skip to Main Content
Peringati Hari Santri, NU DKI Jakarta Bincang Dakwah Moderasi

Peringati Hari Santri, NU DKI Jakarta Bincang Dakwah Moderasi

Jakarta, NU Online

Dalam rangka memperingati Hari Santri, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta akan menggelar webinar bertajuk Dakwah Moderasi Beragama di Medsos: Upaya Merawat Demokrasi di Tengah Pandemi pada Senin (19/10) mendatang. 


Webinar tersebut akan menghadirkan beberapa tokoh untuk menjadi pembicara. Beberapa di antaranya adalah Juru Kepresidenan Indonesia Fadjroel  Rachman, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Ali Ramdhani, Staf Khusus Menteri Agama Kevin Haikal, Pendakwah Ustadz Yusuf Mansur, Founder Alvara Research Center Hasanuddin Ali, dan Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas. 


Ketua PWNU DKI Jakarta KH Syamsul Maarif menjelaskan bahwa webinar ini akan memberikan pemahaman soal bagaimana berdakwah dengan mengedepankan prinsip moderasi. Prinsipnya, tidak kasar tetapi juga tidak terlalu lunak. 


“Misalnya sewaktu-waktu kritik terhadap pemerintah itu penting tetapi tidak boleh dengan mencaci-maki. Kita wajib mengritisi kebijakan pemerintah. Berani menyampaikan kebenaran tetapi harus santun,” jelas Kiai Syamsul kepada NU Online, pada Kamis (15/10).


Ditegaskan, Nahdlatul Ulama tetap melancarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah tapi tidak dengan kebencian dan caci-maki. Hal yang disayangkan, tambahnya, selama ini banyak orang yang mengatasnamakan dakwah, tetapi isinya mengandung unsur kebencian dengan dalih nahi munkar. 


“Jadi moderasi itu artinya tidak memaksanakan kehendak,” tuturnya.


Lebih jauh, saat ini para dai juga harus menyampaikan dakwah yang moderat melalui media sosial agar menciptakan kondisi media sosial yang kondusif di masa-masa pandemi ini.


“Media sosial saat ini adalah sarana berdakwah. Jadi para dai terutama di era pandemi ini harus pandai-pandai memanfaatkan media sosial secara baik untuk kepentingan dakwah,” katanya.


Ia menegaskan, saat ini para dai harus sudah benar-benar melek media sosial. Sebab, satu-satunya jalan untuk dakwah efektif adalah media sosial. Kalau dakwah masih menggunakan cara-cara lama, jangkauannya sangat kecil. Sementara orang jarang yang mau datang ke masjid di masa pandemi ini. Terlebih ada larangan untuk berkerumun. 


“Tapi proses dakwah tidak boleh berhenti. Dakwah harus tetap dilakukan, terutama melalui atau menggunakan saluran di media sosial,” ucap Kiai Syamsul.


“Saya mendorong anak-anak muda NU untuk bisa merawat dan mengelola media sosial atau media online. Hal itu agar semua kegiatan NU DKI Jakarta ini bisa dimaksimalkan di media sosial,” pungkasnya.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search