skip to Main Content
Yussi Perdana Saputera, Dosen Uninus Yang Dapat Hak Paten Komponen Radar

Yussi Perdana Saputera, Dosen Uninus yang Dapat Hak Paten Komponen Radar

Bandung, Uninus.ac.id
Dosen Universitas Islam Nusantara atas nama Yussi Perdana Saputera ST., MT mendapatkan resmi mendapatkan hak paten dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang telah berhasil membuat komponen radar.

Berdasarkan sertifikat paten, komponen yang dibuatnya bernama Pembagi atau Penggabung Daya 2 Jalur dengan Penambahan Filter dan Kopler untuk Aplikasi Radar. Komponen tersebut didaftarkan pada 20 Desember 2016 dengan nomor paten IDP000072482. Kemudian, Menkumham mengesahkan komponen itu pada 2 November 2021.

“Perlindungan paten untuk invensi tersebut diberikan selama 20 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan, berdasarkan pasal 22 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten,” demikian bunyi sertifikat tersebut.

Yussi tidak sendirian. Pada penelitian yang dibiayai Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini, ia menggarapnya dengan 4 peneliti lain yaitu, Yudi Yulius Maulan, ST, Arief Budi Santiko, S.T, Dr. Ir. Yuyu Wahyu, MT, dan Ir. Mashury Wahab, M. Eng.

Pria kelahiran Kalimantan Selatan ini menceritakan, proses terbitnya hak paten hingga bertahun-tahun karena Kemenkumham melakukan penelusuran sampai dipastikan tidak ada yang sama dengan milik orang lain.

“Kalau paten itu proses lama karena harus memeriksa satu per satu invensi orang lain. Bisa 5 hingga 6 tahun. Paling cepat 3 tahun.

Ia menambahkan, hak paten yang diperoleh adalah komponen radar pada radio frekuensi (RF) yang berfungsi seperti sebagai motor atau mesinnya.

“Kalau ada FR tidak akan jalan,” katanya. “Selama ini kan radar itu sudah ada, tapi jenisnya beda-beda. Ada radar navigasi, radar udara, senjata, dan komponennya itu biasanya standar. Nah, hak paten ini ada keterbaruan dari radio frekuensi ini,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, hasil temuannya itu saat ini sudah digunakan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Untuk diketahui, hak cipta dan paten itu berbeda. Paten diatur secara khusus dalam UU No.13 Tahun 2016 sedangkan hak cipta diatur dalam UU No. 28 Tahun 2014. Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensi tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya.

Sedangkan hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (AA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search