skip to Main Content

Khutbah Jumat: Soal Berlebih-lebihan dalam Beragama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمَّا بَعْدُ…

Selengkapnya

Beragama dengan Tutur Kata yang Baik

Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (1977: 50) menyebut manusia Indonesia tukang menggerutu. Hanya saja, katanya, mereka tidak berani melakukannya secara terbuka, beraninya di dalam rumah atau bersama kawan-kawannya yang sepaham atau seperasaan dengannya.   Namun, naga-naganya tesis tersebut hari ini…

Selengkapnya
Back To Top
×Close search
Search