skip to Main Content
Upaya Ciptakan Keluarga Bahagia Di Tengah Pandemi Menurut Kiai Luqman Hakim

Upaya Ciptakan Keluarga Bahagia di Tengah Pandemi Menurut Kiai Luqman Hakim

Jakarta, NU Online

Pandemi Covid-19 menyebabkan masa-masa sulit bagi kebanyakan orang. Menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia di era pandemi merupakan sebuah ikhtiar untuk mampu bertahan hidup. 

 

Pakar Tasawuf KH M Luqman Hakim membeberkan cara agar keluarga, terutama pasangan suami dan istri, untuk mampu bertahan meskipun dalam keadaan yang sulit akibat pandemi Covid-19 yang tak berkesudahan.

 

Dalam Diskusi Merasakan Peran Keluarga di Era PandemiKiai Luqman menjelaskan Surat Ar-Rum ayat 21 sebagai bekal untuk menciptakan keluarga bahagia di tengah pandemi. Hal ini bisa dijadikan landasan bagi pasangan suami istri supaya bisa tetap menjalani hubungan dengan baik.

 

Ayat itu berbunyi, “Wa min aayaatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa waja’ala bainakum mawaddatan warahmatan inna fii dzaalika la-aayaatin liqawmin yatafakkaruun.”

 

Artinya, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

 

Menurut Kiai Luqman, ayat yang kerap dibawakan oleh kebanyakan penceramah di Indonesia dalam momentum pernikahan ini serupa penegasan bahwa keluarga (suami-istri) merupakan salah satu di antara ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah. 

 

“Apakah ayat-ayat Allah itu? Ayat-ayat Allah itu sesungguhnya adalah tajalli af’al dan sifatnya Allah. Maujudnya adalah ayat-ayat Allah. Tajalli itu adalah ekspresi tampilan. Jadi kalau Tuhan tampil dengan kinerja dan sifatnya, itu bukan kemudian kita membayangkan bahwa Tuhan bergerak ke sana ke mari,” jelas Kiai Luqman.

 

Oleh karena itu, sebagaimana yang disiratkan ayat tersebut, tugas manusia adalah apabila mampu memandang pasangannya sebagai bagian dari tanda kekuasaan Allah yang hidup, maka akan senantiasa mampu membalikkan keadaan yang sulit menjadi lebih baik.

 

“Keadaan apa pun. Soal ekonomi, sosial, politik, atau bahkan keadaan keluarga yang sedang dilanda kesulitan. Kalau ada sesuatu yang nggak enak, kita sadari bahwa itu adalah kekuasaan dari Allah,” tutur Kiai Luqman dengan pembawaannya yang khas.

 

Itulah mengapa semua nabi dan rasul, kecuali Nabi Isa, melangsungkan atau menjalani pernikahan. Sebab, sesungguhnya pernikahan adalah bentuk dari upaya manusia untuk mewujudkan tanda-tanda kekuasaan Allah ke dalam kehidupan. 

 

Jika demikian, tentu saja tujuannya agar manusia tidak tertutup oleh sejumlah persoalan di dunia dari Allah itu sendiri. Kiai Luqman kemudian meminta kita untuk mampu meneladani Rasulullah dalam menjalani bahtera keluarga.

 

“Rasulullah itu semakin beliau meraih puncak keparipurnaan manusia maka justru semakin manusiawi beliau. Antara lain dengan berkeluarga itu,” ungkap Kiai Luqman.

 

Dalam upaya mengarungi kehidupan, kata Kiai Luqman, Rasulullah sendiri menitipkan kepada umat Islam tiga hal yakni arona wangi, bahagia ketika shalat, dan menikah. Sebab ketiga hal tersebut terdapat ayat-ayat atau tanda kekuasaan Allah yang dapat dijadikan pelajaran sehingga hidup menjadi bahagia.

 

Kiai Luqman kemudian menjelaskan kalimat per kalimat yang ada di Surat Ar-Rum ayat 21 itu. Terdapat ayat yang berbunyi ‘litaskunuu’. Kalimat itu, kini menjadi populer dengan sebutan ‘Sakinah’.

 

“Menurut saya perlu kita kritisi ini (kalimat litaskunuu). Litaskunuu itu bukan Sakinah. Bunyinya litaskunuu, bukan antakunu sakinatan. Litaskunuu itu adalah awal proses manusia mengeram atau membangun satu proses reproduksi,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat ini.

 

Jadi, kata Kiai Luqman, litaskunuu adalah proses menyinggahi dengan keadaan tenteram dan tanpa ada sebuah konflik, karena telah sah di mata Allah menjadi pasangan suami-istri.

 

Artinya, relasi suami dan istri itu merupakan hubungan yang tanpa didasari rasa bersalah. Berbeda halnya dengan yang bukan suami istri. 

 

Dari situ kita akan menemukan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah di dalam sebuah pernikahan akan tumbuh dan tampak sekali. 

 

Secara spiritual, Kiai Luqman pun mencoba menafsirkan ayat ini. Terdapat kalimat yang berbunyi, ‘An khalaqa lakum min anfusikum’ di situ. “Anfusikum itu (artinya) nafsumu. Nafsu ini (proses) pertama kali yang membuat manusia memiliki hubungan interaktif laki-laki dan perempuan yang kemudian disahkan Allah. Kalau tanpa nafsu nggak bakal itu terjadi proses,” jelas Kiai Luqman.

 

Setelah kalimat min anfusikum terdapat kata ‘azwaja‘ yang berarti pasangan. Jadi, nafsu itu hadir ketika ada pasangannya. Secara sufistik, pasangan dari nafsu adalah ruh. Kelak antara nafsu dan ruh akan melahirkan qalbu atau hati.

 

Apabila nafsunya bersih dan bagus maka akan memiliki hubungan yang disebut dalam ayat tersebut adalah ‘litaskunuu ilaihaa’. Di sinilah, tutur Kiai Luqman, ruh itu akan bertemu dengan nafsu yang bersih atau disebut sebagai nafsu muthmainnah (tenang). 

 

“Tujuannya adalah radhiyah mardhiyah atau ridha dan diridhai. (Sehingga) itu akan melahirkan qalbu (hati) dan melahikan keluarga yang berakhlak. Karena keluarga adalah inti sosial,” imbuhnya. 

 

Di ayat-ayat sebelumnya disebutkan juga bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah. Allah pun menjelaskan tentang asal-usul manusia. Setelah hidup, dibentuklah sebuah hubungan sosial yang tentu saja memiliki kondisi yang pasang-surut atau konflik-damai.

 

Kemudian, Kiai Luqman juga menjelaskan bahwa setelah kalimat litaskunuu ilaihaa muncul kalimat berikutnya yakni wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmah

 

“Mawaddah adalah satu bentuk cinta dan kasih sayang, tetapi dari nafsu yang sudah dirahmati Allah. Mawaddah tumbuh dari seluruh ikhtiar kita. Tapi rahmah langsung dari Allah,” jelas Kiai Luqman.

 

“Jadi ayat ini sebenarnya memadukan antara syariat (kasih sayang) di dalam keluarga yang disebut mawaddah dan hakikat kasih sayang yang berada dalam wilayah rahmah,” lanjutnya.

 

Tetapi Kiai Luqman meminta agar umat Islam tidak serta-merta membayangkan, litaskunuu ilaihaa itu bermakna bahwa keluarga berisi ketenteraman semata. “Makna sesungguhnya tidak demikian,” katanya.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search