skip to Main Content
Satgas NU Sebut PSBB Tidak Menurunkan Angka Penderita Covid-19

Satgas NU Sebut PSBB Tidak Menurunkan Angka Penderita Covid-19

Jakarta, NU Online

Satuan Tugas (Satgas) NU Peduli Covid-19 menyebut kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah terbukti tidak berpengaruh terhadap menurunnya jumlah masyarakat terkonfirmasi positif Covid-19. Satgas NU menginginkan kebijakan ini diganti dengan kebijakan baru yang lebih memadai untuk melandaikan Covid-19 di Indonesia. 

 

Ketua Satgas NU dr Muhammad Makky Zam-zami mengatakan, kebijakan PSBB oleh pemerintah gagal karena tak mampu memengaruhi angka positif Covid-19. Tak hanya itu, masyarakat cenderung tidak lagi peduli dengan Corona disebabkan tak adanya imbauan ketat dari pemangku kebijakan. 


 

“Pada dasarnya PSBB  yang diterapkan itu gagal karena angka positif tetap naik ditambah ada demonstrasi dan kasus pasti akan naik tinggi,” kata dr Makky dihubungi NU Online, Senin (12/10) pagi.  

 

Atas ketidakberhasilan PSBB ini, dr Makky mengusulkan agar pemerintah segera menerapkan kebijakan baru yang lebih aplikatif. Menurut dr Makky, saat ini yang bisa diperkuat adalah penggunaan masker oleh masyarakat dan tes massal Covid-19. 

 

Bendahara Lembaga Kesehatan NU ini menjelaskan, penggunaan masker lebih jelas terbukti memberikan pengaruh positif untuk masyarakat terhindar dari Covid-19. Saat ini yang bisa dilakukan pemerintah memperkuat penggunaan masker oleh masyarakat tidak perlu lagi PSBB. 

 

“PSBB gagal, mending dicabut saja. Dibuat stretagi baru jangan PSBB tapi penerapan protokol kesehatan secara menyeluruh di setiap lini dengan pengawasan yang ketat,” ucap dr Makky. 

 

Ia menyebut, kebijakan lain yang saat ini bisa dilakukan pemerintah adalah pemeriksaan massal kepada warga. Tes massal, lanjutnya, dapat memberikan informasi yang akurat seberapa banyak masyarakat kita terkonfirmasi positif Covid-19. Jika sudah diketahui, maka masyarakat tersebut diminta untuk karantina mandiri. 

 

“Jadi menurut saya lakukan pemriksaan secara masif di setiap tempat atau lokasi di daerah Jakarta. Lakukan karantina dan protokol, jadi kalaupun tinggi terkendali,” tuturnya. 

 


Seperti diketahui, masyarakat terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia per Sabtu (10/10) kemarin mencapai 328.952 orang. Dari jumlah tersebut 251.481 orang sembuh, dan 11.765 meninggal dunia. Dengan demikian ada 4.294 orang baru terkonfirmasi positif Covid-19 per Sabtu kemarin. Sementara 3.814 sembuh, dan 87 meninggal dari hari sebelumnya.

 

Pemprov DKI kurangi kebijakan rem darurat 

Di waktu yang sama, Pemprov DKI Jakarta memutuskan mengurangi kebijakan rem darurat secara bertahap dan memasuki PSBB Transisi. Kebijakan ini berlaku mulai Senin (12/10) hari ini sampai dengan 25 Oktober mendatang. Keputusan merujuk hasil evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DKI Jakarta yang menyebutkan adanya pelambatan kenaikan kasus positif. 

 

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, keputusan kembali ke PSBB Transisi didasarkan pada beberapa indikator, yaitu laporan kasus harian, kasus kematian harian, tren kasus aktif, dan tingkat keterisian RS Rujukan Covid-19.

 

“Yang terjadi selama satu bulan ini adalah kebijakan emergency brake (rem darurat) karena sempat terjadi peningkatan kasus secara tidak terkendali yang tidak diharapkan. Setelah stabil, kita mulai mengurangi rem tersebut secara perlahan, secara bertahap,” kata Anis Baswedan.

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search