skip to Main Content
Pesantren Seperti Pohon Yang Tak Bisa Lepas Dari Akarnya

Pesantren Seperti Pohon yang Tak Bisa Lepas dari Akarnya

Pringsewu, NU Online

Di antara tanda bahwa sebuah pesantren mendapatkan barakah dan memberi manfaat adalah tetap eksis dan terus berkembang walaupun sang muasis (pendiri)-nya telah meninggal dunia. Namun perkembangan pesantren untuk seterusnya juga tidak akan terlepas dari barakah para pendirinya. Mustajabnya doa para muasis memiliki andil penting sehingga pesantren bisa terus berkembang.

 

“Jadi penerusnya jangan bangga dulu. Kemajuan pesantren sekarang adalah maqbulnya doa para pendiri pesantren terdahulu,” kata KH Ahmad Zainuri Faqih, Pengasuh Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri saat memberikan mauidzah hasanah pada Haul para pendiri Pesantren Mathlaul Huda Ambarawa, Pringsewu, Lampung, Senin (2/11).

 

Menurut Kiai Zainuri, tugas para penerus adalah mengelola pesantren melalui sistem yang baik dengan memaksimalkan potensi yang ada dalam pesantren. Bidang kurikulum, pembangunan, ekonomi, dan sebagainya yang dimiliki oleh para dzuriyah (keluarga) pesantren harus dikerahkan dan saling bersinergi.

 

“Yang pintar ngajar, yang pintar ekonomi, yang pintar manajemen silahkan membangun pesantren sesuai keahliannya,” tambah Kiai Zainuri.

 

Jumlah santri yang banyak dan bangunan yang besar menurut Kiai Zainuri bukanlah untuk ‘bangga-banggaan’. Jadikan perkembangan pesantren sebagai wujud bersyukur bahwa banyak generasi yang cinta terhadap ilmu dan agama dan nantinya akan menjadi penerus dalam menghidupkan agama Islam.

 

Mengikuti perkembangan zaman, pesantren saat ini juga harus mampu beradaptasi dengan sistem pendidikan yang sesuai. Saat ini sudah banyak pesantren yang memiliki lembaga pendidikan formal dengan tetap mempertahankan kekhasannya yakni pendidikan diniyah salafiyah.

 

Ini juga menurut Kiai Zainuri merupakan langkah untuk memaksimalkan potensi dan peran santri saat nantinya terjun ke tengah masyarakat. Santri harus memberi manfaat besar dalam kehidupan dengan memegang posisi-posisi penting dalam tatanan kehidupan sosial.

 

“Santri harus bergerak dinamis, tidak diam saja. Posisi penting harus dipegang santri. Karena santri sudah dibekali nilai lebih seperti akhlakul karimah, ketakwaan, dan karakter yang teruji. Semoga santri semua meraih S3: Shaleh, Selamet, dan Sukses,” harapnya.

Pesantren seperti pohon

Senada dengan Kiai Zainuri, Pengasuh Pesantren Al Qadir Batutegi, Tanggamus, Lampung KH Musyafa yang juga memberi mauidzah hasanah mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan para muasis pesantren walaupun sudah tiada lagi. Di antara wujudnya adalah dengan menggelar haul dan senantiasa mendoakannya.

 

Ia mengibaratkan pesantren seperti pohon yang tidak akan mungkin bisa tumbuh dan berbuah dengan baik jika terlepas dari akarnya. Ketika sebuah pohon rontok daunnya dan patah ranting serta dahannya, tidak perlu khawatir selama pohon itu masih menyambung dengan akarnya.

 

“Selama masih nyambung dengan para pendahulunya, jangan khawatir, pasti akan terus tumbuh. Perkembangan pesantren ini merupakan bukti dari jariyah para pendahulu,” katanya.

 

Kiai Musyafa menambahkan bahwa kecintaan terhadap pesantren dan para muasis akan mendatangkan semangat tersendiri dalam membangun pesantren. Dengan cinta maka semua perjuangan dalam mengembangkan pesantren akan tidak terasa berat. “Karena dalam cinta tidak ada derita,” ujarnya.

 

Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search