skip to Main Content
Tumpeng Polo Pendem Meriahkan Tradisi Hari Santri Di Mimika

Tumpeng Polo Pendem Meriahkan Tradisi Hari Santri di Mimika

Mimika, NU Online

Santri adalah siapa saja yang masih mau belajar dan belajar dalam berbagai bentuknya. Dan peringatan hari santri yang dimeriahkan di sejumlah tempat memberikan gambaran betapa beragamnya kegiatan yang digelar.

 

Keragaman kelompok santri inilah yang menjadi salah satu keunikan kegiatan upacara hari santri di halaman Masjid Nurul Hikmah Pondok Pesantren Darussalam Mimika, Papua. Kegiatan dilaksanakan Kamis (22/10). 

 

“Hari ini kita memperingati hari santri di bulan mulia, yakni Rabiul Awwal, bulan kelahiran junjungan kita Nabi Muhammad SAW,” kata Ustadz Sugiarso.

 

Ketua Pengurus Pesantren Darussalam Mimika yang bertindak sebagai pembina upacara tersebut mengajak mengumandangkan mahalull qiyam untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi. 

 

Dalam amanatnya, Ketua Jamaah Istighatsah an-Nahdliyah Mimika ini mengajak peserta untuk meneladani kiai dan santri dalam menjalankan tugas keagamaan dan kebangsaan. 

 

“Santri dan kiai kita selalu mengemban amanat membangun bangsa dan negara tempat kita lahir, makan, minum, tidur, aktivitas hingga di kubur kelak. Santri dan kiai juga memiliki amanat keagamaan, yakni membumikan Islam Aswaja yang rahmatan lil alamin di Nusantara ini,” jelasnya.

 

Peserta upacara ini berasal dari berbagai daerah dan profesi, seperti Kampung Naena Muktipura, Wonosari Jaya, Kadun Jaya, Wanagon, Mwuare, Mapuru Jaya, Koperapoka dan lainnya. Petugas pemimpin upacara adalah tentara, pemimpin paduan suara, Mama Agung adalah ahli pijat dan jamu, pembaca teks UUD 1945 santri bersarung sandal jepit, pengibar bendera adalah santriwati SMP dan berbagai profesi lainnya. 

 

“Ini upacaranya akar rumput, orang kecil, siapa saja boleh ikut demi menggalang kebersamaan,” kata Hj Asmawati, pengurus bidang pendidikan Pesantren Darussalam Mimika.

 

Mereka merasa upacara ini unik dan menarik, di mana amanat pembina upacara malah diisi shalawatan khas NU, seperti Shalawat Thibbil Qulub, Li Khamsatun, Shalawat Nahdliyyah, Shalawat Asyghil. Satu hal lagi yang membuat heboh adalah tumpeng polo pendem.

 

Tumpeng berasal dari kata metu dalan lempeng (lewat jalan yang lurus), yakni sirathal mustaqim. Tumpeng bentuknya kerucut, artinya perjalanan di jalan lurus itu berat sebab perjalanan naik ke puncak gunungan. 

 

“Tidak banyak yang sukses hingga puncak,” terang Ustaz Sugiarso.

 

Menurutnya, polo pendem adalah makanan tradisional Jawa yang diambil dari dalam tanah seperti umbi-umbian. Dari mulai ketela pohon atau singkong, ketela rambat atau telo, mbothe atau talas, bentul, kacang tanah dan sejenis umbu-umbian yang ditanam di tanah. Tanaman yang berasal dari tanah adalah melambangkan asal muasal dan jalan akhir manusia.

 

Di Jawa, telo memiliki filosofi yaitu netheli barang sing olo artinya menanggalkan hal-hal yang buruk. Sedangkan ketela pohon atau kaspe memiliki filosofi karepe sepi ing pamrih yang artinya berniat melakukan sesuatu tanpa pamrih. 

 

“Hal ini dimaksudkan supaya manusia bisa tetap sederhana dalam menjalani kehidupan dan di tengah kehidupan modernisasi,” terang dia.

 

Peristiwa heboh terjadi ketika sesi foto bersama dengan membawa tumpeng polo pendem saat sejumlah ibu tidak sabar merasa gemas dengan keunikan keindahan tumpeng polo pendem. 

 

“Mohon sabar dulu, jangan dimakan, jangan diambili. Kita foto dulu untuk dokumentasi, ” kata Ustaz Sugiarso memberikan pengertian ke jamaah.

 

“Sabar bu, makannya nanti ya,” seru Ustaz Hasyim mengingatkan para ibu. Apa daya kehebohan kalangan bani Hawa tidak bisa dicegah. The power of emak-emak telah menggerogoti tumpeng polo pendem. 

Wis angel, angel tenan tuturane,” teriak sejumlah bapak menirukan gaya komedi sang digandrungi berbagai kalangan.

 

Acara ditutup dengan doa bersama peringatan hari santri dengan potong tumpeng polo pendem oleh Pengasuh Pesantren Darussalam Mimika, Ustaz Hasyim Asyari. Doa juga sekaligus syukuran untuk ulang tahun salah satu pengurus Pesantren Darussalam bidang keuangan, Maryamah. 

 

Begitulah kehebohan terjadi setelah potong tumpeng polo pendem. Para ibu langsung berebut tumpeng polo pendem seperti orang mabuk, luar biasa heboh dan mengasyikkan. 

 

Pewarta: Ibnu Nawawi

Editor: Syamsul Arifin 


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search