skip to Main Content
Tak Kalah Dengan Di Jawa, Maulid Di Mimika Berlangsung Semarak

Tak Kalah dengan di Jawa, Maulid di Mimika Berlangsung Semarak

Mimika, NU Online

Pembacaan shalawat Nabi dalam peringatan maulid dikemas dengan berbagai macam bentuk. Ada sebagian yang dikemas dengan menggarap nadanya, ada nada lokal, Arab, populer, maupun lainya. Ada yang mengemas dengan menggarap alat musik yang dipakai, mulai dari tanpa musik, pakai alat musik lokal, alat musik Arab, Eropa maupun lainnya. Ada juga yang menggarap dari sisi waktu, yakni pagi, sore, malam, bahkan tengah malam atau dini hari.

 

Para santri Mimika, Papua dalam memeriahkan maulid tahun ini mengemasnya dengan nama ‘Gebyar Shalawat Santri’ dengan menggarap aspek tampilan. Hal itu dibuktikan dengan melibatkan lima grup hadrah. Acara ini berbarengan dengan Rutinan Pengajian Kitab Kuning Ahad Legi Pagi (Ahli) yang dilaksanakan awal pekan lalu di Pesantren Darussalam Mimika sejak pagi.

 

Acara dimulai dengan khatmil Qur’an dipimpin oleh Ustaz Hasan dilanjutkan gebyar shalawat santri. 

 

“Saat itu kami membaca maulid Simtud Durar yang diselingi tampilan setiap grup hadrah dengan jatah waktu 10 hingg 15 menit per grup dengan jumlah qasidah menyesuaikan durasi waktu,” kata Ustaz Sugiarso kepada media ini, Kamis (5/11).

 

Ketua Pengurus Pesantren Darussalam Mimika tersebut menjelaskan bahwa grup yang tampil pertama dari Pesantren Darussalam Mimika Km14 dengan membawakan tiga lagu. Setelah diselingi pembacaan rawi, dilanjutkan tampilan grup kedua dari Al-Iklas SP2 membawakan tiga lagu juga. 

 

“Grup ketiga diisi tampilan grup Nurul Musthofa dari Kampung Bhintuka SP13, dan saat pembacaan mahalul qiyam, grup Nurul Mustofa didaulat memimpin dengan diiringi semua grup memukul rebana,” jelasnya.

 

Usai mahalul qiyam, tampil grup Miftauhul Ulum dari Mushala Al-Muhajirin Jalan Srikaya tampil dengan tiga qasidah. Setelah diselingi rawi terakhir, tampil grup Baiturrahman dari Mushala Baiturrahman jalan Serui Mekar.  

 

Untuk penutup dan penyegaran suasana, lain daripada yang lain, di akhir gebyar shalawat tampil grup shalawa ibu majelis taklim dari Kampung Naena Muktipura, dengan genre mirip genjring Cirebonan. Acara gebyar shalawat tuntas setelah memakan waktu sekitar dua jam.

 

Acara ditutup dengan penyerahan tumpeng polo pendem sebagai simbol pergantian generasi dari para sesepuh ke perwakilan grup hadrah yang tampil 

 

“Kita yang tua akan mati dikubur di tanah sehingga kembali menjadi tanah. Namun menumbuhkan tunas-tunas muda, generasi muda, generasi penerus yang menjutkan perjuangannya orang tua yang sudah menjadi tanah,” kata Ustaz Iswahab selaku sesepuh grup hadrah Baiturrahman.

 

Banyak kesan dan emosi yang dirasakan pada acara gebyar shalawat santri yang pertama ini. 

 

“Acaranya luar biasa, saya senang sekali acara hari ini bisa kompak, ” kata Ustadz Nurjaidi selaku pembina grup Nurul Mustofa. 

 

Menurut salah satu pembina grup Miftahul Ulum, Ustaz Andre, grup WA sementara untuk koordinasi ini jangan ditutup. “Saran saja, grup sementara ini tidak usah dihapus, ganti saja menjadi grup komunitas hadrah Mimika atau apa namanya yang bagus. Grup ini bisa buat ajang silaturahim atau sharing skill, supaya grup hadrah di Mimika semakin maju dan berkembang,” harapnya.

 

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Darussalam Mimika merasa haru dan tidak bisa menututupi gejolak jiwanya. 

 

“Saat mahalul qiyam saya tidak kuasa menahan tangis. Tangis bahagia dan rindu,” ungkapnya dengan serius.

 

Begitulah bila orang rantau bertemu dan kian dipersatukan degan panggilan semangat agama. Sebuah perpaduan yang mampu menggetarkan jiwa. 

 

Pewarta: Ibnu Nawawi

Editor: Syamsul Arifin 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search