skip to Main Content
Rektor Uninus: Jadi Penutur Bahasa Sunda Harus Kita Syukuri Sebagai Nikmat Allah

Rektor Uninus: Jadi Penutur Bahasa Sunda Harus Kita Syukuri sebagai Nikmat Allah

Rektor Uninus: Jadi Penutur Bahasa Sunda Harus Kita Syukuri sebagai Nikmat Allah
Bandung, Uninus.ac.id
Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus) Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, M.S. mengomentari peristiwa yang dalam 2 hari ini menjadi trending topic di Twitter, yaitu soal penggunaan bahasa Sunda oleh seorang Kejati yang mendapat kecaman dari seorang anggota DPR RI .

Rektor kemudian mengutip firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 22. “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” Pada ayat lain, yaitu Ibrahim ayata 4 Allah berfirman “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya.”

Bangsa Indonesia, kata Rektor, sebagaimana Kemendikbud RI ada 718 bahasa daerah. Bahasa-bahasa itu diakui dalam konstitusi negara sesuai Pasal 32 ayat (2) UUD 1945 berbunyi, “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.”

Berdasarkan 2 ayat itu, menurut Rektor, betapa Allah sangat menghargai bahasa sebuah kaum yang berbeda-beda ini. Hal itu tiada lain karena Allah pulalah yang menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku. Perbedaan itu bukan untuk saling menjelek-jelekkan, tapi untuk saling mengenal dan menghormati.

“Saya sebagai sebagai orang Sunda otomatis menjadi penutur bahasa Sunda. Bahasa Sunda menjadi bahasa ibu saya,” katanya, Kamis (20/1/2022).

Menurut Rektor kelahiran Garut ini, menjadi seorang penutur bahasa Sunda adalah taqdir Allah yang tak bisa ditolak karena kita tak diberikan pilihan. Negara bisa pindah, rumah bisa pindah, tapi kita tak bisa pindah menjadi etnis lain.

“Oleh karena itu, menjadi penutur bahasa Sunda seharusnya dijadikan sebagai syukur nikmat atas amanah yang diberikan Allah. Mensyukuri nikmat itu dengan mencintai, mempertahankan dan menggunakan bahasa Sunda tersebut tanpa harus menjelekkan bahasa yang lain. Dan jika kita tidak mensyukurinya berarti kita kufur nikmat,” jelasnya.

Dengan demikian, lanjutnya, siapapun orangnya, pejabat atau rakyat, kaya atau miskin, harus menghormati bahasa orang lain. Jika menghina bahasa orang lain berarti menghina penuturnya.

“Kita juga harus memaafkan jika orang yang menghina itu meminta maaf,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search