skip to Main Content
Santri Perlu Bangun Kultur Dialog Tentang Islam Dan Papua

Santri Perlu Bangun Kultur Dialog tentang Islam dan Papua

Jakarta, NU Online

Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta, Ahmad Suaedy mengatakan jika melihat sejarah ke belakang Islam Nusantara, baik di Jawa ataupun Melayu, punya hubungan yang sangat historis. Diperkirakan mulai abad ke-15 ada hubungan yang sangat erat dengan antara Papua dengan kerajaan di Maluku. Bahkan, di Papua sempat berdiri beberapa ‘kerajaan’ meski berbeda bentuknya dengan kerajaan di Maluku dan Jawa.

 

“Di sana, kerajaan itu semacam kepemimpinan yang terpusat dengan banyak anggota. Islam sudah menjadi kultural di beberapa daerah, terutama di Papua Barat,” kata Ahmad Suaedy dalam Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Seri Kelima.

 

Karena itu, menurutnya sekarang ini sebenarnya ada sejarah yang sangat mendalam dan belum tergali. “Islam menjadi bagian dari Papua, kalau kita lihat Papua menjadi satu kesatuan (West Papua waktu itu), jauh lebih dulu Islam daripada Portugis maupun Belanda masuk ke Papua,” jelas pria yang juga anggota Ombudsman RI itu.

 

Namun, kata Suaedy, memang agak aneh ketika topik tentang Papua hampir tidak memperoleh perhatian di kalangan santri. Santri dalam arti luas, termasuk di perguruan tinggi atau di pesantren, juga termasuk di luar Jawa dan Maluku, Papua kurang mendapat perhatian.

 

“Jadi ini ada sesuatu historis yang mungkin terputus dan harus dibangkitkan lagi kesadaran akan persaudaraan tiga unsur ini: Melayu, Jawa, dan Melanesia. Kita mesti melakukan ini (membangkitkan kesadaran historis) untuk bisa mendorong agar terjadi semacam dialog kultural,” tegasnya. 

 

Beberapa tahun ini, Papua sekarang ini lebih dipenuhi dengan berita pelanggaran HAM, kekerasan, aspirasi merdeka, dan konflik. Seolah Papua tidak ada basis kultural yang dalam, baik antarsuku maupun antargama atau Islam itu sendiri. Padahal, dalam penelitian Suaedy beberapa waktu lalu, ia bertemu dengan kelompok Islam OAP (Orang Asli Papua).

 

“Jadi Islam Papua juga punya organisasi dan mereka melakukan pengorganisasian, tapi hampir tidak pernah terdengar. Bahkan sangat minim informasinya ke dunia luar,” lanjut dia. Namun, kata Suaedy, “Ini bukan kesalahan orang Papua, tapi kesalahan kita karena tidak melakukan eksplorasi penelitian atau peliputan.” 

 

Oleh karena itu yang menjadi pertanyaan,bagaimana santri bisa berkontribusi terhadap perdamaian dan kemakmuran Papua agar sama dengan daerah lain?

 

“Saya ingin mendorong agar para santri ikut berpartisipasi dalam hal membangun kultur dialog dan membangun adat, sehingga bisa membantu pemerintah dan masyarakat Papua dan juga membantu masyarakat di luar Papua untuk berdialog secara intensif,” ujar Suaedy.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search