait hal itulah, tanpa mengurangi kekhidmatan acara, para panitia dan peserta tetap patuh untuk menggunakan masker, menjaga jarak, dan hal lainnya. 

 

“Alhamdulillah seluruh acara dari awal hingga akhir berjalan dengan lancar. Kami berterimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini hingga berjalan lancar,” katanya.

 

Selain menggelar khatmil puisi, GMNU Ajibarang juga menggelar acara apel peringatan Hari Santri yang dilakukan di puncak bukit Igir Pulasari. Diketahui bahwa Igir Pulasari adalah rintisan tempat wisata yang kini sedang dikelola oleh komunitas Lembaga Masyarakat Desa Hutan Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang. 

 

“Diharapkan nantinya lokasi tersebut dapat menjadi bagian untuk pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa setempat,” pungkasnya.

 

Kontributor: Kifayatul Ahyar

Editor: Abdul Muiz


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search