skip to Main Content
Tiga Kebijaksanaan Yang Harus Dimiliki Guru Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Tiga Kebijaksanaan yang Harus Dimiliki Guru menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Syekh Abdul Qadir Jailani sejak muda adalah sosok yang sangat mencintai ilmu. Hal itu ditunjukkan dengan dia pergi ke berbagai pelosok negeri untuk berguru kepada puluhan ulama di zamannya, di bidang fiqih, ‘aqaid, tafsir, adab, ilmu thariqat, dan sebagainya. Pada umur 17 tahun, Abdul Qadir muda pergi belajar ke Baghdad di Jamia Nizamiyah.

 


KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001) mencatat, pelajaran yang diselami puluhan tahun diperoleh dari guru-guru besar yang terkenal di zamannya dan mempunyai urutan yang bersambung dari misalnya Al-Qadli Abi Said al-Mubarak bersambung pada Syekh Abi Hasan Ali bin Abi Yusuf Al-Quraisyi hingga Abil Qasim Junaidi al-Baghdadi hingga Abu al-Hasan Ali Ar-Ridla, Musa al-Kazim, Ja’far as-Shadiq sampai kepada Muhammad al-Baqir dan Zainal Abidin yang langsung dari Sayyidina Ali, dimana yang belakangan ini memperolehnya dari Rasulullah SAW.

 

Baca juga: Amalan yang Menjadikan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Wali Allah

 


Ucapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang sangat terkenal di antaranya: “Tidak layak bagi seorang guru yang hendak mengajarkan ilmunya kepada orang banyak sebelum menguasai kebijaksanaan tiga perkara; pertama: ilmu al-ulama (pengetahuan ukuran ulama), kedua: siyasat al-muluk (pengetahuan politik raja-raja), dan ketiga: hikmat al-hukama (hikmat kebijaksanaan para hukama). (KH Saifuddin Zuhri, 2001: 41)

 

Riwayat singkat Syekh Abdul Qadir Jailani


Nama lengkap Syekh Abdul Qadir Jailani adalah Sayyid Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Musa Zangi Dausat al-Jailani. Syekh Abdul Qadir dilahirkan di Desa Nif atau Naif, termasuk pada distrik Jailan (disebut juga dengan Jilan, Kailan, Kilan, atau al-Jil), Kurdistan Selatan, terletak 150 kilometer sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran.

 

Baca juga: Tips Belajar Menghormati Orang Lain dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani


Wilayah ini dahulunya masuk ke bagian wilayah Thabarishtan, sekarang sudah memisahkan diri, dan masuk menjadi suatu provinsi dari Republik Islam Iran.

 


Ia dilahirkan pada waktu fajar, Senin, 1 Ramadhan 470 H, bertepatan dengan tahun 1077 M. Abdul Qadir lahir dari pasangan yang taat. Ayahnya bernama al-Imam Sayyid Abi Shalih Musa Zangi Dausat, adalah ulama fuqaha ternama, Mazhab Hambali, dan garis silsilahnya berujung pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW. Sedangkan, ibunya adalah Ummul Khair Fathimah, putri Sayyid Abdullah Sauma’i, seorang sufi terkemuka waktu itu.

 

Dari jalur ini, silsilahnya akan sampai pada Husain bin Ali bin Abi Thalib. Jika silsilah ini diteruskan, akan sampai kepada Nabi Ibrahim melalui kakek Nabi SAW, Abdul Muthalib. Ia termasuk keturunan Rasulullah dari jalur Siti Fatimah binti Muhammad SAW. Karena itu, ia diberi gelar pula dengan nama Sayyid.

 

Baca juga: Resep Rendah Hati menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani

 

Ia lahir sebagai anak yatim. Ayahnya telah wafat sewaktu beliau masih dalam kandungan enam bulan. Dia tumbuh di tengah keluarga yang hidup sederhana dan saleh. Kehidupan Abdul Qodir sangat sederhana dan dikenal sangat jujur. Ia diakui sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah, yang memiliki banyak jamaah dan menyebar dari Nigeria sampai Tiongkok.


Ia juga menulis setidaknya tujuh karangan dan yang paling terkenal adalah Al-Fath al-Robbani yang berisi 60 khutbahnya sepanjang tahun 545-546 Hijriah. Beliau meninggal di Baghdad pada Sabtu, 11 Rabiuts-Tsani 561 H/14 Februari 1166 M di usia 91 tahun.

 


Tarekat pertama kali muncul di Nusantara diperkirakan pada paruh kedua abad ke-16 dan diperkenalkan oleh Syekh Hamzah Fansuri di Aceh. Ia penganut tarekat Qadiriyah yang didirikan Syekh Abdul Qadir Jailani.

 


Dari Aceh, tarekat Qadiriyah kemudian menyebar ke Banten dan Jawa Barat. Menurut Abdul Wadud Kasyful Humam, dalam Tradisi Rakyat Cirebon, Syekh Abdul Qadir Jailani dipercaya pernah datang ke Jawa dan meninggal di pulau tersebut. Bahkan orang-orang dapat menunjukkan makamnya.

 


Dan kepada murid-muridnya, Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan tujuh hal, yakni taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, rida, dan jujur.

 


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search