skip to Main Content
Pesantren Tetap Eksis Hadapi Dinamika Perkembangan Dunia

Pesantren Tetap Eksis Hadapi Dinamika Perkembangan Dunia

Jakarta, NU Online

Beragam dinamika yang terus berkembang di dunia tak mengikiskan pesantren untuk tetap eksis dalam berkontribusi bagi bangsa dan negara. Keberadaannya memberikan nilai positif berupa transmisi pengetahuan dan pancaran ruhaniah, hingga mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.

 

Begitulah Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur KH Reza Ahmad Zahid mengawali pembicaraannya saat menjadi narasumber pada Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Seri 3. Muktamar dalam rangka Hari Santri ini bertema Strategi Pengembangan Pendidikan Pesantren Pasca Lahirnya UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 berlangsung Selasa (13/10).

 

Belum lagi soal kontribusi para alumninya yang sudah tidak dapat terhitung lagi jumlahnya, dari penyebaran ilmu pengetahuan hingga membidani kemerdekaan. Hal ini, menurutnya, didasarkan pada semangat prinsip pesantren, yaitu tafaqquh fiddin.

 

“Apa pun perkembangan yang terjadi, pondok pesantren tidak pernah mengubah prinsip dan spiritnya,” kata kiai kelahiran Surabaya 40 tahun lalu itu.

 

Perubahan yang ada di lingkungan pondok pesantren, bila dicermati bukanlah menggesernya dari rel utama. Perubahan yang ada, menurutnya, kebanyakan perkembangan pesantren, seperti sistem pendidikan dan pembelajarannya. Cara bandongan dan sorogan sebagai dua sistem yang diwariskan sejak dahulu masih tetap dijalankan di samping ada sistem madrasah yang juga diterapkan setelahnya, hingga pembelajaran secara virtual yang baru-baru ini mulai berkembang.


Perkembangan yang ada di pondok pesantren juga menambah materi ajar tanpa menghilangkan materi dasar yang sudah menjadi tradisi turun-temurun sampai sekarang masih tetap eksis dengan berbagai kekhasannya. Ada pesantren yang khusus mengajarkan ilmu nahwu, ilmu tasawuf, kebatinan, ketabiban, Al-Qur’an, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit pesantren yang menambahkan materi umum, seperti bahasa dan sastra Indonesia dan Inggris.

 

Perkembangan yang terjadi di pesantren juga, lanjutnya, terjadi dengan wujud penambahan lembaga formal dan non formal, atau terdapat program ekstrakurikuler. Namun ia menggarisbawahi bahwa perkembangan yang terjadi semua itu, tidak mengubah prinsip pesantren yang sudah mengakar dan sudah membudaya.

 

Makna turunan prinsip pesantren

Corak dan variasi pesantren yang beragam itu tidak menghilangkan jenisiusitas dan orisinalitas pondok pesantren. Mereka tetap mengedepankan prinsip utama yaitu li yatafaqqahu fiddin. Makna prinsip utama tersebut diturunkan dalam dua aspek, setidaknya, yaitu intelektualitas dan spiritualitas.

 

Prinsip intelektualitas, menurutnya, berarti pondok pesantren mengajarkan santrinya untuk menjadi seorang yang mengombinasikan pengetahuan dan realitas yang dihadapi di tengah masyarakat.

 

Sementara itu, spiritualitas juga bagian dari tafaqquh fiddin. Ia menjelaskan bahwa keterangan seorang kiai itu diterima oleh para santri, kemudian dia mengalami proses penyucian diri (tazkiyatun nafs), lalu mewujud dalam aksiologinya berupa akhlak mulia.

 

“Dia selalu mengedepankan akhlakul karimah kemudian pada akhirnya dia memiliki satu sifat yang tawajjuh ilallah ketika dia beribadah. Jadi, lengkap sudah,” pungkas Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu.

 

Oleh karena itu, KH Ulil Absar Abdalla dan Nyai Hj Badriyah Fayumi juga sepakat bahwa pengajian secara virtual atau daring tidak dapat menggantikan proses pengajian secara luring mengingat ada ruang yang tidak bisa diisi darinya, yakni pembentukan karakter para santri melalui teladan kiai yang ditunjukkan selama 24 jam penuh.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search