skip to Main Content
Puncak Hari Santri PBNU Doakan Keselamatan Dunia

Puncak Hari Santri PBNU Doakan Keselamatan Dunia

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperingati Hari Santri melalui kegiatan Doa Tolak Bala untuk Keselamatan Dunia. Kegiatan diikuti ratusan santri  yang berasal dari berbagai pesantren secara virtual dan beberapa pengurus PBNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/10) malam.  

 

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Abdul Ghaffar Razin mengatakan, dalam momentum hari santri di tengah pandemi Covid-19 ini, santri harus tetap istikamah menjalankan kewajibannya menimba ilmu sebanyak-banyaknya di pesantren. 

 

Kata Gus Rozin, aktivitas di pesantren merupakan penempaan diri yang akan membentuk akhlakul karimah sebagaimana tujuan awal dibangunnya pesantren yakni membentuk akhlak anak bangsa. 

 

“Pendidikan pesantren juga tidak hanya mempertebal iman, tidak hanya pendidikan keagamaan tetapi juga untuk mencintai tanah air. Mbah Wahab sudah menyampaikan bahwa hubbul wathan minal iman,” kata Gus Rozin saat memaparkan kata sambutannya. 

 

Selanjutnya, Gus Rozin melaporkan ada 100 pesantren yang terpapar Covid-19. Bahkan beberapa kiai pengasuh pesantren wafat di sela-sela berkembangnya Covid-19 di Indonesia. 

 

“Dan, hampir 4000 santri yang terpapar Covid-19, tentu ini sangat serius,” tuturnya. 

 

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak pada kesehatan, namun juga ekonomi, pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan. 

 

Dari sisi kesehatan, Covid-19 menjadi penyebab kematian lebih dari 350 ribu nyawa, ratusan tenaga medis, agamawan, dan akademisi. Sementara dari sisi ekonomi, Covid-19 menyebabkan guncangan yang mendisrupsi ekonomi dunia. Dari sisi pendidikan, Covid-19 telah mengubah lanskap dunia pendidikan, termasuk pesantren. 

 

Lalu, dari sisi keagamaan, Covid-19 telah mempengaruhi berbagai kaifiyyah ubudiyyah mulai dari shalat, umrah, haji,  hingga perawatan jenazah. Tak hanya itu, lanjut Kiai Said, dari sisi kebudayaan, Covid-19 telah mengguncang praktik kebudayaan yang berbasis komunalisme masyarakat. 

 

“Penanganan Covid-19 ini jelas membutuhkan keterlibatan multi-pihak. Pemerintah, masyarakat ekonomi masyarakat sipil seperti NU, Muhammadiyyah, dan lainnya dituntut untuk bekerja sama,” katanya. 

 

Hadir pada kegiatan ini Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang mengikuti dari kediamannya di Surabaya, Jawa Timur. Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Ketua LDNU H Agus Salim dan pengurus LDNU H Misbachul Munir. 

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search